Peretas Iran Bobol Email Direktur FBI, Ratusan Data Bocor



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kelompok peretas yang dikaitkan dengan Iran dilaporkan berhasil membobol email pribadi Direktur FBI Kash Patel dan mempublikasikan sejumlah foto serta dokumen ke internet. Insiden ini dikonfirmasi oleh pihak FBI pada Jumat (27/3/2026), di tengah meningkatnya tensi konflik siber seiring eskalasi geopolitik global.

Kelompok peretas bernama Handala Hack Team mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dalam situsnya, kelompok ini menyatakan Patel kini menjadi bagian dari daftar korban peretasan mereka.

Para peretas mempublikasikan sejumlah foto pribadi Patel, termasuk saat sedang merokok cerutu, mengendarai mobil klasik, hingga berfoto dengan botol minuman keras. Selain itu, mereka juga merilis sampel lebih dari 300 email yang diduga merupakan campuran korespondensi pribadi dan pekerjaan dari periode 2010 hingga 2019.

FBI Konfirmasi Insiden, Minim Risiko Data Pemerintah


FBI mengonfirmasi bahwa akun email Patel menjadi target serangan. Juru bicara FBI, Ben Williamson, menyatakan bahwa pihaknya telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memitigasi risiko.

Baca Juga: Gejolak Timur Tengah: Houthi dan Iran Resmi Sekutu, Dunia Bergejolak

Ia menegaskan bahwa data yang terdampak bersifat lama dan tidak mencakup informasi pemerintah yang sensitif. Meski demikian, Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen keaslian email yang dipublikasikan tersebut.

Alamat Gmail yang diklaim diretas diketahui sesuai dengan data yang pernah muncul dalam kebocoran sebelumnya yang terdokumentasi oleh perusahaan intelijen siber. Hingga saat ini, Google sebagai pengelola Gmail belum memberikan tanggapan resmi.

Bagian dari Strategi Tekanan Siber

Kelompok Handala, yang mengklaim sebagai peretas vigilante pro-Palestina, oleh sejumlah peneliti Barat dianggap sebagai salah satu identitas yang digunakan unit intelijen siber Iran.

Dalam beberapa waktu terakhir, kelompok ini juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap perusahaan perangkat medis AS Stryker serta kebocoran data karyawan perusahaan pertahanan Lockheed Martin.

Menurut analis keamanan siber dari perusahaan Check Point, Gil Messing, aksi peretasan dan penyebaran data ini merupakan bagian dari strategi Iran untuk mempermalukan pejabat Amerika Serikat dan menciptakan rasa kerentanan.

Baca Juga: Malaysia Batasi Pembelian BBM RON 95 Mulai Pekan Depan

Pola Serangan yang Berulang

Serangan terhadap email pribadi pejabat tinggi bukan hal baru. Pada 2016, akun Gmail milik John Podesta—ketua kampanye Hillary Clinton—diretas dan datanya dipublikasikan melalui WikiLeaks. Pada 2015, akun pribadi Direktur CIA saat itu, John Brennan, juga pernah dibobol oleh peretas remaja.

Berdasarkan penilaian intelijen AS, Iran dan kelompok proksinya diperkirakan akan terus melakukan serangan siber skala rendah sebagai respons atas konflik yang berlangsung, termasuk setelah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

Potensi Kebocoran Data Lebih Besar

Laporan juga menyebutkan bahwa kelompok peretas lain dengan nama samaran “Robert” sebelumnya mengklaim memiliki hingga 100 gigabyte data yang dicuri dari lingkaran dekat Presiden Donald Trump, termasuk kepala staf Gedung Putih. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi hingga kini.

Seiring konflik geopolitik yang semakin memanas, serangan siber diperkirakan akan menjadi salah satu alat utama dalam perang modern, dengan risiko yang semakin meluas ke sektor pemerintahan, bisnis, dan individu.