Perbatasan RI-Malaysia, KSAL Desak Deplu Tuntaskan Kasus Ambalat



JAKARTA. Kepala Satuan Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno merasa gerah dengan berlarutnya pembahasan wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia di  Ambalat.  Lebih lanjut, Tedjo merasa perlu mendesak Departemen Luar Negeri (Deplu) untuk segera menuntaskan permasalahan tersebut.    "Jika dibiarkan berlarut-larut, Malaysia akan terus menganggap Blok Ambalat sebagai wilayahnya," ujar Tedjo.  Menurut Tedjo, pihaknya merasa perlu untuk mendorong Deplu untuk segera menyelesaikan masalah perbatasan tersebut. "TNI AL telah memberikan nota diplomatik adanya pelanggaran batas wilayah yang dilakukan Malaysia," lanjutnya.  Wilayah Ambalat di daerah Laut Sulawesi menjadi sengketa tatkala tahun 2005 Malaysia memberikan izin eksplorasi minyak kepada Shell. Sebelumnya, tahun 2004 Malaysia mengklaim wilayah Ambalat sebagai wilayahnya dengan menerbitkan peta wilayah Malaysia terbaru.  Padahal di tahun 1999 Indonesia telah memberikan izin eksplorasi kepada perusahaan minyak Italia ENI dan Unocal dari Amerika Serikat.    Untuk menjaga wilayah  perbatasan yang kaya minyak tersebut, TNI  AL telah menyiagakan enam kapal perangnya. "Mereka bertugas untuk patroli menjaga batas negara," kata Tedjo. Sayangnya, sampai detik ini, batas negara yang dimaksud Tedjo masih dalam sengketa. "Memang ada perbedaan tentang batas negara. Tetapi kami berpatokan pada batas wilayah negara kita. Itu yang harus diamankan," tegas Tedjo.  Tedjo berharap, dengan selesainya kasus Ambalat, maka selesai pula perselisihan antara Indonesia dan Malaysia.  Menanggapi permintaan KSAL tersebut, juru bicara Deplu Tengku Faizasyah bilang bahwa saat ini pihaknya terus mengupayakan jalannya perundingan masalah Ambalat tersebut.  "Perundingan tersebut menyangkut batas laut. Sampai saat ini belum bisa dipastikan kapan berakhirnya," ujar Faizasyah. Menurut Faizasyah, perundingan batas laut tidaklah mudah, karena Deplu harus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyelesaikannya. Termasuk dengan TNI  AL yang ahli dalam penentuan koordinat wilayah Indonesia.  "Perundingan perbatasan laut Indonesia dengan Vietnam saja selesai setelah lebih dari 30 tahun," kilah Faizasyah. Faizasyah juga bilang, saat ini pihaknya sedang memprioritaskan beberapa titik perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia yang juga menjadi sengketa.  "Misalkan saja di selat Malaka, di Laut Sumatera, di Laut China Selatan, bahkan di Laut Sulawesi yang lokasinya dekat Ambalat," lanjut Faizasyah. Faizasyah berharap, TNI AL akan terus berpatroli menjaga wilayah Indonesia dengan berpatokan kepada peta wilayah yang ada.  "Untuk Ambalat ini sebenarnya, secara hukum laut kami lebih yakin akan menang," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News