KONTAN.CO.ID – MADINAH. Langkahnya memang tak lagi setegap dulu. Di usia 103 tahun, Mardijiyono Karto Sentono harus dibantu kursi roda saat tiba di Bandara Internasional Pangeran Mohammad Bin Abdul Aziz, Madinah, Arab Saudi. Namun semangatnya menunaikan ibadah haji tak surut sedikit pun. Jemaah asal Randusari, Karanganom, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu akhirnya tiba di Madinah bersama kloter 9 embarkasi Yogyakarta (YIA), Minggu (3/5/2026). Bagi Mbah Mardijiyono, keberangkatannya ke Tanah Suci di usia lebih dari satu abad dilandasi niat sederhana, yakni menunaikan ibadah haji. Rasa syukur pun tak henti ia panjatkan setelah akhirnya menjejakkan kaki di Madinah.
“Kulo kepengen ibadah (saya hanya ingin beribadah)," tutur Mardijiyono, Minggu (4/5/2026).
Baca Juga: Satgas ARMUZNA Cek Kesiapan Arafah Jelang Puncak Haji 1447 H/2026 M Meski telah berusia lanjut, kondisi fisiknya dilaporkan masih cukup baik. Ia hanya memerlukan alat bantu jalan setelah sempat mengalami insiden terjatuh di kamar mandi pada 2022. Selama proses kedatangan di bandara, Mbah Mardijiyono mendapat pendampingan dari petugas haji daerah kerja bandara serta pendamping dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Muslimat NU HDWR yang membantu mobilitasnya. Dengan wajah sumringah, ia mengaku bersyukur bisa menjejakkan kaki dengan selamat di Madinah, kota Rasulullah. “Remen (senang sampai dengan selamat di Madinah), mau di sini (ibadah dan shalat),” jawabnya. Tim Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Muslimat NU HDWR Ibnu Khaldun, petugas yang mendampingi Mbah Mardi, mengatakan jemaah lansia tersebut masuk dalam kuota prioritas lansia dan sejak awal telah diterima dengan pendampingan penuh. “Si Mbah udah akhir-akhir masuk di KBIHU karena simbah porsi kuota tambahan nggih, karena prioritas lansia. Terus alhamdulillah kita di KBIHU memang wasiat dari almarhum bapak saya itu jemaah haji usia seberapapun harus kita terima dan dilayani sebaik-baiknya, kita dari KBIHU gitu,” tuturnya. Menurut Ibnu, pendampingan terhadap Mbah Mardi dilakukan layaknya mendampingi orang tua sendiri. Meski tidak didampingi keluarga, kebutuhan Mbah Mardi selama perjalanan dipastikan terpenuhi oleh petugas KBIHU bersama ketua rombongan dan ketua regu yang terus bersiaga membantu.
Baca Juga: Antisipasi Kelebihan Bagasi, Jemaah Haji Pilih Belanja Oleh-oleh di Tanah Air Ia menuturkan, kondisi kesehatan Mbah Mardi sejak keberangkatan dari Bantul hingga tiba di Madinah terpantau baik. Bahkan saat pemeriksaan kelayakan terbang, seluruh indikator kesehatan dinyatakan dalam kondisi memadai. “Simbah, alhamdulillah untuk kondisinya dari pertama berangkat alhamdulillah di pemeriksaan kesehatan itu yang untuk kelayakan terbang itu kemarin dokternya juga heran kok semua kondisi bagus semua,” tambahnya.
Tak hanya itu, semangat dan kemandirian Mbah Mardi juga menjadi perhatian tersendiri. Menurut pendampingnya, Mbah Mardi tetap mampu makan sendiri tanpa perlu disuapi. Untuk aktivitas sehari-hari pun ia berusaha mandiri, termasuk saat menggunakan alat bantu jalan. Meski tim pendamping telah menyiapkan dua kursi roda dan satu alat bantu jalan untuk memudahkan mobilitas, Mbah Mardi juga berusaha melakukan berbagai keperluan pribadi secara mandiri, termasuk mandi sendiri. Hal itu, kata dia, menunjukkan kondisi fisik Mbah Mardi yang masih cukup baik. “Doanya mudah-mudahan simbah dikasih jalan mudah untuk menunaikan rukun wajib dan sunah-sunah haji terutama wajib rukun wajibnya haji. InsyaAllah besok berkunjung ke Kanjeng Nabi (Raudhah)” pungkas dia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News