KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Untuk memperluas cakupan bisnis dan menjangkau pasar yang lebih besar, perbankan syariah mulai getol mendorong pertumbuhan di segmen bisnis wholesale banking. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat
market share perbankan syariah sebesar 7,51% per Maret 2026, relatif naik ketimbang posisi 7,42% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, pembiayaan syariah tumbuh 9,82% secara tahunan (
year-on-year/yoy), melaju dari pertumbuhan 9,2% pada tahun lalu. Secara umum, layanan perbankan syariah masih lekat dengan nasabah ritel. Namun, untuk mendorong kinerja lebih masif, bank syariah mulai turut memperkuat segmen
wholesale banking, baik dari sisi pembiayaan, pendanaan, produk investasi, dan ekosistem perbankan secara utuh.
Baca Juga: Asei Ungkap Lini Bisnis Asuransi yang Masih Bergantung pada Reasuransi Luar Negeri Sebagai bank syariah terbesar, Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat pertumbuhan pembiayaan wholesale sebesar 12,59% yoy menjadi Rp 90,77 triliun per Maret 2026 atau setara 27,61% dari total pembiayaan. Capaian ini utamanya didorong oleh segmen korporasi yang tumbuh 15,1% yoy. Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menjelaskan, di segmen korporasi BSI fokus pada sinergi BUMN dan ekosistem bisnisnya, termasuk dalam pembiayaan yang mendukung program-program pemerintah. Secara keseluruhan, BSI menilai pertumbuhan kinerja merupakan kombinasi dari penguatan seluruh segmen bisnis, termasuk akselerasi digital, perluasan layanan bisnis emas, hingga penguatan dukungan terhadap program pemerintah dan sektor produktif serta UMKM. “Itu terbukti efektif dalam menjaga tren pertumbuhan kinerja bank yang positif dan berkelanjutan,” kata Wisnu. Tak jauh berbeda, BCA Syariah mencatat pembiayaan komersil tumbuh 13,5% yoy menjadi Rp 9,7 triliun. Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum menjelaskan, capaian ini di antaranya didorong oleh pembiayaan pada segmen perdagangan besar dan eceran yang meningkat 33,7% yoy mencapai Rp 2,7 triliun dan segmen industri pengolahan yang meningkat 5,4% yoy menjadi Rp 1,7 triliun.
Baca Juga: Bank Besar Catat Kenaikan Transaksi Kartu Kredit di Kuartal I-2026, Terdorong Promo Tahun ini, Yuli bilang pihaknya menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat
wholesale banking, antara lain yaitu meningkatkan penyaluran pembiayaan melalui penawaran kerja sama
linkage program. Selain itu, BCA Syariah juga berupaya mengoptimalkan proses pengolahan dan service level agreement (SLA), menerapkan
customer deepening untuk dapat menjangkau UMKM yang menjadi mitra perusahaan-perusahaan besar melalui skema pembiayaan distributor atau
supplier financing, serta melakukan sinergi dengan induk usaha dan terus mengembangkan produk-produk baru yang dapat memenuhi kebutuhan finansial nasabah segmen komersil. “BCA Syariah berharap upaya tersebut dapat mendukung pertumbuhan segmen komersil hingga mencapai
double digit pada akhir tahun,” ujar Yuli. Sementara itu, Bank Mega Syariah (BMS) mencatat pembiayaan segmen komersial mencapai Rp 5,15 triliun, dengan pembiayaan korporasi mencapai Rp 3,93 triliun dan
business banking sebesar Rp 1,23 triliun.
Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita menjelaskan, kinerja
wholesale banking BMS ditopang oleh sejumlah katalis, utamanya adalah penguatan pembiayaan sindikasi dan pengembangan
transaction banking. Untuk menjaga daya saing, termasuk dengan bank konvensional, Hanie bilang pihaknya bakal fokus pada niche sector yang memahami value syariah, sembari memperkuat
ecosystem financing dan memperbesar CASA korporasi agar
cost of fund lebih kompetitif. “Kami juga akan memperkuat
digital transaction banking, serta tetap menerapkan
selective growth dengan menjaga kualitas aset secara
prudent,” imbuhnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News