KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan masih menjadi salah satu investor terbesar di pasar obligasi korporasi. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat sektor perbankan memiliki investasi pada obligasi korporasi sebesar Rp 117,4 triliun per April 2026. Direktur Pemeringkatan Pefindo Hendro Utomo mengatakan, investor obligasi korporasi masih didominasi oleh beberapa sektor. Investor reksadana menjadi pemegang terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp 205,5 triliun. Kemudian, sektor perbankan menempati posisi berikutnya dengan investasi sebesar Rp 117,4 triliun. Setelah itu, sektor asuransi mencatat investasi obligasi korporasi sebesar Rp 92,7 triliun, dana pensiun Rp 67,1 triliun, BPJS Rp 24,8 triliun, serta sektor lainnya sebesar Rp 173,2 triliun.
Obligasi korporasi yang diterbitkan pada semester I 2026 tercatat sebanyak Rp 87,35 triliun. Angka tersebut turun 3,91% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 90,90 triliun.
Baca Juga: Ketimpangan Kinerja Perbankan Berpotensi Masih Berlanjut di Kuartal III-2026 Penerbitan obligasi korporasi terbesar berasal dari sektor multifinance sebesar Rp 12,93 triliun. Kemudian diikuti sektor pulp dan kertas senilai Rp 12,84 triliun, perusahaan induk sebesar Rp 11,87 triliun, sektor perbankan sebesar Rp 11,69 triliun, serta pertambangan sebanyak Rp 11,58 triliun. Besarnya penempatan dana bank pada instrumen surat berharga juga terlihat dari laporan publikasi bulanan masing-masing bank. Meski belum memerinci porsi obligasi korporasi secara khusus, laporan tersebut menunjukkan portofolio surat berharga yang mencakup SBN, obligasi korporasi, dan instrumen keuangan lainnya. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat surat berharga yang dimiliki sebesar Rp 433,54 triliun per Mei 2026, meningkat 17,22% secara tahunan dari Rp 369,83 triliun pada Mei 2025. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk juga mencatat kenaikan portofolio surat berharga menjadi Rp 303,41 triliun pada Mei 2026, tumbuh 35,07% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 224,66 triliun. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menggenggam surat berharga sebesar Rp 177,14 triliun per Mei 2026, naik 21,39% secara tahunan dari Rp 145,93 triliun pada Mei 2025. Adapun PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat surat berharga yang dimiliki sebesar Rp 71,08 triliun per Mei 2026, meningkat tipis 0,74% dibandingkan Rp 70,56 triliun pada Mei 2025.
Bagian Strategi Bank
Senior Vice President Treasury Bank Mandiri Aries Syamsul Arifin mengatakan, penempatan dana pada surat berharga, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan surat berharga lainnya, merupakan bagian dari strategi bank dalam memenuhi rasio-rasio yang ditetapkan, mengelola likuiditas, serta mengoptimalkan aset dan liabilitas (asset liability management). Menurut Aries, strategi tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas, imbal hasil, dan profil risiko secara prudent dengan tetap memperhatikan dinamika pasar serta kondisi perekonomian.
"Ke depan, strategi pengelolaan portofolio akan tetap dilakukan secara dinamis dengan memperhatikan perkembangan kondisi pasar dan likuiditas," ujar Aries kepada Kontan, Jumat (10/7/2026). Ia menambahkan, Bank Mandiri tidak hanya memprioritaskan satu instrumen tertentu, tetapi akan mengoptimalkan penempatan dana baik pada kredit maupun surat berharga sesuai dengan kondisi likuiditas, kebutuhan pembiayaan nasabah, profil risiko, serta prospek ekonomi.
Baca Juga: Bank Memburu Pendapatan Komisi dari Penjualan ORI030 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News