KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ikan pindang, yang selama ini identik dengan pasar tradisional dan harga terjangkau, mulai bersiap naik kelas. Seiring meningkatnya permintaan dan perubahan pola belanja masyarakat, produk olahan ikan ini kini dibidik untuk masuk ke pasar modern, membuka peluang baru bagi penguatan konsumsi ikan sekaligus ekonomi kerakyatan. Produsen ikan pindang PT Hidayat Bahari Sejahtera, Hidayat, menegaskan bahwa transformasi ini bukan sekadar soal kemasan, tetapi juga peningkatan nilai tambah.
“Tahun ini kami menargetkan ikan pindang masuk pasar modern,” ujarnya seperti dikutip dari rilis KKP, Selasa (10/2/2026). Selama delapan bulan terakhir, perusahaan yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun itu melakukan revitalisasi besar-besaran di fasilitas produksinya. Proses memasak yang sebelumnya menggunakan kayu kini beralih ke gas demi standar higienitas.
Baca Juga: KKP Incar Investasi Biru dari Davos, OIS Bali Disiapkan Jadi Forum Pengunci Proyek Perusahaan juga membangun
cold storage agar ikan olahan tetap segar dan siap disimpan lebih lama. Pola pengemasan pun berubah dari keranjang bambu menjadi kemasan vakum, yang memungkinkan daya simpan ikan bertahan berminggu-minggu dalam ruang pendingin. Langkah ini krusial secara ekonomi. Dengan kemasan vakum, distribusi tidak lagi terbatas jarak dan waktu. Saat ini, produksi Hidayat mencapai sekitar 1 ton per hari untuk wilayah Serpong dan sekitarnya, dengan pengiriman hingga Cianjur. Permintaan dari wilayah lain seperti Serang dan Banten belum bisa dipenuhi karena keterbatasan daya tahan produk tradisional. Ke depan, kemasan modern diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas. Meski siap produksi, penetrasi ke pasar modern masih menunggu kelengkapan perizinan. Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan telah dikantongi, sementara izin edar BPOM dan SNI masih dalam proses. Setelah seluruh izin rampung, produk ikan pindang, tongkol, cakalang, dan bandeng, siap mengisi etalase ritel modern.
Baca Juga: KKP Fasilitasi Tarif 0% Ekspor Tuna dan Cakalang Indonesia ke Pasar Jepang Dari sisi perdagangan, permintaan ikan pindang dinilai terus meningkat. Rhomadhon, pemilik UD Dua Putri sekaligus pemasok ikan pindang di wilayah Demak dan Semarang, menyebut pasar komoditas ini tidak pernah sepi. “Permintaan terus naik, apalagi sejak ada program Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujarnya. Namun, keterbatasan pasokan masih menjadi tantangan. Dalam sehari, Rhomadhon membutuhkan sekitar 4 ton bahan baku ikan layang, banjar, dan salem yang dipasok dari Juwana dan Pati. Pada musim hujan, bahan baku kerap langka sehingga pedagang memilih memprioritaskan pelanggan tetap. Menurutnya, masuknya ikan pindang ke pasar modern sangat bergantung pada inovasi pengemasan agar produk lebih tahan lama dan risiko kerugian pedagang bisa ditekan. “Kalau ikan pindang bisa lebih awet, risikonya lebih kecil. Kami siap ikut kalau ada program atau teknologi dari pemerintah,” katanya. Sementara itu, inovasi juga datang dari daerah. Di Karawang, Kelompok Pengolah dan Pemasar Ikan (Poklahsar) Raosna mengembangkan pindang berbahan baku ikan bandeng sebagai alternatif saat pasokan ikan laut terbatas. Ketua Poklahsar Raosna, Muhidi, menjelaskan bahwa bandeng dipilih karena ketersediaan bahan baku lokal yang stabil.
Baca Juga: KKP Amankan 30 Kontainer Impor Perikanan Ilegal di 2025, Selamatkan Rp 9,3 Miliar Agar diterima pasar, bandeng diolah dengan teknik khusus sehingga durinya lunak dan lebih ramah untuk anak-anak. Harga pun dijaga setara dengan pindang ikan laut dan lebih murah dibanding bandeng presto. Saat ini, kelompok tersebut mampu memproduksi minimal 20 kilogram per hari, dan bisa meningkat hingga 1–1,5 kuintal untuk memenuhi permintaan dapur MBG di Indramayu. Program MBG dinilai ikut mendorong penyerapan produksi secara signifikan. Dari sisi gizi, Ahli Gizi Putri Wulan menegaskan ikan pindang memiliki nilai nutrisi tinggi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ikan kaya protein dan asam amino esensial, mengandung omega-3 untuk kesehatan otak dan jantung. Ikan pindang laut unggul dari sisi mineral, sementara pindang bandeng berduri lunak menjadi sumber kalsium yang baik. “Ikan memenuhi hampir semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh,” ujarnya.
Baca Juga: Strategi ASHA Pulihkan Kinerja Tahun Depan: Perkuat Domestik dan Diversifikasi Ekspor Dengan kombinasi inovasi produksi, dukungan kebijakan, dan permintaan pasar yang terus tumbuh, ikan pindang berpotensi tidak hanya naik kelas secara produk, tetapi juga memperluas kontribusinya terhadap ekonomi perikanan nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News