KONTAN.CO.ID - PARIS. Penggunaan agen AI untuk belanja daring dapat meningkatkan risiko penipuan, kecurangan, dan pelanggaran privasi data. Peringatan ini disampaikan sejumlah bank global, termasuk NatWest dan Bank of America, pada Selasa (22/9/2026), saat mereka menjabarkan prinsip-prinsip pengembangan teknologi tersebut. Perusahaan teknologi seperti OpenAI, Anthropic, Google, dan Meta semakin gencar mempromosikan chatbot AI sebagai sarana belanja, dengan visi masa depan di mana pembeli menggunakan agen AI untuk memilih produk dan melakukan pembelian atas nama mereka.
Sementara itu, para peritel berlomba-lomba untuk memengaruhi rekomendasi yang diberikan oleh chatbot tersebut. Peritel asal Inggris, John Lewis, menyatakan pada bulan September bahwa pencarian yang berasal dari agen AI telah meningkat menjadi 2,5% dari sebelumnya 0,3% pada tahun lalu, dan tren ini terus meningkat pesat.
Baca Juga: Bertemu Donald Trump Pekan Ini, Xi Jinping Akan Desak AS Stop Jual Senjata ke Taiwan Kelompok bank tersebut—yang juga mencakup ING, ASB Bank dari Selandia Baru, dan pemberi pinjaman AS Capital One—menyatakan dalam sebuah laporan bahwa nasabah sangat antusias dengan potensi
agentic commerce (perdagangan berbasis agen) dan ingin memanfaatkannya. Namun, mereka memperingatkan bahwa perkembangan teknologi ini melaju lebih cepat dibandingkan standar industri dan perlindungan konsumen. "Konsumen tidak yakin apakah AI akan bertindak demi kepentingan mereka," demikian bunyi laporan tersebut yang dikutip
Reuters. Mereka khawatir agen AI mungkin membeli barang yang salah atau membelanjakan uang secara berlebihan—atau lebih buruk lagi, uang mereka hilang akibat penipuan dan kecurangan. Mereka tidak yakin apakah mereka akan terlindungi atau kepada siapa mereka harus mengadu jika terjadi masalah.
Laporan tersebut menyoroti berbagai risiko, termasuk tindakan agen AI yang meminta detail kartu nasabah dan memasukkannya langsung ke situs web, atau mengarahkan pengguna ke metode pembayaran yang menawarkan perlindungan lebih lemah. Pihak bank berencana membahas sejumlah usulan dengan para pembuat kebijakan. Antara lain kewajiban memberikan informasi saat agen AI terlibat dalam transaksi, transparansi lebih besar mengenai cara agen AI mengambil keputusan, serta langkah-langkah pengamanan untuk melindungi data nasabah. Konsumen dan pedagang juga harus bebas memilih layanan e-commerce berbasis AI yang ingin mereka gunakan. Sementara sistem yang berbeda harus dapat saling terhubung.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Pasar Tunggu Sinyal Pembicaraan AS-Iran