KONTAN.CO.ID - Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan puncak (KTT) bilateral di Pyongyang pada Senin (8/6/22026). Kantor berita negara Korea Utara KCNA yang dilansir
Reuters melaporkan pada Selasa (9/6/2026) bahwa kedua pemimpin negara tersebut sepakat untuk memperluas kerja sama komprehensif di bidang politik, ekonomi, hingga kebudayaan.
Baca Juga: Kondisi Bisnis Australia Stabil, Namun Kepercayaan Pelaku Usaha Masih Lesu Dalam pertemuan strategis tersebut, Kim Jong Un dan Xi Jinping berkomitmen untuk membawa hubungan diplomatik kedua negara bertetangga ini ke dalam "babak sejarah baru" (a new chapter). Salah satu poin politik krusial yang disampaikan dalam KTT tersebut adalah penegasan posisi Korut terhadap isu kedaulatan Beijing. Kim Jong Un menyatakan kepada Xi bahwa Pyongyang akan memberikan dukungan penuh terhadap "Prinsip Satu China" (One China principle), yang menegaskan bahwa kedua sisi Selat Taiwan adalah milik satu negara, tidak peduli bagaimana situasi internasional akan berubah. Momentum 65 Tahun Perjanjian Persahabatan Kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang minggu ini merupakan lawatan pertamanya ke Korea Utara dalam tujuh tahun terakhir. Xi menyampaikan bahwa ia ingin memanfaatkan momentum perjalanan ini untuk menciptakan kemajuan yang signifikan dan memperdalam komunikasi strategis melalui pertukaran kunjungan pejabat tinggi antar-negara. Kehadiran delegasi China ini sekaligus menandai peringatan 65 tahun penandatanganan perjanjian bilateral mengenai persahabatan, kerja sama, dan bantuan timbal balik antara kedua negara.
Baca Juga: Dolar AS Dekati Level Tertinggi 2 Bulan: Efek Gencatan Senjata Iran-Israel yang Rapuh "Hubungan China-Korea Utara kini telah mencapai 'titik awal sejarah yang baru,'" ujar Xi Jinping dalam pidatonya saat menghadiri jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Kim Jong Un, seperti dikutip dari KCNA. Kantor berita resmi China, Xinhua, juga melaporkan kunjungan tersebut dan menyatakan bahwa Beijing tidak akan pernah goyah dari komitmennya untuk bersama-sama menjaga kepentingan kedua negara. Diplomasi Budaya di Pyongyang Selain agenda politik formal, kedua pemimpin negara beserta ibu negara masing-masing, Peng Liyuan dan Ri Sol Ju, menghadiri pertunjukan seni khusus yang digelar di sebuah gedung olahraga di Pyongyang.
Baca Juga: 5 Cara SpaceX Mengubah Aturan Main IPO di Wall Street Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi militer serta warga kota Pyongyang. Pertunjukan tersebut menampilkan aransemen lagu-lagu nasional China dan Korea Utara yang secara khusus menonjolkan nilai kedekatan serta patriotisme revolusioner dari persahabatan kedua negara. Isu Nuklir dan Bayang-Bayang Dialog dengan AS Menariknya, media resmi Korea Utara sama sekali tidak menyebutkan apakah kedua pemimpin tersebut turut membahas program senjata nuklir Pyongyang atau hubungan mereka dengan Amerika Serikat. Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump sempat bertemu dengan Kim Jong Un sebanyak tiga kali pada periode jabatan pertamanya, sebelum upaya diplomasi tersebut kandas karena tuntutan AS agar Korut melucuti senjata nuklirnya. Trump sendiri belakangan menyatakan bersedia untuk membuka kembali ruang dialog dengan Korut.
Baca Juga: Keyakinan Konsumen Australia Merosot ke Titik Terendah Jangka Panjang, Apa Pemicunya? Namun, para pengamat menilai KTT ini lebih berfokus pada penguatan internal blok mereka sendiri ketimbang menjadi jembatan bagi Washington. "Meskipun kemungkinan besar para pemimpin China dan Korea Utara akan berunding terlebih dahulu sebelum Kim bertemu Trump lagi, sangat diragukan bahwa Xi Jinping akan bertindak sebagai katalis atau perantara bagi pembicaraan AS-Korea Utara," kata Leif-Eric Easley, profesor studi internasional di Ewha Womans University, Seoul.
Para analis menyimpulkan bahwa bagi Korut, China adalah mitra dagang terbesar mereka, sehingga kunjungan Xi kali ini diproyeksikan lebih banyak membahas pemulihan sektor perdagangan pasca-pandemi dan pariwisata lintas batas. Agenda Penutup Presiden Xi Jinping dijadwalkan terbang kembali ke China pada Selasa sore. Berdasarkan laporan media Korea Selatan, Yonhap, sebelum bertolak ke bandara untuk menghadiri upacara pelepasan kehormatan (honour guard), Xi direncanakan mengunjungi Menara Persahabatan China-Korea di Pyongyang untuk mengenang para tentara China yang gugur dalam Perang Korea.