KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian pasokan BBM dan volatilitas harga minyak global merupakan momentum tepat bagi Indonesia mempercepat hilirisasi nikel sebagai penopang ekosistem baterai kendaraan listrik. Dengan cadangan nikel melimpah, Indonesia memiliki modal kuat untuk transisi menuju kedaulatan energi berbasis teknologi. Realisasi investasi hilirisasi mencapai lebih dari Rp 431 triliun hingga September 2025, menurut Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Investasi sektor nikel menyumbang lebih dari Rp136 triliun. Ini menegaskan peran strategisnya dalam rantai pasok EV global. Di tengah gejolak energi dan geopolitik, penguatan hilirisasi dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan energi dan kendali atas rantai nilai.
Head of External Relations Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Mordekhai Aruan menilai gejolak energi global memperkuat urgensi pembangunan rantai pasok kendaraan listrik berbasis nikel di dalam negeri.
Baca Juga: Hilirisasi Nikel Naik Kelas, Teknologi HPAL Mulai Temukan Titik Ekonomis “Urgensi pembangunan supply chain EV berbasis nikel di Indonesia sebetulnya telah terasa cukup tinggi sejak 2–3 tahun terakhir, sejalan dengan peta jalan dekarbonisasi pemerintah menuju
Net Zero Emission 2060,” kata Mordekhai dalam keterangannya, Selasa (14/4/2026). Ia menyebut industri nikel nasional berkembang pesat dalam lima tahun terakhir, dari sekadar menghasilkan NPI menjadi produk bernilai tambah seperti MHP, nikel sulfat, kobalt sulfat, hingga PCAM. Perkembangan ini memperkokoh posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global EV di tengah meningkatnya kebutuhan material baterai. Keunggulan tersebut ditopang oleh besarnya cadangan nikel nasional serta investasi teknologi pengolahan, khususnya smelter berbasis
high pressure acid leach (HPAL) yang menjadi tulang punggung produksi bahan baku baterai kelas EV. Guru Besar Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Mohammad Zaki Mubarok menilai hilirisasi nikel Indonesia perlu diperluas tidak hanya pada nikel, tetapi juga mineral kritis lain seperti scandium yang bernilai tinggi untuk teknologi maju.
Baca Juga: Kesiapan SDM yang Masih Minim Jadi Tantangan Hilirisasi Nikel Dari sisi industri, PT QMB New Energy Materials, anak usaha GEM, salah satu yang turut memperkuat rantai pasok baterai EV dengan produksi
Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) 150.000 ton per tahun, serta 30.000 ton NCM sulfates dan 50.000 ton prekursor. Produksi terintegrasi ini menjaga pasokan bahan baku domestik dan meningkatkan daya saing ekspor.
Mordekhai menambahkan, ke depan, dibutuhkan investasi untuk membangun ekosistem pengolahan nikel end-to-end dari hulu ke hilir agar hilirisasi menjadi pendorong ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi. Di luar investasi pengembangan industri hilirisasi, GEM menginvestasikan lebih dari US$40 juta untuk pengembangan talenta Indonesia melalui program beasiswa sebagai bagian dari investasi jangka panjang pada modal manusia. Saat ini, perusahaan juga membina 266 talenta Indonesia melalui kolaborasi dengan LPDP Indonesia dan Central South University, China untuk mendukung industri energi baru dan hilirisasi nikel. Penguatan SDM ini dinilai penting bagi keberlanjutan hilirisasi, karena dapat meningkatkan produktivitas industri, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai nilai global baterai dan kendaraan listrik. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News