KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75%, perbankan mulai mencermati perkembangan biaya dana (
cost of fund/CoF). Wholesales Director PT Bank KB Indonesia Tbk Widodo Suryadi mengatakan, biaya dana KB Bank per Juni 2026 memang mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya sejalan dengan penyesuaian BI Rate. "Sejalan dengan penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia pada Mei lalu, biaya dana KB Bank per Juni 2026 memang bergerak naik dibandingkan periode sebelumnya. Tren ini dirasakan industri perbankan secara umum, sehingga kami melihatnya sebagai konsekuensi wajar dari siklus suku bunga," ujar Widodo kepada Kontan, Selasa (14/7/2026). Widodo mengatakan, KB Bank terus memantau perkembangan biaya dana dan memastikan pengelolaannya tetap sejalan dengan rencana bisnis hingga akhir tahun.
Baca Juga: WOM Finance Terbitkan Obligasi Sebesar Rp 2,3 Triliun pada Semester I-2026 Untuk menahan kenaikan biaya dana, KB Bank akan lebih selektif dalam memberikan suku bunga khusus pada penghimpunan dana sesuai kebutuhan likuiditas. Di saat yang sama, KB Bank juga memperkuat porsi dana murah (CASA) agar struktur pendanaan lebih efisien dan tidak bergantung pada dana berbiaya tinggi. Hingga Mei 2026, dana pihak ketiga (DPK) KB Bank tercatat tumbuh 6,03% secara tahunan menjadi Rp 44,08 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan penghimpunan giro, tabungan, dan deposito. "Dari sisi kredit, kami juga akan lebih berhati-hati dalam menetapkan suku bunga kredit dengan mempertimbangkan biaya dana, profil risiko, dan kondisi pasar," ujarnya. Sebelumnya, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, biaya dana BCA masih relatif terjaga berkat keunggulan bisnis perbankan transaksi yang dimiliki perseroan. "
Cost of fund BCA relatif terjaga sehubungan dengan keunggulan perbankan transaksi yang dimiliki BCA," ujar Hera kepada Kontan pada Selasa (14/7/2026). Per Maret 2026, CASA BCA tercatat mencapai Rp 1,089 triliun atau tumbuh 11,2% secara tahunan. Porsi CASA mendominasi sekitar 85,2% dari total dana pihak ketiga (DPK), yang dinilai mendukung stabilitas biaya dana. Tren serupa juga terlihat di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Hingga akhir Maret 2026, DPK BRI mencapai Rp 1,555 triliun, naik 9,4% secara tahunan. Porsi CASA meningkat menjadi 68,07% dari total DPK, lebih tinggi dibandingkan 65,77% pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Pangsa Pasar Perbankan Syariah Masih Mini, OJK Pacu Lahirnya Penantang BSI Perbaikan struktur pendanaan tersebut mendorong biaya dana BRI turun menjadi 2,33% pada kuartal I-2026 dari 2,98% pada periode yang sama tahun sebelumnya. PT Bank Mandiri Tbk juga mencatat biaya dana sebesar 1,97% pada kuartal I-2026, turun dari 2,15% pada kuartal sebelumnya. Perseroan menargetkan biaya dana tetap berada di kisaran 1,9% hingga akhir tahun. Komponen biaya dana terbesar masih berasal dari deposito sebesar 3,96%, sedangkan biaya dana giro dan tabungan masing-masing sebesar 1,83% dan 0,34%. Sementara itu, Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara Tbk Myrdal Gunarto mengatakan, kenaikan BI Rate memang akan mendorong penyesuaian biaya dana perbankan. Namun, dampaknya tidak terjadi secara langsung. "Kalaupun ada penyesuaian terkait
cost of fund, ya pasti ada. Tapi ada lagging juga, jadi tidak langsung," kata Myrdal kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga: Clipan Finance Waspadai Sejumlah Faktor yang Bisa Pengaruhi NPF hingga Akhir 2026 Menurutnya, tekanan terhadap biaya dana saat ini juga dipengaruhi ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik, kenaikan harga minyak, hingga penguatan dolar Amerika Serikat yang membuat industri perbankan cenderung bersikap defensif. Meski demikian, Myrdal memperkirakan dampak kenaikan biaya dana terhadap
net interest margin (NIM) dan profitabilitas perbankan masih akan terbatas. "Kalaupun turun juga, kalau kita lihat tidak banyak," ujarnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News