Perang Timur Tengah Makin Membara! AS Malah Sukses Jualan Senjata Rp 260 Triliun



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat resmi menyetujui kesepakatan penjualan senjata raksasa senilai US$ 16,5 miliar  atau setara dengan Rp 260 triliun, kepada negara-negara kaya minyak seperti Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Yordania. 

Langkah besar jualan senjata ini diambil Washington seiring kian membara di kawasan Timur Tengah akibat konflik terbuka dengan Iran.

Baca Juga: Trump Puji Jepang Aktif Soal Iran, Sindir NATO dalam Pertemuan dengan PM Takaichi


Sebagian besar dari dana tersebut, yakni sebesar US$ 8,4 miliar, dialokasikan untuk Uni Emirat Arab guna pengadaan jet tempur F-16, drone canggih, sistem radar, dan rudal. Departemen Luar Negeri menyebut UEA sebagai "kekuatan stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Timur Tengah."

Sementara itu, Kuwait akan menerima sistem pertahanan udara dan radar senilai US$ 8 miliar, dan Yordania mendapatkan kucuran US$ 70,5 juta untuk dukungan amunisi serta pesawat.

Menanti Kodok Berbulu, Penerapan Pajak Ekspor Batubara di Tengah Badai Minyak 2026
© 2026 Konten oleh Kontan

Jalur Cepat 

Menariknya, kesepakatan ini tidak perlu melewati restu Kongres. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menggunakan wewenang khusus dengan menyatakan bahwa saat ini sedang terjadi kondisi darurat yang mengharuskan penjualan senjata dilakukan segera demi keamanan nasional AS dan sekutunya.

Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah pemerintahan Presiden Donald Trump bersama Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Perang ini memicu kekhawatiran akan konflik berkepanjangan dan memukul ekonomi global.

AS mengklaim telah menyerang dan menghancurkan fasilitas minyak Iran seperti di Pulau Kharg.

Sementara Iran membalas dengan mengancam infrastruktur energi sekutu AS dan memblokade Selat Hormuz.

Baca Juga: PM Takaici Temui Presiden Trump, Jepang Borong Minyak dari AS: Amankan Energi

Harga BBM Melonjak

Menurut data AAA, akibat memanasnya perang AS di Iran ini, harga bensin melonjak tajam dari rata-rata US$ 3,10 per galon bulan lalu menjadi  US$ 3,88 pada Kamis kemarin.

Meski ada kesepakatan jumbo jualan senjata dengan raksasa pertahanan seperti Lockheed Martin, RTX Corporation, dan Northrop Grumman, harga saham ketiga perusahaan tersebut justru memerah di Wall Street. Lockheed Martin turun 0,65%, sementara RTX merosot hingga 1,3%.

Di sisi lain, Pentagon kini tengah berupaya meminta tambahan anggaran sebesar US$ 200 miliar kepada Kongres untuk mendanai operasional perang yang belum ada tanda-tanda kemenangan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan perlunya suntikan dana besar tersebut.

"Jelas sekali, butuh uang yang banyak untuk menumpas orang-orang jahat," ujar Hegseth dalam konferensi pers Kamis pagi.

Jika permintaan tambahan anggaran perang ini disetujui, diharapkan bisa menambah kekuatan militer AS yang sudah membelanjakan anggaran dengan angka fantastis US$ 1 triliun untuk tahun fiskal 2026. 

Kenaikan anggaran perang ini menyusul kebijakan pemotongan pajak dan penambahan anggaran One Big Beautiful Bill Act yang diteken Presiden Donald Trump Juli tahun lalu.

Baca Juga: Eskalasi Timur Tengah Tekan Rupiah, Analis Proyeksi Bisa Tembus Rp 17.700