Perempuan di desa peduli gambut dorong karya fesyen berkelanjutan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lebaran masih tiga minggu lagi. Biasanya orang mulai memikirkan busana yang akan dikenakan, baik untuk sendiri atau bersama keluarga. Setiap orang perlu dan suka mengenakan busana. Tetapi, belum semua orang mengetahui bahwa busana yang dipakainya itu bisa saja menyumbang pada pencemaran lingkungan. 

Fesyen berkelanjutan atau sustainable fashion adalah gerakan yang mulai tumbuh belakangan ini untuk menjadikan gaya berbusana semakin ramah lingkungan. Dikutip dari laman zerowaste.id, fesyen berkelanjutan adalah praktik fesyen yang mengedepankan nilai-nilai perlindungan lingkungan dan kemanusiaan. 

Fesyen berkelanjutan menganjurkan sebanyak mungkin menggunakan unsur alam dalam busana dan perangkat pendukungnya. Tidak berlebihan, karena tekstil yang menjadi bahan dasar busana kita banyak pula yang mengandung material kimiawi yang berpotensi mencemari lingkungan, terutama akibat pembuangan air pencuciannya. 

Baca Juga: Kemenperin dorong peningkatan peran industri fashion dalam pemulihan ekonomi

Jika di kota orang mulai gandrung dengan bahan tekstil dan busana ramah lingkungan, nun jauh di pelosok Kalimantan Selatan, kaum perempuan memproduksi tekstil ramah lingkungan dalam bentuk kain tradisional yang dikenal dengan nama sasirangan. Kain sasirangan aneka rupa ini menggunakan pewarnaan alam yang diambil dari tumbuh-tumbuhan yang ada di lahan gambut. 

Kelompok Eco Teratai di Hulu Sungai Utara (HSU) dan Kelompok Aneka Karya Sasirangan di Kabupaten Balangan adalah dua dari beberapa kelompok perajin sasirangan yang sudah mampu memproduksi kain-kain berpewarnaan alam dengan baik. Produk mereka sudah dikenal luas dan juga dipasarkan secara online

Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) membina kelompok-kelompok ini, mulai dari peningkatan keterampilan, pemasaran, pembentukan koperasi, hingga tata kelola organisasi yang baik. Kedua kelompok mempunyai aturan yang mewajibkan setiap anggotanya menanam tumbuhan-tumbuhan yang dapat dijadikan bahan pokok pewarna alam. Termasuk di antaranya tanaman yang sudah mulai langka seperti kayu ulin.

Pemasaran produk umumnya menjadi kendala utama bagi pengembangan UMKM. Kelihatannya hal itu tidak terlalu masalah bagi kelompok perajin sasirangan ini. Selain dengan pemasaran online dan mengikuti berbagai pameran di tingkat nasional dan daerah, dukungan pemerintah daerah juga menjadi kunci keberhasilan. “Saat ini kami lagi mengerjakan pesanan Pemerintah Kabupaten HSU untuk menyediakan seragam bagi HUT Kabupaten. Jumlahnya sangat banyak dan perlu waktu cukup mengerjakan karena semua produk kami buatan tangan,” kata Linda dari Kelompok Eco Teratai.  

Sementara itu Pemerintah Kabupaten Balangan melalui Dinas yang mengurus UMKM juga memberi dukungan untuk peningkatan kapasitas para perajin.

Baca Juga: ShopeePay ungkap tiga strategi dalam menjaring peluang saat Ramadan

Solidaritas antar kelompok pun terbangun baik di antara para perajin ini. Kelompok perajin sasirangan di HSU, misalnya, menularkan pengetahuan pada kelompok di Balangan. Sementara kelompok Aneka Karya Sasirangan di Balangan, mendukung kelompok perajin purun di desa mereka yang mulai bangkit, dengan membeli produk dan memasarkan bersama produk mereka.

“Pengalaman dari Desa-desa Peduli Gambut di Kalsel ini menunjukkan pada kita bahwa soal melindungi ekosistem gambut bukan semata soal teknis tetapi juga terkait dengan kebudayaan dan gaya hidup. Fesyen berkelanjutan menjadi penghubung kedua hal itu. Keanekaragaman hayati di lahan gambut terjaga dan makin kaya, ketika memberi pula manfaat ekonomi bagi masyarakat. Di sisi lain, kita juga perlu ingat pada perdagangan beretika yang penting diusung dalam usaha ini sehingga dimensi kemanusiaan tetap terpelihara,” kata Deputi Bidang Edukasi dan Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRGM, Myrna Safitri dalam keterangannya, Rabu (21/4).

Selanjutnya: Bangga Buatan Indonesia: Rancangan Apip's Batik digemari penggemar kelas atas

 

Editor: Tendi Mahadi