Perikanan Nusantara menargetkan produksi perikanan tangkap capai 35.000 ton 2019



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perikanan Nusantara (persero/Perinus) tahun ini menargetkan mendapatkan empat kapal baru untuk menunjang kinerja produksi tangkapan ikannya. Kapal baru tersebut diharapkan dapat mulai beroperasi pada semester pertama 2019 dan turut menggerek tangkapan ikan perusahaan sebesar 35.000 ton dalam setahun.

Direktur Perikanan Nusantara  Ridwan Zachrie menyampaikan, penambahan kapal tersebut seiring dengan semakin baiknya prognosa sektor perikanan yang terus menunjukkan pertumbuhan permintaan dari dalam dan luar negeri. Melihat itu, perusahaan menganggarkan penambahan kapal serta sejumlah fasilitas pendukung lain seperti cold storage dan menambah kerjasama dalam integrated cold storage bersama kementerian teknis.

"Saat ini, kami memiliki 15 kapal dan dalam waktu dekat akan ada penambahan dua kapal kayu dan dua kapal besi dengan kapasitas 70 gross tonnage (gt) - 150 gt," jelas Ridwan kepada Kontan.co.id, Jumat (25/1).


Rincinya, dua kapal kayu masing-masing memiliki kapasitas 70 gt dan 120 gt dan pengadaannya dari Penyertaan Modal Negara (PMN) dengan total nilai Rp 15 miliar. Kemudian kapal kayu masing-masing memiliki kapasitas 150 gt yang senilai Rp 20 miliar per kapal dan dianggarkan dari pinjaman bank BUMN.

Kemudian sesuai aturan pemerintah, terkait moratorium kapal asing, empat kapal baru yang dibeli Perinus merupakan produksi dalam negeri dari galangan di Batam. Sedangkan untuk fasilitas CS, Perinus memiliki gudang beku dengan kapasitas total 4.000 ton dan dalam waktu dekat akan mengoperasikan ICS milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di area Muara Baru yang memiliki kapasitas tampung hingga 2.000 ton.

Adapun target produksi perusahaan perikanan tangkap Perinus tahun ini dipatok mencapai Rp 900 miliar dan laba Rp 26 miliar. Target pendapatan ini naik tinggi dari prognosa awal tahun 2018 di Rp 700 miliar.

Target ini mengalami kenaikan organik seiring penambahan kapal dan pertumbuhan permintaan ikan dari pasar dalam negeri dan luar negeri yang terus meningkat.

"Klien ekspor eksisting kami saat ini dengan Jepang, China, dan Taiwan. Dalam waktu dekat sedang melakukan pertemuan dengan Singapura juga," jelas Ridwan.

Ridwan menyampaikan tahun ini pihaknya juga akan melakukan penghitungan aset ulang dan memperkirakan bisa membukukan kenaikan total aset melebihi Rp 1 triliun. Menurutnya, pembukuan aset terakhir terjadi beberapa tahun silam dan saat ini masih tercatat di kisaran Rp 800 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli