KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kasus peretasan bursa kripto Binance senilai US$ 6,3 miliar mulai meningkatkan kewaspadaan perusahaan asuransi terhadap risiko keamanan di industri aset digital. Insiden pencurian kripto terbesar yang pernah tercatat tersebut diperkirakan akan membuat perusahaan asuransi memperketat pemeriksaan keamanan terhadap perusahaan kripto. Penanggung asuransi (underwriter) kemungkinan akan lebih mendalami potensi kerentanan serupa ketika perusahaan mengajukan polis baru maupun memperpanjang perlindungan yang sudah dimiliki. Sejumlah pelaku industri dan pakar asuransi menyebutkan, insiden tersebut tidak serta-merta membuat perusahaan asuransi menarik diri dari sektor kripto atau mengurangi ketersediaan perlindungan. Namun, besarnya nilai kerugian berpotensi mendorong evaluasi lebih ketat terhadap eksposur perusahaan kripto terhadap Binance serta kelemahan keamanan yang terungkap dalam serangan tersebut.
Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menyebut kelompok yang memiliki keterkaitan dengan Korea Utara sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan keterbatasan perlindungan asuransi yang tersedia bagi industri kripto global, yang nilai pasarnya telah melampaui US$ 2,5 triliun.
Baca Juga: Inflasi AS Masih Tinggi, Pejabat The Fed Tegaskan Target 2% Para pakar menilai belum ada produk asuransi kripto yang mampu menanggung kerugian sebesar yang dialami Binance. Selain itu, banyak polis asuransi memiliki klausul pengecualian untuk serangan siber yang didukung negara. Grand View Research memproyeksikan pasar asuransi kripto global akan tumbuh menjadi US$ 192,7 miliar pada 2033, dari US$ 13,8 miliar pada 2026. Managing Director Financial Institutions Gallagher, David Rogers, mengatakan perusahaan asuransi akan mulai mengajukan pertanyaan khusus terkait hubungan bisnis dan eksposur perusahaan kripto terhadap Binance. "Perusahaan asuransi akan mengajukan pertanyaan khusus terkait Binance. Pertanyaan pertama mereka akan sangat sederhana: seberapa besar eksposur Anda terhadap Binance dan apakah Anda memiliki dana di sana?" kata Rogers. Menurut dia, seiring terungkapnya lebih banyak informasi mengenai penyebab peretasan, pertanyaan dari perusahaan asuransi berpotensi semakin spesifik dan memengaruhi proses penilaian risiko (underwriting) di industri tersebut.
Perusahaan Asuransi Perketat Pemeriksaan Saat Perpanjangan Polis
Berdasarkan laporan yang diterbitkan Binance pada pekan ini, peretas menggunakan modus wawancara kerja palsu dan perangkat lunak yang disembunyikan dalam sebuah iklan untuk menyusup ke komputer dua insinyur perangkat lunak Binance. Setelah berhasil mengakses perangkat tersebut, peretas menggunakan komputer ketiga untuk menguras aset kripto senilai US$ 6,3 miliar. Bursa kripto terbesar di dunia itu mengungkapkan bahwa serangan tersebut merupakan rangkaian peretasan bertahap yang telah dimulai sejak Juni. Serangkaian pelanggaran keamanan tersebut kemudian berujung pada pencurian aset kripto pada Kamis.
Baca Juga: Korban Serangan Rusia di Ukraina Bertambah Jadi 53 Orang Pasca-insiden tersebut, sejumlah bursa kripto bergerak cepat memperkuat sistem pertahanan mereka sekaligus mendorong peningkatan pertukaran informasi mengenai ancaman keamanan di antara pelaku industri. Dampak terhadap industri asuransi diperkirakan akan semakin terlihat ketika perusahaan kripto memperpanjang polis mereka. Umumnya, polis asuransi berlaku selama satu tahun sehingga memberikan kesempatan kepada penanggung untuk mengevaluasi kembali risiko nasabah, meminta informasi terbaru, serta menetapkan persyaratan keamanan tambahan sebelum memperpanjang perlindungan. Pemimpin Financial Institutions and Digital Asset Industry Marsh, Jacqueline Quintal, mengatakan dirinya tidak memperkirakan akan terjadi perubahan material terhadap kapasitas, harga, maupun cakupan asuransi. Meski demikian, perusahaan asuransi diperkirakan akan mengajukan lebih banyak pertanyaan kepada nasabah, termasuk mengenai kemungkinan mereka mengalami serangan serupa dengan yang menimpa Binance. "Anda tentu tidak ingin menjadi orang yang, seminggu setelah kejadian ini, memperpanjang atau menerbitkan polis untuk risiko kripto, lalu kejadian yang sama kembali terjadi," ujar Quintal. Pemeriksaan tersebut juga berpotensi melampaui evaluasi umum terhadap sistem keamanan siber perusahaan. Penanggung dapat mulai memeriksa secara khusus kelemahan yang ditemukan dalam investigasi peretasan Binance dan meminta jaminan bahwa kerentanan serupa tidak ditemukan di perusahaan lain. Pengacara asuransi di London dari Reed Smith, Peter Hardy, mengatakan perusahaan asuransi dapat menetapkan persyaratan tambahan apabila investigasi menemukan kelemahan spesifik dalam sistem keamanan Binance. "Jika hasil investigasi peretasan ini menunjukkan adanya kelemahan atau celah yang sangat spesifik dalam sistem keamanan Binance, perusahaan asuransi lain tentu dapat mengharuskan kelemahan atau celah tersebut diperbaiki," kata Hardy.
Perlindungan Asuransi Kripto Masih Terbatas
Besarnya nilai pencurian di Binance juga menyoroti keterbatasan perlindungan asuransi bagi perusahaan cryptocurrency. Selama ini, cakupan perlindungan asuransi di sektor tersebut belum seragam.
Baca Juga: Laba Piaggio, Produsen Vespa Melonjak 18% Ditopang Ekspansi Pasar Global Co-chair Insurance, Reinsurance & Dispute Resolution Group Herrick, Alan Lyons, mengatakan kerugian dalam skala besar dapat mendorong perusahaan asuransi mengevaluasi kembali keseluruhan portofolio bisnis kripto mereka. "Kerugian sebesar ini mendorong penanggung untuk mengevaluasi kembali seluruh portofolio asuransi kripto mereka, bukan hanya nasabah yang terdampak. Mereka perlu menilai kembali total eksposur risiko, ketentuan polis, serta batas sublimit di seluruh portofolio," ujar Lyons. Menurut dia, respons yang paling mungkin terjadi adalah pengetatan ketentuan polis dan penegasan klausul pengecualian perlindungan. Keterlibatan Korea Utara dalam serangan tersebut juga berpotensi mempersulit proses pengajuan klaim asuransi. Selama bertahun-tahun, Korea Utara dituding memanfaatkan unit siber yang terkait dengan negara untuk melakukan spionase dan pencurian keuangan. Tuduhan tersebut disampaikan otoritas Amerika Serikat dan Korea Selatan serta sejumlah pakar keamanan siber. Namun, Pyongyang telah membantah tuduhan tersebut. Managing Director Global Financial Institution Ratings Morningstar DBRS, Marcos Alvarez, mengatakan keterlibatan Korea Utara dapat menjadi persoalan tersendiri dalam proses klaim asuransi. Pasalnya, polis asuransi siber yang ditempatkan di Lloyd's secara umum telah mensyaratkan pengecualian terhadap serangan yang didukung negara sejak 2023. Selain itu, nilai kerugian Binance juga melampaui kapasitas perlindungan polis asuransi yang tersedia saat ini. "Jika suatu serangan dikaitkan dengan sebuah negara, perusahaan asuransi dapat memperdebatkan atau menolak klaim. Efektivitas klausul pengecualian ini dalam menghadapi kerugian besar yang didorong faktor geopolitik belum pernah benar-benar teruji," kata Alvarez. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi industri asuransi kripto yang diperkirakan masih akan berkembang seiring meningkatnya layanan penyimpanan aset digital (custody) dan adopsi cryptocurrency secara lebih luas.
Baca Juga: China Sahkan UU Riset Antartika, Perketat Pengawasan Aktivitas Eksplorasi Bahkan, apabila beberapa polis asuransi sekaligus dapat memberikan perlindungan, kapasitas gabungan tersebut tetap diperkirakan tidak cukup untuk menanggung kerugian sebesar yang dialami Binance. Meski demikian, Hardy menilai prospek pasar asuransi kripto masih terbuka. Kehati-hatian dari calon pemain baru kemungkinan meningkat, tetapi pasar diperkirakan dapat kembali stabil seiring waktu. "Calon pemain baru yang ingin masuk ke pasar mungkin akan lebih berhati-hati, tetapi pasar akan kembali menemukan keseimbangannya dan pada akhirnya pulih," ujar Hardy.