Performa indeks perbankan cemerlang, begini rekomendasi dari analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja indeks sektor keuangan cukup mentereng di tahun ini. Secara year to date hingga Selasa (2/7), indeks sektor keuangan yang mayoritas ditopang sektor perbankan sudah menguat 11,39%. Jauh di atas kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebesar 3,07% di periode sama. Sejumlah analis menilai banyak sentimen positif yang menguatkan sektor keuangan ini.

Beberapa emiten anggota indeks sektor keuangan performa sahamnya terbilang moncer. Misal saham PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) yang naik 49,25% ytd hingga Selasa (2/7), saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) naik 25,60%. Kemudian saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 20,22% di periode sama dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) harganya naik 15,38% ytd hingga Selasa (2/7). Kinerja yang positif ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma menjelaskan sejak 2017, indeks sektor perbankan satu-satunya yang kinerjanya selalu lebih baik dari IHSG.


“Hal ini ditopang oleh empat bank masuk dalam daftar sepuluh teratas kapitalisasi pasar terbesar dan BBCA serta BBRI berapa di urutan lima besar top market,” jelasnya kepada Kontan.co.id, Rabu (3/7). Selain BBCA dan BBRI, dua bank lain yang masuk 10 market cap terbesar adalag BMRI dan BBNI.

Bahkan, menurut Suria, dengan free float adjustment dalam perhitungan saat ini, bobot empat bank tersebut malah naik. Suria bilang, pendorong kinerja saham emiten perbankan beragam ceritanya.

Misalnya BINA yang kinerja sahamnya baik setelah sahamnya dibeli Grup Salim melalui NS Financials Fund dan NS Asean Finacial Fund, dua tahun yang lalu.

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas menambahkan, salah satu alasan indeks perbankan kinerjanya baik karena berada di tahun politik. “Pada tahun politik, asing melakukan net buy terutama pada saham-saham perbankan yang memilki kapitalisasi pasar besar,” jelasnya.

Selain itu, menurut Sukarno, fundamental sektor perbankan juga yang kuat. Tambah lagi, tingkat risiko atau persepsi risiko investasi di Indonesia kembali mengalami perbaikan terlihat dari credit default swap (CDS) Indonesia yang menurun.

Diantara emiten sektor perbankan, Sukarno menilai saham-saham bank second liner cukup menarik karena mampu memberi cuan lebih tinggi. Sukarno bilang, posisi beberapa saham bank besar sekarang memang sudah di atas harga wajar.

Misalnya saja price earning ratio (PER) BBRI sebesar 16,6 kali, sedangkan PER BBCA mencapai 30,52 kali, di atas rata-rata industri yakni 15,1 kali.  “Sementara, saham BINA walaupun valuasinya sudah sangat mahal namun masih ada potensi naik ke level 1.145,” ujarnya.

Menurut Sukarno, strategi yang bisa digunakan investor adalah mengikuti perkembangan data-data ekonomi dan keputusan The Fed nanti. Kemudian, gunakan analisis teknikal untuk momentum kembali masuk.

Sukarno menyarankan investor menggunakan strategi buy on break resist dengan target harga BINA Rp 1.145 pet saham dan BNLI dengan target harga Rp 890 per saham.

Adapun saham BBRI dan BBCA bisa taking ptofit dan menunggu di bawah atau buy on weakness dengan target harga BBRI di Rp 4.600 per saham, dan BBCA di Rp 30.950 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat