Perbankan Jaga Kecukupan Modal untuk Menghadapi Gejolak Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan nasional masih menjaga kondisi permodalan tetap kuat untuk mendorong pertumbuhan kinerja di tengah meningkatnya risiko global. 

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rata-rata rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan pada Maret 2026 sebesar 25,09%. Angka ini turun dibanding Februari 2026 di 25,83% dan Desember 2025 di 25,87%.

CAR perbankan saat ini juga terhitung turun jika dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya, yakni Maret 2025 di angka 25,38%.


Analis Global Markets Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, meski turun, CAR perbankan saat ini masih terbilang cukup tebal.

Baca Juga: Daya Beli Melemah, Pertumbuhan Kredit Multiguna Perbankan Kian Melambat

"Posisi permodalan bank saat ini menurut saya masih solid. Ini menunjukkan sektor perbankan kita masih kuat untuk menghadapi kondisi perekonomian saat ini," kata Myrdal saat dihubungi, Minggu (17/5/2026).

Menurutnya, posisi CAR perbankan saat ini masih bisa diandalkan untuk menjadi buffer menghadapi risiko gejolak global dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Myrdal juga mencermati banyak bank yang sudah mulai selektif dalam menyalurkan kredit, terutama di sektor yang erat kaitannya dengan bahan baku ekspor.

Dengan semakin melemahnya rupiah dan naiknya harga minyak dunia, Ia memproyeksi perbankan masih akan menahan laju kredit ke sektor-sektor tersebut pada kuartal II-2026.

Akan tetapi, Myrdal melihat secara umum, industri perbankan masih dapat terus bertumbuh berkat kesiapan modal dan stress test yang sudah dilakukan.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menjadi salah satu bank yang masih mencatat CAR yang tebal. Hingga kuartal I-2026, posisi CAR BRI berada di angka 22,9%, jauh dari batas minimum yang ditetapkan regulator pada 14,7%.

Baca Juga: OCBC Akuisisi Bisnis Ritel HSBC, Begini Kata OJK

Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi menyebut, posisi CAR banknya mampu mendorong ekspansi bisnis, terutama kredit, di kuartal II-2026.

"Struktur permodalan BRI saat ini benar-benar memberikan ruang yang fleksibel bagi kami untuk terus mendorong pertumbuhan kredit," kata Royadi belum lama ini. 

Royadi memastikan posisi permodalan BRI akan terus terjaga ke depannya untuk mendukung pertumbuhan yang sehat.

Selain menjaga rasio CAR tetap tebal, BRI juga telah melakukan stress test untuk melihat potensi bisnis ke depannya. Dari hasil tesnya, BRI optimistis kinerjanya akan bertumbuh lebih positif pada kuartal II-2026.

Sekadar menggambarkan, hingga kuartal I-2026, BRI menyalurkan total kredit dan pembiayaan sebesar Rp 1.562 triliun, naik 13,68% secara tahunan (yoy). Adapun laba bersih BRI juga naik 13,7% yoy menjadi Rp 15,5 triliun.

Baca Juga: OJK akan Atur Pembatasan Penggunaan Platform BNPL, Pengamat Nilai Sulit Diterapkan

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatatkan rasio CAR yang tinggi. Hingga kuartal I-2026, CAR BCA tercatat di level 27%, lebih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya di 26,6%.

"BCA senantiasa mempertahankan posisi permodalan dan likuiditas yang solid guna menghadapi ketidakpastian global," kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn.

BCA juga secara konsisten melakukan stress test dan optimistis bisa menjaga pertumbuhan kinerjanya tetap positif tahun ini.

Adapun sampai dengan kuartal I-2026, BCA menyalurkan kredit sebesar Rp 994 triliun atau tumbuh 5,6% yoy. Sedangkan, laba bersihnya naik 3,8% yoy menjadi Rp 14,7 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News