Pergantian Gubernur BI Bayangi Suku Bunga, Begini Prospeknya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergantian Gubernur Bank Indonesia (BI) membuka ruang ketidakpastian baru terhadap arah suku bunga acuan. Namun, di tengah tekanan rupiah dan inflasi yang masih berada dekat batas atas sasaran, suku bunga BI diproyeksikan belum akan segera turun.  

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI terakhir masih mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Kebijakan tersebut diambil dengan prioritas memperkuat nilai tukar rupiah, menjaga inflasi, menarik arus modal asing, serta tetap menyediakan likuiditas bagi perekonomian. 

Baca Juga: Samir Terapkan Upaya Preventif Ini, Merespons Kondisi Borrower Menunggak Pembayaran


“Pergantian kepemimpinan seharusnya tidak langsung mengubah arah suku bunga karena keputusan BI bersifat kolektif,” ujar Josua kepada Kontan, Senin (27/7/2026).

Dalam jangka pendek, Josua menilai pasar justru berpotensi memperkirakan suku bunga BI akan bertahan tinggi lebih lama, bukan segera memasuki fase penurunan.

Pasalnya, rupiah masih berada dalam tekanan dan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) masih tinggi. Di sisi lain, inflasi Juni 2026 mencapai 3,34% secara tahunan (YoY), sedangkan inflasi inti berada di level 2,76% YoY.

Meski inflasi masih berada dalam sasaran, level tersebut dinilai cukup dekat dengan batas atas sehingga BI perlu berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Josua bilang, risiko terbesar akan muncul apabila Gubernur BI baru dipersepsikan terlalu berorientasi pada percepatan pertumbuhan ekonomi dan penurunan suku bunga. Pasar dapat lebih dahulu memperkirakan pelonggaran sebelum kondisi rupiah memungkinkan.

“Akibatnya, dana asing berpotensi keluar, rupiah melemah, dan imbal hasil SBN naik. Dalam situasi seperti itu, BI justru dapat terpaksa mempertahankan suku bunga lebih lama atau bahkan menaikkannya untuk memulihkan kepercayaan,” ujar Josua Kepada Kontan, Senin (27/7/2026).

Sebaliknya, apabila pemerintah menunjuk figur yang kredibel dan menegaskan bahwa keputusan suku bunga tetap berdasarkan inflasi, rupiah, serta kondisi arus modal, ekspektasi pasar akan kembali stabil. Penurunan suku bunga baru layak dipertimbangkan setelah rupiah stabil secara berkelanjutan, imbal hasil global menurun, arus dana asing membaik, dan tekanan inflasi mereda.

Menurut Josua, pesan kebijakan terpenting saat ini adalah BI perlu menjaga komunikasi satu suara, sedangkan pemerintah harus segera menjalankan proses pemilihan secara terbuka dan berbasis kemampuan. Pemerintah juga perlu menghindari pernyataan yang memberikan kesan bahwa calon gubernur dipilih untuk menghasilkan arah suku bunga tertentu. 

Di sisi lain, Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyebut proses pemilihan pengganti Perry Warjiyo akan menjadi referendum pasar atas independensi BI.

Investor tidak hanya menilai kemampuan akademik atau pengalaman kandidat, tetapi juga jarak institusionalnya dari pusat kekuasaan, rekam jejaknya dalam menjaga stabilitas, dan kemampuannya menolak kebijakan yang tidak konsisten dengan mandat moneter. 

Proses yang transparan, kompetitif, dan berbasis kompetensi dapat menurunkan CDS, memperkuat rupiah, serta menekan yield SBN karena pasar melihat kontinuitas aturan. 

Proses yang tertutup atau terlalu politis akan memperbesar risiko dominasi fiskal, terutama jika gubernur baru dipersepsikan siap menekan suku bunga, memperluas likuiditas, atau mendukung pembiayaan pemerintah saat tekanan rupiah masih tinggi. 

Maka, dampaknya tidak berhenti pada APBN. Kenaikan yield sovereign akan menjadi acuan bunga yang lebih mahal bagi obligasi korporasi, kredit perbankan, pinjaman luar negeri, dan keputusan investasi.

Syafruddin menekankan, pemerintah karena itu harus memperlakukan pemilihan gubernur BI sebagai keputusan ekonomi strategis, bukan pembagian jabatan. 

“Kandidat yang kredibel dapat mengurangi biaya modal nasional, kandidat yang menimbulkan konflik persepsi akan membuat negara, perusahaan, dan rumah tangga membayar premi risiko lebih tinggi selama bertahun-tahun,” jelas Syafruddin.

Baca Juga: Tabungan Haji Jadi Andalan Bank Syariah Himpun Dana Murah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News