Perebutan mega proyek PLTU Sumsel memanas



JAKARTA. Persaingan antara peserta tender proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Mulut Tambang Sumatera Selatan 9 dan 10 tercium begitu sengit. Beragam strategi diterapkan untuk memenangkan tender, termasuk menyokong pembatasan kalori batubara kadar 3.000 kilokalori per kilogram (kkal per kg).

Lihat saja yang dilakukan PT Pendopo Energi Batubara. Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang turut tender ini, getol mendorong penerapan syarat penggunaan batubara kadar di bawah 3.000 kkal per kg.

Alasannya, batubara jenis ini amat melimpah di Sumatera Selatan dan lebih murah.    Itu sebabnya, "Kami berharap PLN tetap mempertahankan syarat penggunaan batubara di bawah kalori 3.000 kkal  per kg sebagai syarat tender," tandas  Bambang Triharyono, General Manager PT Pendopo Energi Batubara kepada KONTAN, Selasa (18/8).


Selain Pendopo,  PT Baramulti Suksessarana Tbk, PT Adi Coal, PT Duta Resources, PT Hanson Internasional Tbk, PT Adimas Puspitasari, dan satu perusahaan asal Malaysia memiliki konsesi batubara  kadar di bawah 3.000 kkal per kg di Sumsel.  Mereka juga  turut menjadi peserta tender proyek ini.

Nah, masalahnya, pembatasan kadar kalori batubara inilah yang diprotes oleh peserta lainnya. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) adalah dua peserta tender proyek itu yang keberatan ketentuan ini. Kedua perusahaan itu berharap tidak ada batasan pemakaian kalori tertentu sebagai syarat tender.

Namun Bambang menjelaskan, di tengah ancaman krisis listrik di Pulau Jawa dan Bali, pembangunan proyek pembangkit listrik harus digeber. Pilihan untuk mengembangkan PLTU Mulut Tambang berbasis batubara 3.000 kkal per kg juga pilihan paling tepat karena ketersediaan bahan bakarnya melimpah.

Sebagai contoh, saat ini, Pendopo Energi memiliki areal konsesi batubara seluas 17.000 hektare (ha) di Kabupaten Prabumulih, Sumsel. Cadangan batubara di kawasan konsesi ini  mencapai 2,3 miliar ton. Adapun total cadangan batubara batubara dengan kalori di bawah 3.000 kkal per kg di Sumatera mencapai sebanyak 40 miliar ton.

Sekitar 50% dari total cadangan tersebut atau 20 miliar ton berada di Sumatra Selatan. "Jika dikonversi menjadi listrik, 20 miliar ton cadangan batubara berkalori di bawah 3.000 kkal per kg itu setara dengan listrik 99.000 megawatt (MW)," terang Bambang.

Harga batubara kalori di bawah 3.000 kkal per kg juga tak terpengaruh harga pasar batubara di pasar internasional. Maklum, batubara jenis ini tidak diperdagangkan di pasar global karena memang tidak ada permintaan batubara jenis ini. "Kadar air batubara 3.000 kkal per kg yang tinggi membuatnya mudah rusak jika diangkut dengan kapal atau truk," tandas dia.

Memang, biaya investasi PLTU Mulut Tambang berbasis batubara kalori 2.300-3.000 kkal/kg menelan biaya investasi lebih tinggi, yakni US$ 0,031 per kwh. Sebagai perbandingan, biaya investasi untuk PLTU Mulut Tambang dengan bahan bakar batubara berkalori 4.100 kkal per kg hanya memakan biaya US$ 0,028 per kwh.

Harga listrik bisa tetap

Toh, Bambang menilai, penggunaan kalori 4.000-4.500 kkal per kg untuk proyek PLTU Mulut Tambang tidak cocok. Sebab harga batubara jenis ini tergantung Harga Batubara Acuan (HBA) Newcastle dan Indonesia Coal Index (ICI). Akibatnya, jika harga batubara 4000 kkal naik, harga listrik yang dibeli PLN juga akan naik.

Dia mencontohkan, kini harga batubara kalori 4.000 kkal per kg- 4.500 kkal per kg sekitar US$ 70 per ton. Alhasil, harga jual listrik berkisar US$ 0,11 per kwh. "Sedangkan harga batubara lignit di bawah 3.000 kkal per kg bisa fix hingga 25 tahun karena tidak tergantung pasar," jelas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan