Peringkat Daya Saing RI Turun Tajam, IMD Soroti Tantangan Ekonomi Global



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Posisi Indonesia dalam peringkat daya saing global semakin mengkhawatirkan.

Pasalnya, laporan terbaru dari IMD World Competitiveness Center (WCC), lembaga riset daya saing global yang berbasis di Swiss ini mengungkapkan bahwa peringkat daya saing Indonesia pada tahun 2026 mengalami penurunan.

Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-48 dunia, atau turun pada tahun 2025 yang berada di peringkat 40.


Penurunan ini menghapus tren positif yang sempat membawa Indonesia naik hingga peringkat 27 dunia pada 2024.

Baca Juga: Indonesia Kalah dari Malaysia dan China dalam Daya Saing Global 2026

Chief Economist World Competitiveness Center (WCC) Jose Caballero mengatakan lingkungan ekonomi global kini memasuki fase baru yang ditandai oleh volatilitas geopolitik, tekanan inflasi yang berkepanjangan, pengetatan kondisi keuangan, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.

Menurutnya, perubahan yang terus terjadi dalam tatanan politik dan ekonomi global membuat pelaku usaha semakin sulit memprediksi kondisi bisnis di masa depan.

Ia menjelaskan perusahaan-perusahaan di berbagai negara kini harus beroperasi di tengah tekanan inflasi yang masih bertahan, kondisi pembiayaan yang lebih ketat, dan ketidakpastian ekonomi yang meningkat. 

Caballero menilai tantangan utama daya saing saat ini bukan hanya menghadapi tekanan ekonomi, melainkan kemampuan perusahaan dan sistem ekonomi untuk memahami serta merespons berbagai tekanan tersebut secara efektif.

"Dalam konteks ini, tantangan utama daya saing bukan hanya keberadaan berbagai tekanan ekonomi tersebut, melainkan kemampuan perusahaan dan sistem ekonomi untuk memahami serta meresponnya secara tepat dan terkoordinasi," ujar Caballero dalam laporan tersebut, dikutip Rabu (24/6).

Oleh karena itu, kepercayaan dunia usaha kini tidak hanya ditentukan oleh kondisi permintaan, tetapi juga oleh interaksi berbagai tekanan ekonomi dan kualitas institusi yang memengaruhi cara perusahaan menilai biaya dan potensi pendapatan.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa ekonomi global pada 2026 tidak lagi dibayangi oleh guncangan-guncangan yang berdiri sendiri. Sebaliknya, berbagai faktor risiko kini saling berkaitan dan menciptakan volatilitas yang berlangsung secara terus-menerus.

Tekanan inflasi pada berbagai kebutuhan dan input produksi penting, misalnya, terbukti lebih lama bertahan dibandingkan perkiraan awal. 

Kondisi tersebut mencerminkan masih adanya hambatan di sisi pasokan serta dampak lanjutan dari berbagai gangguan ekonomi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Di saat yang sama, banyak bank sentral di berbagai negara juga masih menerapkan kebijakan moneter yang ketat untuk menjaga stabilitas harga dan mengatasi ketidakseimbangan ekonomi.

Caballero juga menyoroti perubahan karakter gangguan rantai pasok global. Jika sebelumnya hambatan tersebut dipicu oleh pandemi Covid-19, kini masalah tersebut berkembang menjadi tantangan struktural akibat fragmentasi geopolitik, pergeseran arus perdagangan internasional, dan penataan ulang jaringan produksi global.

"Berbagai perkembangan tersebut terjadi dalam perekonomian global yang semakin beroperasi dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian dan kompleksitas yang saling berkaitan," katanya.

Baca Juga: Perpres Stunting Berakhir pada 2024, BKKBN Akui Masih Menunggu Perpanjangan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News