KONTAN.CO.ID - Kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan ke empat kota di wilayah selatan Arab Saudi pada Selasa (8/9/2026). Serangan menggunakan drone dan rudal tersebut melukai 73 orang serta memicu kebakaran di sejumlah fasilitas minyak. Melansir
Reuters, serangan ini menjadi salah satu eskalasi terbesar terhadap Arab Saudi sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada Februari lalu.
Baca Juga: Israel Ambil Langkah Balasan, Konsulat Inggris di Yerusalem Timur Ditutup Serangan juga berpotensi memperluas dampak ekonomi perang Timur Tengah terhadap pasokan energi global. Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk di Yaman termasuk ibu kota Sanaa, mengatakan telah melancarkan operasi besar jauh ke dalam wilayah Arab Saudi. Kelompok tersebut menggunakan drone dan rudal untuk menyerang pangkalan udara Saudi di Khamis Mushait. Serangan juga menyasar fasilitas milik perusahaan minyak negara Arab Saudi di Abha, Najran yang berada di perbatasan Yaman, serta Jazan, kota pelabuhan utama di Laut Merah yang memiliki kilang minyak dan pembangkit listrik. Citra satelit NASA menunjukkan, kepulan asap hitam tebal di atas kilang Jazan serta kolom asap putih yang muncul dari pusat distribusi minyak di Abha. Otoritas Arab Saudi mengonfirmasi kebakaran di sejumlah lokasi dan mengatakan 73 orang terluka, termasuk perempuan dan anak-anak. Belum tersedia gambar yang terverifikasi dari lokasi kejadian yang menunjukkan dampak serangan di kota-kota Saudi. Saksi mata juga tidak dapat dihubungi di tengah ketatnya kontrol media di negara tersebut. Media yang dikuasai Houthi kemudian melaporkan bahwa pesawat tempur Arab Saudi melancarkan serangan udara di wilayah Jubah, sebelah timur Sanaa, serta Provinsi Taiz di barat daya Yaman.
Baca Juga: Surplus Dagang China Tembus 360,6 Miliar Euro, UE Desak Langkah Konkret Harga Minyak Kembali Mendekati US$ 100 Eskalasi konflik turut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Setelah relatif tenang pada Agustus, pertempuran di kawasan Teluk kembali meningkat ketika Iran dan Amerika Serikat saling bertukar serangan. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$ 99,46 per barel pada Selasa, level tertinggi sejak 24 Juli. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencapai level tertinggi sejak 8 Juni. Kedua harga acuan tersebut kemudian sedikit turun pada perdagangan sore di Eropa, tetapi masih berada di zona penguatan harian.
Baca Juga: Korea Selatan Kirim Tim ke Selat Hormuz, Belum Putuskan Pengerahan Pasukan Serangan Houthi terhadap wilayah barat daya Arab Saudi berpotensi memperbesar dampak ekonomi perang karena dapat mengganggu pasokan energi Timur Tengah di luar kawasan Selat Hormuz yang saat ini mengalami blokade. Arab Saudi telah memimpin koalisi negara-negara Arab dalam perang melawan Houthi di Yaman selama lebih dari satu dekade. Konflik tersebut sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir, tetapi gencatan senjata kini runtuh dan Houthi kembali mengancam jalur pelayaran di sekitar pintu masuk Laut Merah. Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan dari berbagai arah terhadap wilayah yang dikuasai Houthi. Pemerintah Yaman yang berbasis di wilayah selatan mengatakan ingin merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai Houthi. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebut lebih dari 18.500 orang meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran di sepanjang pesisir barat Yaman dalam tiga hari terakhir.
Baca Juga: Prancis Mulai Proses Larangan Produk dari Permukiman Israel di Tepi Barat Konflik Mengancam Pasokan Energi Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi Turki al-Malki mengatakan, koalisi akan mengambil langkah operasional yang diperlukan untuk mencegah serangan Houthi. Sementara itu, juru bicara Houthi Yahya Saree menuduh Riyadh memperluas konflik melalui serangan udara ke Yaman dan memperingatkan akan memberikan respons. Konflik yang lebih luas di kawasan Teluk kini berkembang menjadi adu tekanan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara menggunakan tekanan ekonomi dan blokade untuk memaksa lawannya mengubah sikap.
Baca Juga: Helikopter Layanan Dokter Terbang Jatuh di Sarawak Malaysia, 5 Orang di Dalam Departemen Keuangan AS pada Selasa juga mengumumkan sanksi baru terkait sektor penerbangan yang disebut bertujuan menghentikan operasional maskapai penerbangan Iran. Washington berupaya meningkatkan aliran minyak ke pasar global dengan mengarahkan kapal melalui Selat Hormuz, sekaligus membatasi ekspor minyak Iran melalui blokade. Sebaliknya, Iran mengatakan akan memperketat akses di Selat Hormuz dan segera mengumumkan rincian mengenai “zona pengecualian maritim” yang akan membentang dari perimeter blokade AS, melalui selat tersebut hingga ke kawasan Teluk. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran juga mengatakan telah menangkap kapal selam nirawak milik Amerika Serikat di mulut Selat Hormuz pada Selasa. Klaim tersebut belum mendapat konfirmasi langsung dari Washington. Meski serangan AS telah melemahkan kekuatan konvensional Iran dan memberikan tekanan terhadap ekonominya, rudal dan drone Iran masih mampu menjangkau pangkalan militer AS di kawasan serta kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Selat tersebut sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak global.
Baca Juga: Gaji Naik Rp 30 M, PM Negeri Tetangga Ini Sumbangkan Seluruh Kenaikan untuk Sosial Konflik telah memicu kelangkaan minyak mentah dan produk hasil kilang di sejumlah pasar. Di Amerika Serikat, harga rata-rata eceran solar kini menembus rekor lebih dari US$ 5,90 per galon. Presiden AS Donald Trump mengatakan harga minyak dan bahan bakar akan turun tajam apabila Amerika Serikat memenangkan perang melawan Iran. “Minyak akan turun drastis ketika kami MENANG dalam perang dengan Iran,” tulis Trump melalui media sosial.