Perbankan Atur Strategi Pendanaan, Ini Rekomendasi UOB Kay Hian



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meski masa-masa sulit mulai berlalu, sejumlah bank berpotensi masih perlu mengatur ketat strategi pendanaan untuk memastikan ketersediaan likuiditas.

Riset UOB Kay Hian mencatat, kondisi pendanaan perbankan membaik sejak kuartal II-2026. Meski, biaya dana masih tinggi. “Menurut diskusi kami baru-baru ini dengan sejumlah bank, secara umum periode April–Juni 2026 merupakan masa tersulit untuk likuiditas,” tulis Analis UOB Kay Hian Posmarito Pakpahan dalam riset 21 September 2026.

Pada masa-masa sulit, Posmarito bilang perbankan menerapkan strategi berbeda: bank swasta selektif dalam penyaluran kredit, sementara Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) memperkuat pendanaan di luar dana pihak ketiga (DPK).


Posmarito menyoroti kredit PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang tumbuh 10,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) per Agustus 2026, sejalan dengan pertumbuhan dana murah (current account and savings account/CASA) yang tumbuh 10,8% yoy. Rasio kredit terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) BCA ada di 81%.

Baca Juga: Kredit Ritel Masih Tertekan, Begini Rekomendasi BRI Danareksa untuk Sektor Perbankan

Di sisi lain, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan pertumbuhan kredit 17,6% yoy dalam periode yang sama, mengungguli pertumbuhan CASA yang cuman sebesar 8,2% yoy. LDR Bank Mandiri mencapai 94,4%.

Namun jika mengecualikan penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) dari pemerintah, LDR bank ditaksir mencapai 101%. Jika dana SAL ditarik, otomatis Himbara memang bakal mengalami tantangan likuiditas.

Posmarito memandang, BMRI memang lebih bergantung pada pendanaan di luar DPK. Bank pelat merah ini punya total kisaran Rp 341 triliun dalam bentuk repo, pinjaman, liabilitas kepada bank lain, dan surat berharga yang diterbitkan. Jumlah ini setara 21% dari kredit bank.

Sebagai perbandingan, BBCA cuman punya Rp 28 triliun dalam bentuk repo, pinjaman, liabilitas kepada bank lain, dan surat berharga yang diterbitkan atau setara 3% dari total kredit.

Sejatinya, dalam pandangan Posmarito, sumber-sumber pendanaan ini memang memberi ruang tambahan untuk mendanai pertumbuhan neraca di tengah ketatnya LDR. Hanya saja, biaya yang dikeluarkan relatif lebih mahal dan sifatnya lebih sensitif terhadap kondisi pasar.

Baca Juga: OJK Dorong Sinergi dan Inovasi untuk Perkuat Keuangan Digital

Modal Menopang

Dalam kondisi likuiditas yang kian ketat, Posmarito memandang modal semakin relevan untuk menopang pertumbuhan kredit Himbara.

UOB Kay Hian mencatat, hingga semester I-2026, modal Tier 1 PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 199 bps menjadi 20,4%, BMRI turun 180 bps menjadi 16,4%, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 270 bps menjadi 15,5%.

Penurunan ini diproyeksi bakal pulih melalui laba pada semester II-2026. “Mengingat rasio pada semester I-2026 sudah mencerminkan pembayaran dividen tahun 2025,” sebut Posmarito.

Namun, kalau pertumbuhan kredit bank terus melampaui pembentukan modal internal, mempertahankan laju pertumbuhan saat ini akan membutuhkan retensi laba yang lebih besar.

Posmarito bilang BBRI telah mengeluarkan panduan mengenai penurunan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR), sementara BBNI memperkirakan akan mempertahankan DPR 2026 sekitar 65% sebelum berpotensi menurunkannya pada tahun berikutnya.

Selain soal dana SAL, Himbara juga dibebankan dengan ketidakpastian pembayaran kredit ke Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Baca Juga: Pemerintah Dorong Kredit Tekstil, Bank Ungkap Syarat Debitur yang Dibidik

Rekomendasi

Posmarito menadang valuasi saham perbankan sejatinya sudah murah, tetapi UOB Kay Hian tetap selektif karena pertumbuhan kredit Himbara sejatinya memberatkan pendanaan dan permodalan bank.

“Di BMRI, trade-off pendanaan menjadi lebih besar. Likuiditas yang mendasari lebih ketat setelah disesuaikan dengan SAL. Namun, akses terhadap berbagai sumber pendanaan dan rasio likuiditas regulasi yang memadai memberikan sejumlah penyangga,” jelasnya.

UOB Kay Hian bakal memantau pendanaan organik yang lebih kuat, stabilisasi rasio permodalan, serta bukti yang lebih jelas bahwa pertumbuhan neraca yang terjadi belakangan ini mampu menghasilkan imbal hasil yang memadai setelah memperhitungkan risiko, sebelum menjadi lebih positif terhadap saham-saham tersebut.

Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk BBCA dan hold untuk BBRI, BMRI, serta BBNI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News