Perbankan Masih Kucurkan Kredit ke Sektor Batubara



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan masih menyalurkan kredit ke sektor batubara di tengah dorongan transisi energi. Kebutuhan pasokan listrik dan pertimbangan risiko serta imbal hasil dinilai menjadi sejumlah alasan bank tetap membiayai sektor ini. Berdasarkan data analisis uang beredar Bank Indonesia (BI), kredit modal kerja perbankan ke sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 23,4% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 190,5 triliun pada Agustus 2026. Sementara itu, kredit investasi di sektor tersebut tumbuh 9,3% YoY menjadi Rp 234,9 triliun. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengungkapkan porsi kredit ke sektor batu bara masih di bawah 1% dari total portofolio kredit hingga Semester I 2026. BCA tetap menyalurkan pembiayaan ke sektor ini untuk mendukung kebutuhan pasokan listrik selama masa transisi energi.

Baca Juga: Wacana Gaji PNS Daerah Lewat Koperasi, BPD Bidik Dana Murah dari UMKM EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, penyaluran kredit ke sektor batu bara mempertimbangkan kebutuhan energi yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh energi baru terbarukan. “Kami melihat penyaluran kredit ke sektor batu bara sejalan dengan kebutuhan pasokan energi yang belum dapat sepenuhnya dipenuhi oleh energi baru terbarukan selama masa transisi,” ujar Hera kepada Kontan, Jumat (16/10/2026). Menurut Hera, prospek industri batu bara ke depan akan dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global dan dinamika geopolitik yang memengaruhi pasokan energi dunia. Di sisi lain, BCA menyatakan tetap memperhatikan aspek lingkungan dalam penyaluran pembiayaan. BCA juga mendukung percepatan transisi menuju ekonomi hijau melalui pendanaan investasi hijau dan dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Berdasarkan presentasi perusahaan, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat porsi kredit ke sektor batubara per Agustus 2026 terhadap total kredit sebesar 5%. Meningkat dari 3,3% pada periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Pendanaan Industri Pergadaian Tumbuh 65,71%, Andalkan Diversifikasi Sumber Dana Adapun PT Bank Mandiri Tbk mencatat outstanding kredit ke sektor batubara mencapai Rp 70,3 triliun per Juni 2026, naik 11,6% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 63 triliun. Namun, porsi kredit batubara terhadap total kredit Bank Mandiri turun menjadi 4,42% dari 4,75% pada Juni 2025. Terbaru, pada 30 September 2026, pemegang saham pengendali PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), PT Eshan Agro Sentosa, menandatangani akta gadai saham kepada Bank Mandiri sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh perusahaan afiliasi, PT Jhonlin Baratama (JB). Namun, nominal fasilitas kredit tersebut belum diungkapkan kepada publik. Senior Vice President Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista menjelaskan, fasilitas kredit tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan usaha, termasuk belanja modal (capital expenditure/capex) serta kebutuhan pembiayaan perusahaan dan grup usaha di industri batu bara. “Pemberian kredit kepada PT Jhonlin Baratama (JB) bukan merupakan fasilitas untuk aktivitas trading saham, melainkan fasilitas kredit yang ditujukan dalam rangka pengembangan usaha,” tulis Adhika dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/10/2026). Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, perbankan masih menyalurkan kredit ke sektor batubara karena mempertimbangkan risiko dan potensi imbal hasil. “Ketertarikan bank terutama didasarkan pada perhitungan risiko dan imbal hasil, bukan semata-mata pada komitmen ESG,” ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (18/10/2026).


Baca Juga: Bank Aladin Syariah Perkuat Likuiditas Lewat SIPA Menurutnya, perusahaan batubara yang menjadi debitur bank umumnya merupakan korporasi besar dengan pendapatan dolar AS, kontrak penjualan yang jelas, serta rekam jejak pembayaran yang relatif baik. Selain itu, dana hasil ekspor sumber daya alam dapat menjadi agunan tunai yang membantu bank memitigasi risiko pembiayaan. Di sisi lain, batubara masih menjadi penopang utama sistem kelistrikan nasional. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pembiayaan sektor ini masih ada, meski perbankan menghadapi dorongan untuk memperbesar pembiayaan hijau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News