KONTAN.CO.ID - Konflik di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak signifikan terhadap pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik tersebut tidak hanya mengganggu rantai pasok dan logistik, tetapi juga memengaruhi keputusan strategis sejumlah perusahaan, termasuk penundaan penawaran umum perdana saham (IPO) hingga pemangkasan dividen. Melansir
Reuters Jumat (24/4), sejumlah perusahaan global memilih bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian pasar.
Baca Juga: China Larang Ekspor ke Eropa, Tujuh Perusahaan Kena Sanksi Baru Operator telekomunikasi asal Rumania, Digi, misalnya, memutuskan menunda rencana pencatatan unit bisnisnya di Spanyol. Langkah ini diambil karena kondisi geopolitik yang dinilai mengaburkan prospek penawaran saham. Hal serupa dilakukan perusahaan teknologi outdoor asal Swedia, Dometic Group. Perusahaan ini menarik proposal dividen sebesar 1 krona Swedia per saham dan memilih tidak membagikan dividen untuk tahun 2025. Keputusan tersebut diambil menyusul meningkatnya ketidakpastian ekonomi serta melemahnya permintaan pasar. Di sektor pariwisata, agen perjalanan daring Loveholidays juga dikabarkan menunda rencana IPO di London yang nilainya bisa mencapai 1 miliar pound sterling.
Baca Juga: AS Longgarkan Aturan Ganja, Picu Perubahan Besar Industri Senilai US$47 Miliar Penundaan ini dipicu oleh sentimen pasar yang memburuk serta gangguan perjalanan akibat konflik. Sementara itu, perusahaan otomasi konstruksi sumur asal Kanada, McCoy Global, memutuskan menghentikan dividen kuartalan demi menjaga fleksibilitas keuangan. Perusahaan menyebut konflik Timur Tengah telah menciptakan ketidakpastian serta mengganggu jadwal logistik dan pengiriman. Di Asia, perusahaan fintech India yang didukung Walmart, PhonePe, juga menunda rencana IPO. Perusahaan menyatakan akan melanjutkan proses tersebut setelah kondisi pasar kembali stabil. Perusahaan ritel Jepang, Seven & I Holdings, turut menunda rencana pencatatan bisnisnya di Amerika Utara. Jadwal IPO yang semula direncanakan pada paruh kedua 2026 diundur menjadi tahun fiskal 2027 atau lebih lambat, dengan alasan ketidakpastian pasar dan risiko terhadap daya beli konsumen.
Baca Juga: Uni Eropa Perketat Sanksi, Impor Kondesat LNG Rusia Dihentikan 2027 Maskapai Turkish Airlines juga memilih tidak membagikan dividen dari laba bersih 2025. Perusahaan lebih memilih menahan kas guna menjaga ketahanan finansial di tengah kondisi global yang bergejolak. Selain itu, platform pendidikan eksekutif XED Executive Development dari India juga membatalkan rencana IPO. Keputusan ini dipengaruhi oleh lemahnya sentimen pasar serta kendala operasional akibat konflik, termasuk keterlambatan proses verifikasi investor. Secara keseluruhan, konflik Timur Tengah telah memicu gelombang kehati-hatian di kalangan korporasi global. Ketidakpastian yang tinggi membuat perusahaan lebih fokus menjaga likuiditas dan menunda ekspansi melalui pasar modal, setidaknya hingga kondisi kembali kondusif.