Peritel Fokus Jual Produk yang Cepat Laku



JAKARTA. Krisis membuat pengusaha ritel alias eceran mengemas strategi baru. Mereka fokus menjual produk yang cepat laku dan mendatangkan keuntungan berlipat.

Jika biasanya peritel juga menjual produk yang kontribusi untungnya hanya 1%, kini mereka akan lebih berkonsentrasi menggarap produk yang kontribusi keuntungannya hingga 20%. Yang masuk kategori ini adalah barang kebutuhan sehari-hari, seperti perlengkapan rumah tangga, toilette, makanan, dan kosmetik.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) Senayan City Handaka Santoso, saat ini beberapa gerai di pusat perbelanjaan lebih gencar memasarkan produk yang memberi kontribusi keuntungan besar. Dengan begitu, pengeluaran bisa ditekan. "Sebagian fokus ke penjualan dengan margin keuntungan 20%, kalau yang hanya 1% buat apa?" katanya.


Handaka bahkan mengimbau para peritel juga meningkatkan omzet penjualan dengan strategi menjual produk yang dibutuhkan masyarakat dan banyak peminatnya. Senayan City, misalnya, tahun ini menargetkan penjualannya sebesar Rp 100 miliar. "Tahun lalu memang tidak sampai segitu. Tapi, dengan strategi menjual produk yang keuntungannya besar, bisa saja itu tercapai tahun ini," ujarnya.

Handaka masih optimistis karena secara umum krisis belum banyak berpengaruh terhadap daya beli masyarakat menengah atas. Karenanya, bisnis di Senayan City yang segmentasinya menengah ke atas relatif stabil. "Saya rasa krisis baru akan sangat terasa pada pertengahan 2009," ujarnya.

Pendapat berbeda datang dari Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta. Dia menilai, tidak semua produk yang dipasarkan ritel bisa memberikan keuntungan 20%. Sebab produk yang dipasarkan peritel sangat beragam. Tutum menambahkan, untuk produk makanan dan minuman, walau keuntungannya hanya 5%, tapi penjualannya relatif stabil. "Kalau gula, beras, susu, keuntungannya memang kecil tapi pasti dibeli orang tiap waktu," ujarnya.

Tutum mengungkapkan, untuk penjualan fesyen dan baju, sebenarnya keuntungan kotornya memang bisa mencapai 35%. Namun jika dikurangi biaya listrik dan ongkos distribusi, laba bersihnya sangat sedikit. "Paling hanya 2% keuntungan dari baju, sebab banyak sekali potongan yang dikeluarkan peritel, terutama untuk listrik," ucapnya.

Saat krisis seperti ini, Tutum berharap konsumen aktif membeli, sehingga peritel bisa menutup ongkos operasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News