Perbankan Memperluas Penggunaan AI, Ini Manfaat yang Bisa Dirasakan Nasabah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemanfaatan artificial intelligence (AI) di perbankan mulai masuk lebih dalam. Tak hanya digunakan untuk chatbot, teknologi ini mulai dipakai bank untuk mempercepat pembukaan rekening, membaca pola transaksi, menilai kredit hingga mendukung pengelolaan risiko. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjadi salah satu bank yang terus memperluas penggunaan AI di berbagai lini. Direktur BCA Vera Eve Lim mengatakan, yang menjadi perhatian bukan sekadar seberapa banyak AI digunakan, tetapi apakah teknologi tersebut benar-benar memberikan dampak bagi bank maupun nasabah. “AI adalah bukan keniscayaan lagi. Tapi mau dipakai di mana, lebih penting penggunanya tepat sasaran. Sehingga manfaatnya kan lebih berdampak,” ujar Vera dalam Public Expose Live 2026, Rabu (9/9/2026).

Baca Juga: Penjualan Mobil Naik 13,9% hingga Agustus 2026, Angin Segar bagi Asuransi Kendaraan Salah satu penerapannya ada pada proses pembukaan rekening melalui MyBCA. Vera mengatakan, proses yang sebelumnya membutuhkan sekitar delapan menit kini dapat dilakukan dalam empat menit. BCA bahkan masih melihat peluang untuk memangkasnya menjadi sekitar dua menit. “Awal pertama kita luncurkan itu 16 menit. Kemudian kita improve ke 8 menit. Hari ini kita di 4 menit. Bisa turun ke 2 menit? Saya yakin bisa,” katanya. Menurut Vera, penggunaan AI juga membantu BCA meningkatkan produktivitas operasional. Salah satunya dalam memantau downtime ATM, hingga semester I 2026 rata-rata downtime ATM BCA turun 40% secara tahunan. BCA juga memanfaatkan AI untuk memprediksi kebutuhan kartu debit nasabah di cabang. Vera mengatakan, sistem tersebut melihat pola transaksi dan kebutuhan nasabah sehingga penawaran kartu dapat dilakukan lebih tepat sasaran. Dalam paparan BCA, seluruh proses prediksi kebutuhan kartu debit di cabang kini telah dibantu AI.

Bank Jago Alokasikan Rp 5 Miliar Untuk AI

Pengembangan AI tentu membutuhkan investasi. PT Bank Jago Tbk (ARTO) mengalokasikan sekitar US$ 350 ribu atau setara Rp 5 miliar untuk pengembangan AI. Direktur Bank Jago Supranoto Prajogo mengatakan, anggaran tersebut memang disiapkan untuk mendukung pemanfaatan AI di Bank Jago. “Kalau terkait dengan AI itu sendiri, kami membudgetkan sekitar US$ 350 ribu atau sekitar Rp 5 miliar saat ini,” kata Supranoto.


Baca Juga: Daya Beli Tertekan, Allianz Ungkap Tantangan Bisnis Agen Asuransi Investasi tersebut kemudian dimanfaatkan Bank Jago untuk berbagai kebutuhan, mulai dari proses pemberian kredit, deteksi fraud, hingga layanan nasabah. Dalam proses pemberian kredit, AI digunakan untuk membantu melakukan assessment terhadap nasabah. Supranoto mengatakan, penerapan tersebut dilakukan karena portofolio kredit Bank Jago banyak berasal dari segmen ritel sehingga proses penyaringannya dilakukan berdasarkan portofolio. Selain kredit, Bank Jago juga menggunakan AI dalam sistem fraud detection untuk membantu mendeteksi lebih dini apabila terdapat indikasi fraud. Sementara di sisi layanan nasabah, AI digunakan pada chatbot untuk menjawab pertanyaan dasar yang tidak membutuhkan informasi pribadi nasabah. Di tengah penggunaan yang semakin luas, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan bank agar tidak hanya mengejar manfaat AI. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana mengatakan, penggunaan AI yang semakin luas juga dapat meningkatkan ketergantungan bank terhadap penyedia teknologi pihak ketiga serta meningkatkan konsentrasi pasar pada sejumlah pemain teknologi.

Baca Juga: Bank Mandiri Terbitkan Perpetual Bond US$ 750 Juta, Ekonom Soroti Likuiditas & CAR “Pengembangan AI di sektor perbankan perlu diimbangi dengan tata kelola, pengawasan dan manajemen risiko yang memadai agar manfaat inovasi dapat diperoleh tanpa mengorbankan stabilitas dan kepercayaan terhadap sistem keuangan,” ujar Dian dalam acara BIG Financial Insights, Rabu (9/9/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News