Perbankan Waspadai Tekanan Likuiditas di Tengah Gejolak Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Likuiditas perbankan mulai menunjukkan tanda-tanda pengetatan di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tren kenaikan suku bunga. Kondisi tersebut tercermin dari rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio / LDR) yang terus meningkat, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mulai melambat.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan LDR industri perbankan per April 2026 naik menjadi 86,8%, dari 84,64% pada Maret 2026. Pada saat yang sama, pertumbuhan DPK melambat menjadi 11,4% secara tahunan (year on year / YoY), dibandingkan 13,55% pada bulan sebelumnya.

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Myrdal Gunarto mengatakan, tekanan likuiditas mulai terasa sejak April 2026. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh memburuknya sentimen global akibat lonjakan harga minyak dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.


"Investor global melakukan aksi risk off. Dana yang sebelumnya masuk ke negara berkembang seperti Indonesia mulai ditarik kembali sehingga mempengaruhi likuiditas di dalam negeri," ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Senin (22/6/2026).

Selain arus modal keluar, Myrdal menyebut pembayaran dividen oleh sejumlah korporasi juga turut menyebabkan perpindahan dana ke luar negeri. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat perbankan harus lebih berhati-hati dalam mengelola likuiditas dan menyalurkan kredit.

Baca Juga: Waspada, Likuiditas yang Ketat di Semester II-2026 Berpotensi Menghambat Laju Kredit

Menurut dia, tekanan likuiditas saat ini bukan berasal dari faktor domestik, melainkan lebih banyak dipengaruhi perkembangan global. Karena itu, bank cenderung lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan baru.

"Kalau likuiditas sedang ketat, bank akan lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit. Mereka juga harus menjaga posisi likuiditas yang dimiliki," katanya.

Meski demikian, Myrdal menilai peluang pertumbuhan kredit masih terbuka, terutama pada sektor-sektor yang relatif tahan terhadap tekanan ekonomi global seperti sektor pangan, kebutuhan konsumsi sehari-hari, transportasi, dan perumahan.

Ia juga melihat insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diberikan Bank Indonesia masih cukup membantu menjaga likuiditas dan mendorong penyaluran kredit. Menurut perhitungannya, kontribusi kebijakan tersebut terhadap pertumbuhan bisnis perbankan dapat mencapai sekitar 8%.

"Dampaknya cukup positif, walaupun tentu bukan satu-satunya faktor yang menentukan pertumbuhan kredit," ujarnya.

Myrdal pun memperkirakan pertumbuhan kredit tahun ini berada di kisaran 8,7%, sementara DPK diproyeksikan tumbuh sekitar 12,2%.

Sementara Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan memperkirakan, tekanan likuiditas industri masih akan berlanjut hingga akhir tahun.

"Likuiditas pasti akan semakin ketat dan cost of fund akan naik," ujar Lani.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi perbankan saat ini tidak hanya berasal dari sisi pendanaan, tetapi juga dari permintaan kredit yang masih relatif terbatas.

Lani menilai, kondisi tersebut berpotensi menekan margin bunga bersih (net interest margin / NIM), karena kredit yang masih tumbuh umumnya berasal dari segmen korporasi dengan tingkat imbal hasil yang lebih rendah dibandingkan segmen lainnya.

"Yang kritikal adalah margin yang akan terus tergerus karena kredit yang lebih tersedia saat ini adalah korporasi dengan yield relatif lebih rendah," katanya.

Untuk menjaga likuiditas, CIMB Niaga tetap fokus memperkuat dana murah atau CASA melalui strategi payroll, cash management, rekening operasional perusahaan, dan tabungan dari segmen mass market. Perseroan menargetkan rasio LDR tetap terjaga pada level 85%-90% hingga akhir tahun.

Baca Juga: Simpanan dalam Uang Rupiah Susut, Likuiditas Perbankan Mulai Tertekan

Per Mei 2026 DPK Bank CIMB Niaga capai Rp 326,2 triliun atau naik 8,22% yoy.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Risiko, Kepatuhan dan Hukum PT Allo Bank Indonesia Tbk Ganda Raharja. Ia mengatakan, likuiditas mulai terasa semakin ketat sejak awal Juni 2026.

Menurut Ganda, kenaikan BI Rate menjadi faktor yang mendorong meningkatnya persaingan penghimpunan dana di industri.

"Sejak awal Juni kami mulai merasakan ketatnya likuiditas. Kenaikan BI Rate juga mulai mengerek suku bunga penempatan dana maupun suku bunga pinjaman," ujarnya.

Karena itu, Allo Bank akan tetap menyalurkan kredit secara selektif sembari menjaga biaya dana agar tetap terkendali. Meski mengakui insentif KLM membantu likuiditas bank, Ganda menilai faktor tersebut bukan penopang utama likuiditas bank.

Ia memperkirakan kondisi likuiditas yang ketat masih akan berlangsung hingga akhir tahun seiring ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi mempengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

Allo Bank menargetkan rasio LDR berada pada kisaran 80%-100% hingga akhir tahun.

Baca Juga: BI Rate Naik, BI Longgarkan Likuiditas Perbankan Demi Jaga Kredit

Sementara itu, Direktur Kepatuhan sekaligus Sekretaris Perusahaan PT Bank Oke Indonesia Tbk (OK Bank) Efdinal Alamsyah menilai kondisi likuiditas bank saat ini masih berada dalam level yang mendukung ekspansi bisnis.

Namun, ia mengakui kenaikan BI Rate telah meningkatkan persaingan dalam penghimpunan dana sekaligus mendorong kenaikan biaya dana industri perbankan.

"Kami terus mengoptimalkan pertumbuhan dana murah, memperkuat basis nasabah, dan menjaga penyaluran kredit secara selektif agar tetap sejalan dengan kemampuan pendanaan," ujarnya.

Efdinal menambahkan, OK Bank menargetkan pertumbuhan DPK sekitar 11% tahun ini, lebih tinggi dibandingkan target pertumbuhan kredit sebesar 9%. Strategi tersebut ditempuh untuk menjaga rasio LDR tetap berada pada level yang sehat mengingat posisi LDR perseroan saat ini berada di atas rata-rata industri.

Ia juga menilai insentif KLM dari Bank Indonesia masih cukup membantu menjaga fleksibilitas likuiditas sekaligus mendukung penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif.

Baca Juga: Antisipasi Risiko Likuiditas Paruh Kedua, Perbankan Atur Ulang Strategi Pendanaan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News