KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kelompok peretas asal China dilaporkan berhasil membobol sistem email yang digunakan sejumlah staf komite penting di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat. Laporan ini disampaikan Financial Times (FT), Rabu (7/1/2026), dengan mengutip sumber yang mengetahui kasus tersebut. Menurut FT, kelompok peretas yang dijuluki Salt Typhoon mengakses sistem email staf Komite China di DPR AS, serta para ajudan di komite yang membidangi urusan luar negeri, intelijen, dan angkatan bersenjata.
Namun, laporan itu tidak merinci identitas staf yang menjadi sasaran.
Baca Juga: Nancy Pelosi, Perempuan Pertama yang Jadi Ketua DPR AS Akan Pensiun dari Kongres Hingga kini,
Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Juru bicara Kedutaan Besar China di AS, Liu Pengyu, mengecam laporan itu dan menyebutnya sebagai “spekulasi serta tuduhan yang tidak berdasar.” Sementara itu, Biro Investigasi Federal (FBI) menolak memberikan komentar. Gedung Putih dan kantor empat komite yang disebut menjadi target juga belum memberikan tanggapan. FT mengutip seorang sumber yang menyebutkan belum dapat dipastikan apakah peretas berhasil mengakses email para anggota DPR. Aksi peretasan itu diketahui terdeteksi pada Desember lalu.
Baca Juga: Serangan Salt Typhoon, Email Staf Komite Berpengaruh di Kongres AS Diretas Anggota parlemen AS dan para staf mereka, terutama yang mengawasi lembaga militer dan intelijen, memang sejak lama menjadi target utama spionase siber. Kasus peretasan maupun upaya peretasan terhadap lembaga legislatif AS dilaporkan terjadi secara berkala. Pada November lalu, Senate Sergeant at Arms memberi tahu sejumlah kantor senator mengenai sebuah “insiden siber” yang diduga memungkinkan peretas mengakses komunikasi antara Kantor Anggaran Kongres (Congressional Budget Office/CBO) dan beberapa kantor Senat. Pada 2023, The Washington Post juga melaporkan dua anggota parlemen senior AS menjadi target operasi peretasan yang dikaitkan dengan Vietnam. Kelompok Salt Typhoon sendiri sudah lama menjadi perhatian serius komunitas intelijen AS. Kelompok ini diduga bekerja untuk intelijen China dan dituduh mengumpulkan data komunikasi telepon warga AS secara luas, termasuk menyadap percakapan pejabat pemerintah dan politisi senior.
Baca Juga: Delegasi DPR AS Kunjungi Beijing, Upaya Pecah Kebekuan Hubungan dengan China Pemerintah China berulang kali membantah tuduhan tersebut. Pada awal tahun lalu, pemerintah AS menjatuhkan sanksi kepada peretas yang diduga terlibat, Yin Kecheng, serta perusahaan keamanan siber Sichuan Juxinhe Network Technology, dengan tuduhan keterlibatan dalam operasi Salt Typhoon.