KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) mendorong kolaborasi pemerintah, swasta, peneliti, dan lembaga standardisasi untuk mengembangkan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di dalam negeri. Langkah ini diperlukan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produsen kendaraan listrik dari luar negeri. Ketua Umum Periklindo Moeldoko mengatakan, kendaraan listrik merupakan momentum bagi Indonesia untuk melakukan lompatan industri otomotif.
Menurutnya, Indonesia tidak bisa mengejar perkembangan industri mobil konvensional yang sudah bergerak terlalu cepat, sehingga perlu memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi EV. “EV adalah momentum lompatan industri kendaraan Indonesia. Kita tidak akan bisa mengejar mobil konvensional, tidak bisa, sudah terlalu cepat pergerakannya. Tetapi sesungguhnya EV ini sebuah momentum bagi kita semuanya,” ujar Moeldoko dalam PERIKLINDO Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026, Rabu (28/10/2026).
Baca Juga: Kadin Sebut Target Utilisasi Industri Manufaktur 85% Masih Berat Dicapai Ia mengungkapkan Indonesia sedikit terlambat merespons perkembangan kendaraan listrik. Karenanya, Periklindo terus menyosialisasikan teknologi EV agar semakin banyak pihak terlibat dalam pengembangannya. “Saya tidak ingin Indonesia yang begitu luas, begitu populasinya luar biasa hanya sebagai penonton, hanya sebagai tempat pasar bagi industri yang datang dari luar, tetapi kita nonton, membeli, tidak lebih dari itu,” katanya. Moeldoko menyebut dukungan kebijakan pemerintah telah tersedia melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 yang diperbaiki melalui Perpres Nomor 79 Tahun 2023. “Sebenarnya instrumen itu sudah tersedia. Tetapi kita semuanya masih belum menyambutnya dengan gegap gempita,” ujarnya. Untuk mempercepat pengembangan industri tersebut, Moeldoko meminta dukungan berbagai kementerian dan pemangku kepentingan. Menurutnya, pengembangan ekosistem EV tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau swasta. “Tidak bisa hanya pemerintah, tidak bisa hanya swasta sendirian, tidak bisa hanya para periset, para penentu standardisasi. Semuanya harus bergerak sama-sama,” ujar Moeldoko. Ia juga menyoroti peran Badan Standardisasi Nasional (BSN) dalam mengikuti perkembangan teknologi kendaraan listrik, terutama terkait standardisasi baterai, dinamo, motor, dan komponen lainnya. “Kita berbicara tentang standardisasi, standardisasi berbicara tentang keamanan, maka ini sangat penting peran BSN dalam menstandardisasi baterai, menstandardisasi dinamo, motorik, dan seluruh yang lain-lain,” katanya.
Moeldoko berharap konferensi PEVC 2026 dapat memunculkan gagasan baru untuk pengembangan industri kendaraan listrik nasional. “Melalui konferensi ini saya berharap akan memunculkan ide-ide besar dalam rangka membangun wawasan yang lebih jauh ke depan tentang EV,” imbuhnya.
Baca Juga: UNTR Dorong Elektrifikasi Alat Berat, Mulai Uji Komatsu Hybrid EREV di Pertambangan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News