KONTAN.CO.ID - DUBAI/CAIRO. Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan ke sejumlah kota di Arab Saudi. Eskalasi ini memperluas dampak perang terhadap salah satu sekutu utama Amerika Serikat di kawasan sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Pada Selasa (8/9/2026), Houthi menyerang empat kota di wilayah selatan Arab Saudi. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan 73 orang terluka dan memicu kebakaran di sejumlah fasilitas minyak. Di saat pasar minyak global mulai memperhitungkan risiko serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi, militer Amerika Serikat juga meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Dekati US$ 100, Dipicu Serangan Baru di Timur Tengah Komando Pusat AS (U.S. Central Command) menyatakan telah menghancurkan lima kapal pengangkut minyak mentah Iran pada Selasa. Militer AS juga merilis video serangan tersebut dan menyebut tindakan itu sebagai respons terhadap serangan Garda Revolusi Iran (IRGC) terhadap kapal perang Angkatan Laut AS menggunakan rudal balistik dalam dua hari sebelumnya. Tidak ada warga Amerika Serikat yang dilaporkan terluka dalam serangan tersebut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Amerika Serikat akan terus merespons setiap upaya Iran menyerang kapal perang AS. "Iran terus mencoba menyerang kapal angkatan laut AS, dan setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukannya, mereka akan kehilangan kapal tanker," kata Rubio kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke Kolombia.
Iran Balas Serang Pangkalan AS di Yordania
Iran kemudian melakukan serangan balasan dengan meluncurkan rudal balistik ke sebuah pangkalan militer AS di dekat Al Azraq, Yordania, menurut pernyataan IRGC yang disiarkan media pemerintah Iran. Media pemerintah Iran juga menayangkan video yang disebut menunjukkan peluncuran rudal Iran menuju Yordania. Iran mengklaim serangan tersebut menimbulkan kerusakan besar. Namun, Yordania menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 18 dari 20 rudal Iran. Dua rudal lainnya jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni. Pemerintah Yordania menyatakan tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.
Baca Juga: Indeks Nikkei Reli, Antusiasme Terhadap AI Mengesampingkan Kekhawatiran Perang Iran Iran sebelumnya telah beberapa kali menyerang sekutu Amerika Serikat di kawasan selama perang berlangsung, termasuk Yordania. Salah satu serangan pada Juli lalu menewaskan dua personel militer AS. Dalam pernyataan terpisah, IRGC juga mengklaim telah menyerang dua kapal perusak milik AS. Hingga laporan ini dibuat, militer Amerika Serikat belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut. Iran juga mengancam akan menargetkan kapal tanker minyak yang berada di pelabuhan Kuwait dan Bahrain. Sementara itu, sumber keamanan maritim melaporkan sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) mengalami kerusakan di pelabuhan Khor Fakkan, Uni Emirat Arab. Namun, belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Harga Minyak Brent Kembali Melonjak
Eskalasi terbaru antara Iran dan Amerika Serikat langsung berdampak terhadap pasar energi global. Setelah sempat relatif tenang sepanjang Agustus, Iran dan AS kembali saling menyerang dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah acuan Brent ke level tertinggi sejak 23 Juli. Harga Brent bahkan kembali melonjak sekitar US$1 per barel setelah serangan terhadap pangkalan AS di Yordania. Meski demikian, harga minyak masih berada di bawah US$100 per barel. Pasar dinilai masih memperhitungkan bahwa gangguan pasokan energi sejauh ini belum sampai menyebabkan penghentian besar-besaran terhadap arus minyak global. Perang di kawasan tersebut berlangsung dalam pola jeda sementara yang kemudian diikuti kembali oleh eskalasi. Iran masih memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan rudal dan drone terhadap negara-negara tetangganya. Teheran juga terus memiliki kemampuan untuk mengancam lalu lintas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Konflik Iran-AS Memanas, Harga Minyak Mendekati US$ 100 per Barel Hal tersebut terjadi meski serangkaian serangan Amerika Serikat telah melemahkan sebagian besar kekuatan konvensional Iran dan memberikan tekanan lebih besar terhadap kondisi ekonominya.
Houthi Perluas Serangan ke Infrastruktur Minyak Saudi
Serangan Houthi menjadi salah satu perkembangan paling mengkhawatirkan bagi pasar energi global. Kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk di Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, telah berulang kali mengganggu lalu lintas pelayaran di sisi lain Semenanjung Arab, khususnya di pintu masuk Laut Merah. Pada Selasa, Houthi menyatakan telah melancarkan operasi besar jauh ke dalam wilayah Arab Saudi. Kelompok tersebut mengklaim menggunakan drone dan rudal untuk menyerang pangkalan udara Saudi di Khamis Mushait serta aset perusahaan minyak negara Saudi di Abha, Najran dan Jazan. Citra satelit NASA menunjukkan kepulan asap hitam tebal di atas kilang Jazan. Sementara itu, kepulan asap putih terlihat berasal dari pusat distribusi minyak di Abha. Otoritas Arab Saudi mengonfirmasi adanya kebakaran di sejumlah lokasi. Pemerintah juga menyatakan perempuan dan anak-anak termasuk di antara 73 orang yang terluka. Jumlah korban luka tersebut menunjukkan bahwa serangan Houthi kali ini menjadi salah satu serangan terbesar terhadap Arab Saudi sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada Februari.
Ancaman Baru bagi Pasokan Energi Global
Eskalasi serangan Houthi terhadap wilayah barat daya Arab Saudi berpotensi memperbesar dampak ekonomi global dari perang Timur Tengah. Pasalnya, gangguan tidak hanya berpotensi terjadi di Selat Hormuz, tetapi juga dapat meluas ke jalur distribusi energi di sekitar Laut Merah dan kawasan Teluk. Arab Saudi telah memimpin koalisi negara-negara Arab yang memerangi Houthi di Yaman selama lebih dari satu dekade. Konflik tersebut bermula setelah Houthi menggulingkan pemerintahan Yaman dari ibu kota. Situasi perang di Yaman sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir. Namun, gencatan senjata yang sebelumnya membantu menurunkan intensitas konflik kini kembali runtuh. Konflik yang lebih luas di kawasan Teluk kini berkembang menjadi adu kekuatan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua pihak berusaha menggunakan tekanan ekonomi melalui blokade untuk memaksa lawannya mengurangi eskalasi.
Baca Juga: Rusia Lancarkan Serangan Besar-besaran ke Ukraina, Lima Orang Tewas Washington berupaya meningkatkan pasokan minyak ke pasar dunia dengan mengarahkan kapal-kapal melewati Selat Hormuz. Di sisi lain, Amerika Serikat juga berusaha membatasi ekspor minyak Iran melalui blokade.
AS Hancurkan Kapal Tanker Iran
Komando Pusat AS menyatakan lima kapal tanker yang dihancurkan pada Selasa merupakan bagian dari jaringan perdagangan minyak bayangan yang digunakan untuk membiayai IRGC dan kelompok-kelompok proksi Iran di kawasan.
Iran selama bertahun-tahun mendukung kelompok yang disebutnya sebagai "Poros Perlawanan" atau Axis of Resistance. Jaringan tersebut mencakup Hamas, Hizbullah di Lebanon, kelompok milisi Syiah di Irak, serta Houthi di Yaman. Dengan semakin luasnya serangan terhadap fasilitas energi, kapal tanker dan infrastruktur militer, risiko terhadap rantai pasok energi global kini meningkat. Pasar minyak akan terus mencermati apakah eskalasi tersebut berkembang menjadi gangguan fisik terhadap produksi dan distribusi minyak dalam skala besar. Jika serangan meluas ke lebih banyak fasilitas energi atau jalur pelayaran strategis, tekanan terhadap harga minyak berpotensi semakin besar.