KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tahun lalu, perbankan makin giat menunjukkan komitmennya di sektor hijau. Itu ditunjukkan lewat pembiayaan dan berbagai inisiatif berkelanjutan. Misalnya PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA). Bank swasta terbesar ini mencatatkan laju pertumbuhan kredit hijau yang positif, yang mana hingga akhir 2025 lalu mencapai 14,5% secara tahunan menjadi Rp 113 triliun. Pertumbuhan tersebut meningkat ketimbang tahun sebelumnya yang sebesar 13,8% yoy. Pada dasarnya capaian tersebut sejalan dengan tren positif kredit berkelanjutan bank yang tahun lalu sudah setara 25,8% portofolio pembiayaan bank, senilai Rp 255 triliun.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menjelaskan, tren itu salah satunya didukung pertumbuhan pembiayaan ke sektor energi baru terbarukan (EBT) yang mencapai dua kali lipat menjadi Rp 6,2 triliun, serta kredit kendaraan bermotor listrik yang tumbuh 53% yoy mencapai Rp 3,6 triliun.
Baca Juga: BCA Targetkan Pertumbuhan Penyaluran KPR 6%–7% pada Tahun 2026 Hendra menambahkan, BCA juga melakukan berbagai upaya mengurangi emisi karbon, di antaranya melalui pengelolaan limbah dan inisiatif-inisiatif keberlanjutan lainnya seperti digitalisasi, gedung ramah lingkungan, dan konservasi alam. “Potensi pengurangan emisi operasional mencapai 5.575 ton karbon dioksida ekuivalen,” ungkap Hendra dalam keterangannya. Permata Bank juga menunjukkan semangat serupa. Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyebut kredit hijau pada dasarnya telah menjadi bagian strategis dari portofolio pembiayaan bank. Dalam tiga tahun terakhir, ia bilang portofolio pembiayaan berkelanjutan Permata Bank tercatat meningkat signifikan. “Kredit hijau menunjukkan tren pertumbuhan positif, dengan porsi yang terus meningkat sejalan dengan fokus pada pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ungkap Meliza kepada Kontan, awal pekan ini. Pada 2025, kredit hijau Permata Bank tumbuh 33% yoy menjadi Rp 30,1 triliun. Jumlah tersebut setara 18,4% dari total portofolio pembiayaan bank. Di sektor ini, Meliza bilang pada dasarnya bank menyasar pembiayaan untuk berbagai inisiatif ramah lingkungan, termasuk fasilitas pembiayaan untuk pengembangan proyek energi terbarukan di Indonesia. Tak cuma itu, Permata Bank turut menghadirkan Green Mortgage. Produk ini khusus untuk Proyek Developer yang sudah bersertifikat hijau yang dirancang khusus untuk mendukung gaya hidup berkelanjutan. Permata Bank juga memberikan kredit hijau untuk kendaraan listrik yang mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Menurut Meliza, tren kredit hijau bakal kian berkembang ke depan, sejalan dengan penerapan ekonomi hijau di Indonesia. Pihaknya sendiri fokus pada pembiayaan rendah karbon.
Baca Juga: Bank Jakarta Dukung Pelita Jaya Jakarta Hadapi Musim IBL 2026 “Kami melihat tingginya peluang pertumbuhan yang berkelanjutan, baik dari sisi pembiayaan
corporate maupun
consumer, dengan tren permintaan yang terus menguat di berbagai sektor ramah lingkungan,” jelas Meliza. Di
mortgage, Bank Tabungan Negara (BTN) tak ketinggalan menunjukkan komitmen hijaunya melalui pembiayaan ke rumah rendah emisi. Hingga akhir 2025, BTN telah menyalurkan pembiayaan untuk 11.412 unit rumah rendah emisi dengan total nilai mencapai kisaran Rp 2,3 triliun. Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menjelaskan, ada empat kriteria rumah rendah emisi yang dibiayai bank, yakni mencakup aspek efisiensi energi, efisiensi air, pengelolaan sampah, dan pengurangan polusi. Total rumah rendah emisi yang mendapat pembiayaan BTN tahun lalu sendiri setara dengan pembangunan 2.677 pohon per tahun. Target jangka panjangnya, BTN ingin memperluas pembiayaan untuk 200.000 unit rumah rendah emisi hingga 2030 mendatang. Khusus tahun ini, bank memasang target pembiayaan untuk 20.000 unit. Dalam upaya mencapai target tersebut, BTN menggandeng sejumlah pengembang dan berbagai mitra startup yang memproduksi material ramah lingkungan dari sampah. “Kami sedang mencari pengusaha di setiap pulau karena bisnis ini inklusif, jadi siapa saja bisa terlibat. Saat ini angkanya baru 11.000, kalau mau mencapai jutaan tentunya perlu dukungan lebih banyak startup,” tutur Setiyo dalam media
briefing belum lama ini.
Baca Juga: OCBC NISP Masih Kaji Rencana Spin-Off Unit Usaha Syariah Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News