Perdagangan Saham AS di SGX Masih Sepi, Ini Tantangan Bursa Singapura



KONTAN.CO.ID - Upaya Singapura memperluas perdagangan saham Amerika Serikat (AS) pada jam perdagangan Asia belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Volume transaksi produk saham AS di Singapore Exchange (SGX) masih sangat rendah karena investor memiliki banyak alternatif produk untuk mendapatkan eksposur terhadap pasar saham AS.

Baca Juga: TotalEnergies Pacu Investasi Gas di Nigeria Lewat Ladang Ima


Melansir Reuters Rabu (23/9/2026), SGX mulai mencatatkan tiga saham AS melalui program Singapore Depository Receipts (SDR) pada Juli 2026. Tiga saham tersebut adalah Grab, Sea Ltd dan SpaceX, yang diperdagangkan dalam denominasi lokal.

Namun, hingga 18 September 2026, nilai transaksi SDR SpaceX baru mencapai sekitar US$ 2,3 juta.

Angka tersebut sangat kecil dibandingkan rata-rata nilai transaksi harian SGX yang sekitar S$ 2 miliar maupun nilai perdagangan saham SpaceX di Nasdaq yang mencapai sekitar US$ 336,6 miliar pada periode yang sama, berdasarkan perhitungan Reuters.

Reuters menghitung, nilai transaksi SDR SpaceX di Singapura hanya sekitar 0,0007% dari total transaksi saham perusahaan tersebut di AS sejak pencatatan di Singapura.

Sementara itu, nilai transaksi SDR Grab dan Sea mencapai sekitar US$ 24 juta pada periode tersebut. Sebagai pembanding, nilai perdagangan kedua saham tersebut di AS mencapai sekitar US$ 26 miliar.

Baca Juga: Kamboja Tegaskan Tak Jadi Surga Sindikat Penipuan Online

Persaingan produk perdagangan saham AS

Program SDR pertama kali diluncurkan SGX pada 2023 dan menjadi bagian dari upaya Singapura meningkatkan daya tarik pasar saham domestiknya.

Bursa Singapura selama ini dinilai tertinggal dibandingkan status negara tersebut sebagai salah satu pusat keuangan utama di Asia.

SGX menyebut sebanyak 38 saham telah tercatat melalui program SDR, termasuk saham dari Thailand, Indonesia dan Hong Kong.

Menurut SGX, SDR memberikan akses kepada investor terhadap perusahaan global selama jam perdagangan Asia dan bukan ditujukan untuk menyaingi volume transaksi saham di pasar asal.

Baca Juga: Keluarga Persson Borong Saham, H&M Menuju Go Private

Namun, minimnya minat investor terhadap produk tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi SGX dan bursa regional lain ketika pasar global bergerak menuju perdagangan saham AS selama 24 jam.

Chris Forbes, Head of Asia and Middle East di CMC Markets Singapura menyebut, peluncuran SDR sejauh ini berjalan antiklimaks.

"Mereka terlambat masuk ke pasar. Semua pihak lain sudah mengembangkan alternatif," ujarnya.

Permintaan yang kuat terhadap saham AS secara global mendorong broker, bursa, hingga perusahaan kripto mengembangkan berbagai produk derivatif dan instrumen lain yang menawarkan akses perdagangan saham AS sepanjang waktu.

Nasdaq dan NYSE Arca tengah mempersiapkan peluncuran program perdagangan 24 jam pada 6 Desember. Sementara itu, London Stock Exchange menargetkan peluncuran perdagangan serupa pada paruh pertama tahun depan.

Investor Singapura masih asing dengan SDR

Luke Lim, Managing Director di broker Singapura Phillip Securities, yang ditunjuk SGX sebagai penerbit SDR, mengatakan pihaknya masih berencana meluncurkan lebih banyak produk.

Dalam mekanisme tersebut, Phillip Securities memiliki saham yang mendasari SDR melalui skema penitipan dan kemudian menjual unit SDR kepada investor lokal.

Namun, Carmen Lee, Head of Equity Research OCBC, mengatakan investor lokal umumnya lebih familiar dengan perusahaan yang tercatat secara langsung di bursa domestik.

Baca Juga: Ekonomi Australia Kehilangan Momentum, Data PMI Awal September Turun ke 50,8

"Banyak investor di Singapura masih belum terlalu familiar dengan SDR," ujarnya.

Selain tingkat pemahaman investor yang masih terbatas, SDR juga belum masuk dalam indeks acuan utama seperti Straits Times Index maupun indeks MSCI.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi SGX untuk meningkatkan likuiditas produk SDR sekaligus menarik lebih banyak investor regional di tengah persaingan perdagangan saham AS yang semakin ketat.