KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Peretas membobol aset senilai US$ 6,3 miliar dari Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia. Para analis menuding Korea Utara sebagai pihak di balik pencurian ini, yang disebut-sebut sebagai perampokan finansial terbesar sepanjang masa. Para peretas Korea Utara yang diduga berada di balik pembobolan aset kripto tersebut tergolong sebagai pencuri kripto paling produktif di dunia.
Reuters, Sabtu (31/10/2026),melaporkan, menurut para pakar keamanan siber, hasil peretasan tersebut digunakan untuk mendanai program persenjataan Korea Utara.
Perusahaan investigasi blockchain, TRM Labs dan Chainalysis, mengaitkan pencurian tersebut dengan kelompok peretas Korea Utara yang dikenal sebagai "TraderTraitor". Nama ini sempat muncul dalam peringatan bersama tahun 2022 dari FBI, CISA, dan Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS), yang menjelaskan bagaimana para peretas menggunakan perangkat lunak berbahaya serta berbagai taktik lain untuk menargetkan pengembang perangkat lunak dan staf TI di perusahaan mata uang kripto.
Baca Juga: Binance Kebobolan US$ 6 Miliar dalam Pencurian Siber Terbesar, FBI Turun Tangan Korea Utara telah mencuri setidaknya US$ 6,75 miliar dalam bentuk mata uang kripto hingga akhir tahun 2025, ungkap Chainalysis dalam sebuah laporan pada Desember 2025. Jumlah tersebut mencakup pencurian senilai $1,5 miliar dari bursa ByBit pada Februari 2025. Kelompok ini juga menyerang bursa lain, Bitget, dengan mengambil dana sebesar US$ 387 juta pada bulan September 2026, menurut para ahli. Michael Barnhart, seorang peneliti di perusahaan keamanan siber DTEX, menyatakan, total mata uang kripto yang dicuri oleh Korea Utara mencapai setidaknya sekitar US$ 13,5 miliar. Pihak Binance menyatakan, mereka bersama pihak lain sedang berupaya membekukan sebagian dari mata uang kripto yang dicuri tersebut, dengan sekitar US$ 3 miliar di antaranya telah berhasil dilacak sejauh ini. "Setelah insiden Bitget, banyak pihak di komunitas kripto sudah menduga hal seperti ini akan terjadi," ujar Barnhart. Ia menambahkan TraderTraitor merupakan kelompok peretas Korea Utara yang paling cakap, dengan fokus utama pada sektor keuangan. Kelompok ini beranggotakan beberapa operator paling berpengalaman dalam program siber rezim tersebut, yang berasal dari jajaran APT38"—sebutan untuk unit peretas Korea Utara yang telah lama beroperasi dengan fokus pada target finansial. Para peneliti menyebutkan, TraderTraitor menargetkan pengembang dan staf TI di lembaga keuangan melalui perangkat lunak berbahaya (malware) atau tawaran pekerjaan palsu. Mereka mengecoh kandidat agar mengunduh perangkat lunak berbahaya saat wawancara kerja palsu, yang kemudian memberikan akses kepada peretas untuk mendapatkan kredensial masuk serta data sensitif lainnya.
Baca Juga: Binance Berupaya Pulihkan Kepercayaan Setelah Dibobol US$ 6,3 Miliar Rafe Pilling, direktur senior riset ancaman di Sophos, mengatakan, laporan awal mengenai cara peretas menyusupi Binance sesuai dengan pola operasi Korea Utara. Kelompok ini sangat ahli dalam memahami bagaimana sistem perusahaan dan stafnya menyetujui transfer dana. "Kelompok ini bisa dibilang sangat piawai dalam menyusup ke perusahaan-perusahaan keuangan terdesentralisasi," ujar Pilling.
Pendanaan Senjata
Menurut Barnhart, setelah mencuri dana tersebut, para peretas menyerahkannya kepada kelompok kejahatan terorganisasi asal China yang bergerak di bidang pencucian uang. Dalam pengumuman layanan publik tertanggal 13 Oktober, FBI menyatakan bahwa warga Korea Utara juga secara diam-diam bekerja di perusahaan teknologi dan keuangan di Amerika Serikat serta negara lain. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan uang yang kemudian dikirimkan kepada pemerintah Korea Utara, sekaligus mencuri data sensitif. FBI menambahkan, dana yang diperoleh oleh para pekerja dan peretas ini turut membiayai program nuklir dan militer Korea Utara. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan, kejahatan siber yang dilakukan Korea Utara merupakan masalah global. Menurutnya, negara tersebut semakin sering beralih ke kejahatan siber untuk menghindari sanksi internasional serta mendanai program senjata pemusnah massal dan rudal balistik mereka yang ilegal. "Pencurian dan pencucian mata uang kripto telah menjadi bagian penting dari strategi ini," ujarnya.
Baca Juga: Pasar Global: Saham Jatuh, Emas Merosot, Kripto Drop, Obligasi Menguat Barnhart menyebutkan, pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, telah menyerukan agar negaranya mencapai "keunggulan mutlak" dalam teknologi pesawat nirawak (drone) dan teknologi militer lainnya. Kemajuan dalam program drone tersebut berkaitan langsung dengan aksi pencurian dan skema penempatan pekerja TI di luar negeri. Ia menambahkan Korea Utara juga turut mendukung upaya perang Rusia. "Korea Utara telah mengirimkan pasukan, amunisi, dan komponen senjata ke Rusia—semuanya didanai melalui sistem yang sama. Itulah sebabnya peretasan mata uang kripto bukan sekadar masalah bagi bursa yang menjadi korban, melainkan isu keamanan nasional," kata Barnhart.