Perkuat Kakao Fermentasi Berkelanjutan, Koperasi KSS Jembrana Bidik Produksi 60 Ton



KONTAN.CO.ID - JEMBRANA. Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya (KSS) di Kabupaten Jembrana, Bali menjadi salah satu koperasi yang memproduksi dan mengolah kakao fermentasi hingga menjadi bahan baku cokelat premium berkelanjutan.

Di kebun kakao Jembrana, petani telah menerapkan praktik agroforestri dengan memadukan tanaman kakao bersama pohon penaung seperti pisang, kelapa, manggis, durian, dan alpukat.

Sistem tersebut diterapkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung keberlanjutan kebun.


Sejak 2011, petani kakao di Jembrana berkembang bersama Koperasi KSS di bawah pendampingan Yayasan Kalimajari.

Baca Juga: Pipiltin Bongkar Rahasia Cokelat Premium Berawal dari Kakao Fermentasi Asli Indonesia

Direktur Yayasan Kalimajari, Agung Widiastuti, mengatakan pada tahun lalu Koperasi KSS mengolah sekitar 55 ton biji kakao fermentasi. Tahun ini, koperasi menargetkan produksi meningkat menjadi 60 ton biji kakao fermentasi.

"Hingga saat ini, per Juli, realisasi biji kakao fermentasi sudah mencapai sekitar 40 ton. Kami masih memiliki waktu untuk melakukan proses produksi hingga akhir tahun," jelasnya kepada Kontan di Koperasi KSS, Jembrana, Bali, Jumat (31/7/2026).

Agung memerinci, peningkatan produksi kakao fermentasi KSS berlangsung secara bertahap. Koperasi tersebut pernah mencatat produksi tertinggi pada 2017 dengan volume mencapai 68 ton biji kakao kering terfermentasi per tahun.

"Kami pernah produksi hanya 18 ton, 22 ton, 38 ton, dan 55 ton per tahun. Kami juga pernah mencapai 68 ton per tahun pada 2017. Itu seluruhnya biji kakao kering well-fermented beans," imbuhnya.

Baca Juga: Prabowo Soroti Impor Kakao Tinggi, Pengusaha: Minimnya Kakao Fermentasi Jadi Hambatan

Pengelolaan kakao secara berkelanjutan juga memberikan dampak terhadap peningkatan nilai ekonomi bagi Koperasi KSS.

Secara bisnis, Koperasi KSS telah masuk kategori perusahaan kena pajak (PKP). Hal tersebut tercermin dari perkembangan perputaran usaha koperasi seiring dengan peningkatan produksi kakao fermentasi.

"Yang jelas kami sudah PKP tahun lalu. Omzet kami di atas Rp 4,8 miliar. Kira-kira sekitar Rp 6 miliar modal yang harus bergulir di KSS," jelas Agung.

Tak hanya dari sisi koperasi, peningkatan nilai tambah juga dirasakan oleh lebih dari 600 petani anggota KSS. Petani memperoleh sisa hasil usaha (SHU) berdasarkan jumlah biji kakao yang disetorkan.

"Hitungannya berdasarkan jumlah biji. Pemilik lahan ada yang mendapatkan sekitar Rp 4 juta belum termasuk premi, ada juga yang sampai sekitar Rp 8 juta. Jadi memang bervariasi," imbuh Agung.

Baca Juga: El Nino Ancam Produksi, Petani Kakao Jembrana Perkuat Strategi Adaptasi

Menurutnya, skema tersebut turut mendorong kompetisi positif antarpetani untuk menghasilkan biji kakao dengan kualitas yang lebih baik.

Pendampingan Yayasan Kalimajari turut mengantarkan kakao fermentasi Koperasi KSS menembus pasar ekspor. Ekspor perdana dilakukan ke Valrhona, Prancis, sebanyak satu kontainer berukuran 20 feet pada 2015.

Hingga saat ini, Koperasi KSS telah memperluas pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Belgia, Belanda, Australia, dan Jepang. Agung menyebut pasar Eropa saat ini mendominasi kontribusi ekspor koperasi dengan porsi sekitar 65% hingga 70%.

Tak berhenti di tingkat petani dan koperasi, perjalanan kakao Jembrana berlanjut hingga menjadi produk cokelat yang dinikmati konsumen.

Pada tahun lalu, salah satu penyerap biji kakao fermentasi asal Jembrana, perusahaan cokelat bean-to-bar Pipiltin Cocoa, meluncurkan produk cokelat premium bertajuk Raya Jembrana yang menggunakan kakao asal daerah tersebut.

Hingga saat ini, Pipiltin Cocoa telah memperluas jaringan penjualan melalui sejumlah gerai di Jakarta dan Depok, antara lain Pondok Indah Mall, Plaza Senayan, Grand Indonesia, Margo City, Lotte Mall, Pacific Place, hingga Sarinah.

Baca Juga: Amman Mineral Nusa Tenggara Bidik Produksi Emas Capai 16 Ton di Tahun 2026

Di Bali, produk Pipiltin Cocoa juga tersedia melalui sejumlah jaringan ritel seperti Grand Lucky dan Pepito.

"Produk Raya Jembrana mengedepankan kualitas biji kakao fermentasi sekaligus memperkenalkan cita rasa khas daerah Jembrana kepada konsumen," ujar CEO & Co-Founder Pipiltin Cocoa, Tissa Aunilla, dalam kesempatan yang sama.

Dari sisi pemerintah, Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan mengatakan pemerintah daerah mendukung pengembangan kakao sebagai salah satu komoditas unggulan daerah, termasuk untuk mendukung sektor pariwisata.

Pasalnya, kontribusi pendapatan dari sektor pariwisata di Jembrana masih relatif kecil dibandingkan sejumlah kabupaten lain di Bali.

"Di Jembrana, pendapatan dari pariwisata masih sebesar Rp 13 miliar per tahun, sedangkan kabupaten sebelah Rp 700 miliar. Kabupaten sebelahnya lagi ada yang Rp 3 triliun, bahkan Rp 7 triliun hingga Rp 9 triliun," jelas Kembang.

Karena itu, pemerintah daerah mendorong kakao menjadi salah satu identitas ekonomi Jembrana melalui sejumlah kebijakan.

"Kami telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pengembangan Komoditas Kakao agar dapat dikembangkan secara berkelanjutan," imbuh Kembang.

Baca Juga: Kakao Indonesia Terbentur Kualitas

Dukungan pemerintah juga mencakup akses pembiayaan berupa pinjaman senilai Rp 1,5 miliar kepada Koperasi KSS untuk pembelian benih kakao bagi anggota, penyediaan benih kakao unggul, serta kerja sama dengan pemerintah pusat dalam pengembangan fasilitas pengolahan kakao.

Selain itu, pemerintah daerah juga mempercepat proses pendaftaran indikasi geografis kakao Jembrana guna memperkuat identitas produk kakao asal daerah tersebut.

Sebagai informasi, praktik keberlanjutan komoditas kakao di Koperasi KSS, Jembrana merupakan bagian dari proyek Accelerating Consumer Transformation and Sustainability in Indonesia (ACT!) yang digagas oleh konsorsium Rainforest Alliance, Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), dan Cocoa Sustainability Partnership (CSP), dengan dukungan Uni Eropa melalui program SWITCH-Asia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News