KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pemanfaatan teknologi bioreaktor yang mampu mengolah minyak sawit mentah (CPO) menjadi biodiesel B100 untuk memperkuat hilirisasi perkebunan sekaligus mendukung transisi energi nasional. Setelah pemerintah menjalankan program biodiesel B50, teknologi ini diharapkan dapat memperluas kapasitas produksi energi terbarukan hingga ke tingkat petani dan nelayan. Teknologi bioreaktor tersebut diperkenalkan melalui Warehouse Hilirisasi Perkebunan pada ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII yang berlangsung pada 20–25 Juni 2026 di Gorontalo.
Baca Juga: Program B50 Nasional Bergulir, Elnusa Petrofin Tancap Gas Salurkan Biosolar Industri Inovasi hasil kolaborasi Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Direktorat Jenderal Perkebunan, serta Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian itu mampu mengubah CPO menjadi biosolar B100 atau bahan bakar nabati murni. Kepala BRMP Fadjry Djufry mengatakan pengembangan bioreaktor menjadi langkah strategis untuk mempercepat transisi menuju energi berbasis sumber daya dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak. "Inovasi ini merupakan langkah strategis dalam mendorong transisi energi nasional berbasis sumber daya domestik, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," ujarnya dalam siaran pers, Rabu (8/7/2026). Menurut Fadjry, modernisasi sektor pertanian kini tidak lagi sebatas meningkatkan produktivitas, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai tambah melalui hilirisasi dan pemanfaatan teknologi. Dengan begitu, komoditas perkebunan tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Kementan juga menargetkan teknologi tersebut tidak berhenti sebagai produk riset atau sekadar dipamerkan dalam ajang teknologi.
Baca Juga: B50 Meluncur, Pertamina Patra Niaga Distribusikan 37,92 Juta Liter ke Wilayah Ini Pemerintah ingin inovasi itu dapat diterapkan secara luas oleh petani, koperasi, dan pelaku usaha di berbagai daerah sehingga hilirisasi perkebunan benar-benar menjadi penggerak daya saing sektor pertanian. Sebelum pembukaan resmi PENAS XVII, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman turut meninjau Warehouse Hilirisasi Perkebunan yang menjadi salah satu stan utama pameran. Selain teknologi produksi biodiesel B100, stan tersebut juga menampilkan teknologi pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) dengan metode kering yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Tidak hanya berfokus pada energi, Warehouse Hilirisasi Perkebunan juga memamerkan berbagai produk turunan sawit yang mendukung program pangan bergizi dan pencegahan stunting, seperti Minyak Makan Merah, Oleofood Sawit, Jamur Sawit, Gula Merah Sawit, serta aneka pangan berbasis sawit yang kaya vitamin A dan vitamin E. Kehadiran produk-produk tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi perkebunan juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Baca Juga: B50 Bakal Rilis 1 Juli, IESR Minta Pemerintah Hitung Ulang Risiko Melalui pameran tersebut, Kementan turut memberikan edukasi mengenai pengembangan biodiesel secara bertahap, mulai dari B35, B40, B50 hingga pengembangan B100. Menurut Kementan, teknologi bioreaktor dapat menjadi penguat kebijakan pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi berbasis sawit domestik sekaligus mempercepat terciptanya ekosistem energi terbarukan yang lebih mandiri. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News