KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) alias Indonesia Eximbank bersama Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan meresmikan 48 Desa Devisa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Aksi ini menjadi bagian dari sinergi Kemenkeu Satu dalam membangun kapasitas ekspor dari tingkat desa sekaligus mendorong sumber pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih beragam. Seluruh Desa Devisa tersebut memiliki kekuatan pada tiga klaster komoditas unggulan yaitu lada, kerajinan lidi nipah, dan olahan perikanan. Masing-masing memiliki karakter produk dan basis pelaku usaha yang dapat dikembangkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Direktur Pelaksana Keuangan, Operasional, & Teknologi Informasi LPEI, Anwar Harsono, mengatakan konsistensi menjadi salah satu kunci agar pelaku usaha tidak hanya dapat memasuki, tetapi juga bertahan di pasar global.
Baca Juga: Bank Jago Belum Berencana Bagi Dividen, Apa Alasannya? Menurut dia, keunikan produk adalah pintu masuk, tetapi yang membuat pelaku usaha bertahan di pasar ekspor adalah konsistensi. Kapasitas produksi, kualitas dan spesifikasi produk, tata kelola usaha, dan kesiapan finansial harus dibangun bertahap sebelum pelaku usaha berhadapan dengan pembeli luar negeri. "Di situlah pendampingan Desa Devisa berperan,” ujar Anwar dalam keterangannya, dikutip Kamis (10/9). Klaster lada mencakup 34 desa dengan sekitar 400 petani di Kabupaten Bangka Selatan dan Bangka Tengah. Produk yang dihasilkan berupa lada putih dalam bentuk biji dan bubuk. Lada Bangka telah dikenal di pasar global sebagai Muntok White Pepper, memiliki kandungan piperin tinggi yang memberikan karakter pedas tajam, serta telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis (IG). Potensi berikutnya datang dari tujuh desa penghasil kerajinan lidi nipah yang melibatkan 50 perajin di Kabupaten Bangka dan Bangka Tengah. Serat lidi nipah yang tebal, panjang, dan lentur, dengan gradasi warna alami kecokelatan hingga krem, memberikan karakter premium pada produk kerajinan yang sepenuhnya organik dan mudah terurai. Sementara itu, klaster olahan perikanan mencakup tujuh desa dengan 36 pelaku usaha kecil dan menengah di Kabupaten Bangka dan Bangka Tengah. Produk diolah dari hasil tangkapan laut segar, dengan puluhan Industri Kecil Menengah (IKM) yang telah bernaung dalam satu sentra sehingga penguatan dan penjagaan standar kualitas produk dapat dilakukan secara lebih terarah.
Baca Juga: MUF Gandeng Bank Mandiri dan Dealer Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik Sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan, LPEI disebut Anwar, akan mendampingi pelaku usaha mulai dari penguatan kelembagaan dan manajemen ekspor hingga perluasan akses pasar. Pendampingan tersebut meliputi pelatihan prosedur dan dokumen ekspor, penyusunan laporan keuangan berstandar akuntansi, pengenalan
market intelligence, pembiayaan pengiriman sampel ke luar negeri, fasilitasi uji laboratorium, hingga keikutsertaan dalam pameran internasional. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News