Perang Ukraina dan Timur Tengah Kuras Persediaan Rudal Patriot, Ini Fakta-faktanya



KONTAN.CO.ID - Sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat (AS) menghadapi lonjakan permintaan di tengah perang Ukraina dan meluasnya konflik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut membuat persediaan rudal pencegat Patriot di berbagai negara semakin menipis.

Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Melonjak 2% Senin (10/8), Saham AI dan Chip Jadi Penopang


Sistem Patriot pertama kali digunakan dalam Perang Teluk pada 1991. Kini, sistem pertahanan udara tersebut menjadi salah satu senjata utama yang diandalkan Ukraina untuk menghadapi serangan rudal balistik Rusia.

Ukraina saat ini membutuhkan tambahan rudal pencegat Patriot untuk melindungi wilayahnya dari serangan rudal Rusia yang terjadi hampir setiap malam.

Namun, perang antara AS-Israel dan Iran juga telah menguras persediaan rudal Patriot milik AS serta negara-negara Teluk.

Sejumlah negara Eropa juga dilaporkan menahan persediaan rudal mereka karena membutuhkan sistem pertahanan tersebut untuk menghadapi potensi ancaman terhadap wilayah masing-masing.

Baca Juga: Bursa Australia Melemah Senin (10/8), Saham Westpac Anjlok Jelang Keputusan RBA

Apa Itu Sistem Patriot?

Patriot merupakan singkatan dari Phased Array Tracking Radar for Intercept on Target. Sistem ini merupakan sistem pertahanan rudal permukaan-ke-udara bergerak yang dikembangkan oleh perusahaan pertahanan AS, Raytheon Technologies.

Dikembangkan sejak 1980-an, sistem Patriot telah mengalami berbagai modernisasi untuk meningkatkan kemampuan dan jangkauan operasionalnya. Sistem tersebut direncanakan tetap digunakan hingga 2048.

Satu unit baterai Patriot umumnya terdiri dari radar, sistem kendali, unit pembangkit listrik, peluncur rudal serta kendaraan pendukung.

Sistem tersebut dapat digunakan untuk mencegat pesawat, rudal balistik taktis dan rudal jelajah, tergantung jenis rudal pencegat yang digunakan.

Baca Juga: Jepang Catat Defisit Transaksi Berjalan Pertama dalam 17 Bulan

Bagaimana Kemampuan Rudal Patriot?

Kemampuan sistem Patriot berbeda-beda sesuai jenis rudal pencegatnya.

Rudal PAC-2 menggunakan hulu ledak fragmentasi yang meledak di sekitar sasaran.

Baca Juga: Dolar AS Tertekan Dekati Level Terendah Dua Bulan Senin (10/8), Jelang Data Inflasi

Sementara itu, keluarga rudal PAC-3 menggunakan teknologi hit-to-kill, yakni menghancurkan sasaran dengan menabraknya secara langsung.

Raytheon memproduksi rudal pencegat PAC-2 GEM-T yang dapat digunakan untuk menghadapi rudal balistik jarak pendek, rudal jelajah maupun pesawat musuh.

Sementara itu, Lockheed Martin memproduksi PAC-3 Missile Segment Enhancement (MSE), varian yang lebih canggih dan dapat menghadapi rudal balistik jarak lebih jauh, rudal jelajah, pesawat serta senjata hipersonik.

Pada Juli 2026, Lockheed Martin memperkenalkan rudal pencegat baru PAC-3 Adapted Capability-Effector (ACE).

Perusahaan tersebut menyebut rudal baru ini dapat memiliki biaya sekitar setengah dari varian sebelumnya, dengan kemampuan menghadapi rudal balistik jarak pendek, pesawat dan rudal jelajah.

Radar Patriot memiliki jangkauan lebih dari 150 kilometer dan dapat melacak hingga 100 target potensial secara bersamaan, berdasarkan informasi NATO pada 2015.

Meski awalnya tidak dirancang untuk menghadapi senjata hipersonik, AS pada Mei 2023 mengonfirmasi bahwa Ukraina menggunakan sistem Patriot untuk menembak jatuh rudal Kinzhal Rusia yang diklaim Moskow sebagai rudal hipersonik.

Baca Juga: Iran Syaratkan Kompensasi dan Pencabutan Sanksi AS untuk Buka Selat Hormuz

Digunakan 19 Negara

Sistem Patriot saat ini telah digunakan secara luas oleh berbagai negara. Raytheon menyebut telah membangun dan mengirimkan lebih dari 240 unit fire unit Patriot.

Sebanyak 19 negara mengoperasikan sistem Patriot, termasuk AS, Jerman, Polandia, Ukraina, Jepang, Qatar, Arab Saudi dan Mesir.

Dari jumlah tersebut, 16 negara telah menggunakan rudal PAC-3 MSE terbaru. Sedikitnya enam hingga delapan negara juga telah meminta tambahan rudal untuk mengisi kembali persediaan yang mulai menipis.

Harga Mencapai Miliaran Dolar

Sistem Patriot merupakan salah satu sistem pertahanan udara dengan biaya sangat tinggi.

Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), satu baterai Patriot baru membutuhkan biaya lebih dari US$ 1 miliar.

Biaya tersebut terdiri dari sekitar US$ 400 juta untuk sistem pertahanan dan US$ 690 juta untuk rudal dalam satu baterai.

Sementara itu, satu rudal pencegat PAC-3 diperkirakan berharga sekitar US$ 4 juta hingga US$ 5 juta per unit.

Baca Juga: Transfer Rodri: Barcelona Ajukan Rp1,23 T, Man City Minta Lebih

Persediaan Rudal Menipis

Jumlah persediaan rudal Patriot di masing-masing negara bersifat rahasia. Namun, CSIS memperkirakan sekitar 65% rudal pencegat Patriot milik AS telah digunakan sepanjang Februari hingga Juli 2026.

Persediaan AS diperkirakan turun menjadi kurang dari 850 rudal, dari sekitar 2.330 rudal sebelum perang dengan Iran dimulai.

Persediaan di negara-negara Teluk juga dilaporkan mengalami penurunan signifikan. Beberapa negara Eropa turut mengirimkan sebagian persediaan mereka ke Ukraina untuk membantu pertahanan negara tersebut menghadapi Rusia.

AS juga tengah membahas kemungkinan memberikan izin kepada Ukraina untuk memproduksi rudal pencegat Patriot.

Pembahasan tersebut mencakup opsi bagi Ukraina untuk memproduksi sejumlah komponen, sementara proses perakitan akhir dilakukan di negara Eropa lainnya.

Baca Juga: Iran Syaratkan Kompensasi dan Pencabutan Sanksi AS untuk Buka Selat Hormuz

Untuk meningkatkan kapasitas produksi, Angkatan Darat AS pada bulan lalu memberikan kontrak kepada Lockheed Martin senilai hingga US$ 58,6 miliar untuk memproduksi rudal pencegat Patriot.

Lonjakan kebutuhan akibat perang di Ukraina dan Timur Tengah menunjukkan tantangan besar dalam menjaga ketersediaan rudal Patriot.

Dengan proses produksi yang membutuhkan waktu dan biaya besar, sejumlah negara kini menghadapi kebutuhan untuk menyeimbangkan dukungan militer kepada sekutu dengan kebutuhan mempertahankan kemampuan pertahanan nasional.