Perdagangan ETF Emas Mulai Menggeliat, Investor Ritel Jadi Penggerak



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Minat investor terhadap exchange traded fund (ETF) emas mulai terbentuk sejak instrumen tersebut diluncurkan pada 10 Agustus 2026. Meski demikian, aktivitas perdagangan ETF emas masih berada dalam tahap awal dan belum merata pada seluruh produk.

Head of Business Development Mirae Asset Sekuritas Indonesia Simon Gunawan mengatakan, respons awal terhadap ETF emas cukup positif. Hal ini tercermin dari dana kelolaan (AUM) yang mencapai Rp 90,39 miliar dalam waktu sekitar tiga minggu.

“Kami melihat respons awal terhadap ETF emas cukup positif. Dana kelolaan sebesar Rp 90,39 miliar dalam waktu sekitar tiga minggu menunjukkan mulai terbentuknya minat investor terhadap produk ini,” ujar Simon kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).


Baca Juga: Pasar ETF Emas Masih Tahap Awal, Prospek Pertumbuhannya Tetap Positif

Menurut Simon, aktivitas perdagangan ETF emas juga sudah mulai berjalan. Namun, volume dan nilai transaksi masih dalam tahap awal serta belum merata di seluruh produk. Kondisi tersebut dinilai wajar mengingat ETF emas merupakan instrumen baru sehingga investor masih mempelajari mekanisme perdagangan, likuiditas, serta pergerakan harganya.

Secara umum, perkembangan tersebut dinilai masih sesuai dengan ekspektasi awal. Ke depan, Simon melihat ruang pertumbuhan aktivitas perdagangan ETF emas masih cukup besar.

Simon bilang, sebagai dealer partisipan, Mirae Asset Sekuritas akan terus mendukung likuiditas ETF emas dengan menyediakan kuotasi beli dan jual pada harga yang wajar. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan perdagangan yang lebih aktif dan efisien seiring meningkatnya pemahaman investor.

Dari sisi profil investor, Simon mengungkapkan, transaksi ETF emas pada tahap awal lebih banyak berasal dari investor ritel. Produk tersebut dinilai menarik bagi ritel karena dapat dibeli melalui rekening saham dengan nominal yang relatif terjangkau, tanpa perlu menyimpan emas secara fisik.

Sementara itu, investor institusi cenderung membutuhkan kajian lebih lanjut sebelum masuk ke ETF emas. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan institusi antara lain likuiditas, ukuran transaksi, mekanisme creation dan redemption, serta kesesuaian ETF emas dengan kebijakan investasi masing-masing.

"Dalam tahap awal ini, transaksi ETF emas lebih banyak berasal dari investor ritel. Produk ini cukup menarik bagi ritel karena dapat dibeli melalui rekening saham dengan nominal yang terjangkau, tanpa perlu menyimpan emas fisik," jelas Simon.

Baca Juga: Dana Kelolaan ETF Emas Tumbuh 4 Kali Lipat, Infovesta: Berpeluang Tembus Rp 1 Triliun

Adapun pola transaksi yang terjadi sejauh ini lebih banyak berupa pembelian secara bertahap. Investor memanfaatkan ETF emas untuk kebutuhan diversifikasi dan investasi dalam jangka menengah hingga panjang.

Menariknya, aktivitas investor juga cenderung meningkat ketika harga emas mengalami koreksi. Hal ini menunjukkan sebagian investor justru memanfaatkan penurunan harga emas sebagai momentum untuk melakukan akumulasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News