Perdagangan Global Tumbuh 2,6%, Indonesia Punya Peluang di Rantai Pasok Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perdagangan global belum menunjukkan tanda-tanda mundur meski tarif, ketegangan geopolitik, dan perubahan rantai pasok terus membayangi pelaku usaha. 

Arus barang lintas negara justru tetap tumbuh, tetapi dengan rute yang semakin dinamis. Bagi Indonesia, perubahan ini membuka peluang bagi sektor manufaktur dan usaha kecil menengah untuk masuk lebih jauh ke pasar global, dengan dukungan konektivitas logistik yang semakin menentukan.

DHL Global Connectedness Report 2026 mencatat tingkat keterhubungan global mencapai rekor 25% pada 2022 dan bertahan di sekitar level tersebut hingga 2025. Indeks ini mengukur arus perdagangan, modal, informasi, dan manusia dengan membandingkannya terhadap aktivitas domestik.


Perdagangan barang pada 2025 bahkan tumbuh lebih cepat dibandingkan tahun mana pun sejak 2017, apabila lonjakan perdagangan setelah pandemi tidak diperhitungkan. Barang yang diperdagangkan juga menempuh jarak rata-rata terjauh sepanjang periode pencatatan. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan belum sepenuhnya memusatkan rantai pasoknya di kawasan terdekat.

Ahmad Mohamad, Senior Technical Advisor DHL Express Indonesia, mengatakan peran Indonesia dalam jaringan distribusi global terus berkembang seiring pertumbuhan manufaktur, ekspor, dan pembangunan infrastruktur. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap layanan logistik yang mampu memberikan kecepatan, keandalan, dan kepastian.

Baca Juga: DHL Express Luncurkan Layanan Kargo Ekspres 3 Ton, Bidik Pasar Ekspor

“Peran Indonesia dalam jaringan distribusi global terus berkembang, didorong oleh kinerja sektor manufaktur, ekspor, serta pembangunan infrastruktur. Seiring bisnis yang semakin berkembang dan terintegrasi secara global, kebutuhan akan solusi logistik yang menghadirkan kecepatan, keandalan, dan kepastian menjadi semakin penting,” kata Ahmad kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Perubahan tersebut terjadi ketika hubungan perdagangan Amerika Serikat dan China memang mengalami pelemahan. Namun, dalam satu dekade terakhir, hanya sekitar 4%-6% arus perdagangan dan investasi global yang bergeser akibat rivalitas geopolitik. Artinya, perubahan rantai pasok belum menunjukkan pemisahan total dunia ke dalam blok-blok perdagangan yang terpisah.

Pergeseran yang terjadi lebih banyak berupa pencarian jalur alternatif. Perusahaan mengurangi ketergantungan pada satu sumber, tetapi tetap membutuhkan pasar, bahan baku, dan mitra dari berbagai negara. Bagi Indonesia, kondisi ini membuka peluang untuk masuk ke rantai pasok yang sedang disusun ulang.

Pada 2025, hanya sekitar 12% perdagangan barang dunia berlangsung antara kelompok negara yang dekat dengan Amerika Serikat dan kelompok negara yang dekat dengan China. Sebagian besar perdagangan dunia tetap berlangsung di antara negara-negara yang tidak berada pada sisi berlawanan dalam rivalitas kedua negara tersebut.

Kenaikan tarif Amerika Serikat diperkirakan menahan pertumbuhan perdagangan pada 2026, tetapi tidak menghentikannya. DHL Global Connectedness Report 2026 memproyeksikan perdagangan barang global tumbuh rata-rata 2,6% per tahun hingga 2029, kurang lebih sejalan dengan laju pertumbuhan dalam satu dekade sebelumnya. Sejumlah negara juga memilih tidak membalas seluruh kenaikan tarif dan terus merundingkan kesepakatan perdagangan baru.

Peluang tersebut juga tercermin dalam proyeksi pertumbuhan perdagangan Indonesia. DHL Trade Atlas 2025 menempatkan Indonesia bersama India, Vietnam, dan Filipina dalam 30 negara teratas berdasarkan kecepatan dan besarnya pertumbuhan volume perdagangan pada 2024-2029.

Baca Juga: SiCepat Ekspres Perluas Layanan Logistik, Jangkau Pengiriman Hingga Wilayah 3T

Di kawasan Asia Tenggara, ASEAN diperkirakan mencatat pertumbuhan perdagangan rata-rata 5% per tahun. Laju tersebut lebih tinggi dibandingkan sebagian besar kawasan lain.

Posisi tersebut memberikan peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk memperluas pasar. Namun, peluang itu juga diikuti tuntutan untuk menjangkau pasar yang lebih jauh, memenuhi ketentuan yang berbeda di setiap negara, serta memastikan barang tiba sesuai jadwal.

Peluang dari pergeseran rantai pasok hanya dapat dimanfaatkan ketika bisnis siap melayani pembeli saat mereka mencari pemasok alternatif. Karena itu, kemampuan logistik menjadi bagian dari kesiapan perusahaan untuk mengambil peluang ekspor.

Sektor manufaktur menjadi salah satu penopang penting. Industri manufaktur menyumbang sekitar 18%-19% terhadap produk domestik bruto Indonesia sekaligus menjadi salah satu penopang ekspor.

Dalam industri tersebut, kebutuhan pengiriman internasional tidak selalu dapat menunggu jadwal reguler. Komponen pengganti, mesin, hingga barang bernilai tinggi dapat dibutuhkan segera untuk menjaga kegiatan produksi tetap berjalan.

Ketika rute perdagangan global berubah, biaya dan waktu pengiriman juga dapat ikut bergerak. Eksportir tidak cukup hanya mengetahui bahwa permintaan tersedia. Mereka perlu memahami ketersediaan kapasitas, waktu transit, hingga bagaimana kiriman ditangani ketika terjadi gangguan.

Perubahan tujuan ekspor juga menuntut pemahaman terhadap pasar baru. Dokumen, ketentuan produk, serta praktik bisnis dapat berbeda antara satu negara dan negara lainnya. Ketergantungan pada satu pasar dapat meningkatkan tekanan ketika tarif atau regulasi berubah.

Diversifikasi pasar dapat mengurangi ketergantungan tersebut, tetapi pada saat yang sama menambah pekerjaan operasional. Pelaku usaha perlu memastikan produk dapat dikirim ke pasar baru dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Dalam kondisi perdagangan yang semakin dinamis, layanan ekspres tidak lagi hanya berbicara mengenai kecepatan. Kemampuan memenuhi waktu pengiriman yang dijanjikan menjadi bagian penting dari keandalan rantai pasok.

Perusahaan dapat menyesuaikan produksi ketika memiliki perkiraan waktu pengiriman yang dapat dipercaya. Sebaliknya, ketidakpastian membuat pelaku usaha lebih sulit menentukan keputusan produksi dan distribusi.

Baca Juga: Integrasi Tol Jadi Kunci Efisiensi Logistik

DHL Express menghadirkan Heavy Weight Express untuk kiriman hingga 1.000 kilogram per koli dan 3.000 kilogram per pengiriman. Layanan tersebut ditujukan bagi barang berat yang sensitif terhadap waktu, dengan pemantauan melalui Heavy Weight Priority Desks serta penanganan mulai dari penjemputan hingga pengantaran dalam jaringan perusahaan.

Kepastian juga berkaitan dengan visibilitas. Untuk barang bernilai tinggi maupun komponen produksi yang bergerak melewati beberapa negara, pelanggan perlu mengetahui posisi kiriman dan memperoleh informasi ketika terdapat potensi kendala.

Keterlambatan yang diketahui lebih awal masih dapat dikelola oleh perusahaan. 

Sebaliknya, keterlambatan yang tidak disertai informasi dapat mengganggu keseluruhan rencana produksi.

Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tantangannya memiliki skala berbeda, tetapi dampaknya tetap sama. Sekitar 40% pelanggan DHL Express Indonesia berasal dari segmen UMKM. DHL juga melihat adanya pergeseran sebagian pengiriman dari paket kecil menuju volume yang lebih besar dan bernilai tinggi.

“Keunggulan tidak lagi soal siapa yang memulai lebih dulu, tetapi siapa yang mampu berkembang lebih cepat dan konsisten. Keandalan menjadi pembeda,” jelas Ahmad.

Keandalan rantai pasok juga semakin berkaitan dengan pemanfaatan data dan teknologi. Pada Agustus 2026, DHL Express memperkenalkan fitur identifikasi barang berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.

Fitur tersebut membantu pelanggan menyusun deskripsi barang yang sesuai dengan kebutuhan kepabeanan berdasarkan foto barang. Pengembangan ini menunjukkan bahwa ketahanan rantai pasok tidak hanya ditentukan oleh kapasitas armada.

Baca Juga: Harga BBM Naik, Tarif Logistik Bakal Ikut Terkerek? Ini Kata ALFI

Kesalahan informasi pada tahap awal proses pengiriman juga dapat menahan barang meskipun kapasitas angkutan tersedia. Karena itu, akurasi data menjadi bagian dari upaya menjaga kelancaran arus barang lintas negara.

Upaya mengurangi risiko dalam rantai pasok kerap dikaitkan dengan membawa seluruh kegiatan produksi kembali ke dalam negeri. Namun, data keterhubungan global belum menunjukkan perubahan sebesar itu.

Sebagian besar aktivitas bisnis internasional memang sejak awal berlangsung di antara negara-negara yang memiliki hubungan relatif baik. Karena itu, ruang untuk memindahkan seluruh aktivitas perdagangan hanya ke negara yang dianggap sebagai sekutu juga terbatas.

Resiliensi lebih sering berarti menambah pilihan. Perusahaan mencari lebih dari satu pemasok, membangun persediaan untuk barang tertentu, serta menyiapkan rute alternatif.

Strategi tersebut justru dapat menciptakan tambahan arus perdagangan karena komponen dan investasi bergerak menuju lokasi baru. Bagi Indonesia, peluangnya terletak pada kemampuan menjadi bagian dari pilihan tersebut.

Indonesia memiliki basis manufaktur, pasar domestik yang besar, serta posisi di kawasan yang diproyeksikan tumbuh cepat. Namun, tingkat keterhubungan Indonesia dengan ekonomi global masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.

Dalam DHL Global Connectedness Index, Indonesia berada di peringkat ke-112 dari 180 negara. Posisi tersebut menunjukkan bahwa potensi perdagangan Indonesia belum sepenuhnya berubah menjadi keterhubungan global yang lebih dalam dan tersebar luas.

Poppy Ariani, VP Commercial DHL Express Indonesia, mengatakan akses menjadi salah satu faktor penting dalam memanfaatkan permintaan global.

“Permintaan global itu ada dan terus berkembang. Kuncinya sekarang adalah akses, cepat, konsisten, dan kompetitif,” kata Poppy.

Baca Juga: Pasar Logistik Tumbuh, ESR-INA Bangun Dua Gudang di Cikarang

Menurut dia, konektivitas dan keandalan logistik kini tidak lagi sekadar menjadi fungsi pendukung, tetapi menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan.

Bagi perusahaan logistik, perubahan pola perdagangan tersebut menuntut jaringan yang mampu menghubungkan rute global dengan kebutuhan lokal. Jaringan tersebut mencakup armada dan hub, tetapi juga proses kepabeanan, teknologi untuk memperbaiki data kiriman, serta titik layanan yang dapat dijangkau pelaku usaha.

Pembukaan service point DHL Express di Fatmawati, Jakarta Selatan, pada Maret 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana jaringan global bertemu dengan kebutuhan lokal. Fasilitas tersebut melayani UMKM, penjual daring, pekerja kreatif, hingga perusahaan yang mengirimkan sampel, barang jadi, atau material.

Pada tingkat pelanggan, ketahanan rantai pasok dapat dimulai dari akses yang lebih mudah untuk menyerahkan barang sekaligus memperoleh penjelasan ketika proses pengiriman menghadapi kendala.

Indonesia berpotensi memperoleh manfaat dari perdagangan global yang semakin multipolar apabila konektivitas ikut diperkuat. Peringkat dalam indeks keterhubungan global menunjukkan tantangannya masih besar. 

Namun, proyeksi pertumbuhan perdagangan memberikan ruang bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan untuk memperkuat kapasitas sebelum peluang berpindah ke negara lain.

Dengan demikian, perubahan rute perdagangan global tidak serta-merta berarti dunia menjadi lebih tertutup. Bagi Indonesia, perubahan tersebut justru dapat menjadi ruang untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok global, selama kemampuan menghubungkan kekuatan lokal dengan pasar internasional ikut dibangun.

Baca Juga: Biaya Operasional Logistik Tertekan Kenaikan Harga Komponen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News