Perluas Pasar, Modalku Akuisisi Perusahaan Multifinance



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ambisi pemain fintech P2P lending berlanjut dengan melirik industri multifinance. Tentu, ekspansi pasar menjadi salah satu tujuan yang diharapkan.

Yang terbaru, ada Grup Modalku yang mengakuisisi PT Buana Sejahtera Multidana atau kini berubah nama menjadi PT Modalku Finansial Indonesia (Modalku Finance). Sayangnya, uang yang digelontorkan untuk akuisisi tersebut tak diumumkan.

Alih-alih menjadikan multifinance tersebut sebagai kendaraan untuk memberikan layanan Buy Now Pay Later (BNPL), Modalku justru lebih memilih untuk berbisnis konvensional dengan memilih menyalurkan pembiayaan dana tunai untuk UMKM.


Baca Juga: Terus Meningkat, Modalku Catatkan 230.000 Pemberi Dana

“Kita lihat multifinance saat ini lebih banyak berfokus pada kendaraan bermotor ataupun alat berat. Kita agnostik tidak terafiliasi dengan siapapun, UMKM yang membutuhkan permodalan kita layani,” ujar Presiden Direktur Modalku Finance Steven Gunawan, Selasa (22/11).

Steven menjelaskan tujuan Modalku Finance ini bisa digunakan bagi UMKM yang naik kelas sehingga membutuhkan pendanaan lebih. Mengingat, fintech P2P Lending hanya bisa menyalurkan pinjaman maksimal Rp 2 miliar sementara multifinance bisa mencapai Rp 25 miliar.

Aksi ekspansi ini sejatinya bukanlah yang pertama kali bagi Modalku. Sebelumnya, melalui anak usahanya Funding Asia Group, Pte. Ltd, Modalku memiliki saham 10% di PT Bank Index Selindo.

Hanya saja, Co-Founder Grup Modalku Reynold Wijaya mengatakan bahwa untuk saat ini belum ada rencana melakukan akuisisi lagi, termasuk menambah kepemilikan saham di Bank Index menjadi pemegang saham mayoritas.

“Kami dengan sangat pasti tidak ada rencana akuisisi untuk perbankan karena berbagai macam hal yang sering dijelaskan, satu sisi mahal sekali,” ujar Reynold.

Ia menambahkan, saat ini lebih memfokuskan untuk keberlanjutan bisnis yang menuju profitabilitas. Sehingga, ia bakal lebih bijak untuk melakukan ekspansi ke depannya.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan keuangan Modalku di 2021, perusahaan masih mencatat rugi sebesar Rp 28,1 miliar. Reynold bilang posisi rugi itu masih sama hingga saat ini.

“Untuk mencapai target perusahaan yang profitabilitas, kami terus fokus untuk mengembangkan fundamental dan bisnis,” ujar Reynold.

Baca Juga: Ternyata, Industri Fintech Lending hanya Dikuasai oleh 40% Penyelenggara

Melihat ada pemain baru di industri multifinance, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno bilang bahwa hal tersebut tak akan berdampak besar pada persaingan. Mengingat, pasar yang berbeda.

“Semua tergantung model bisnis yang mereka jalani,” ujarnya

Di sisi lain, Suwandi melihat bisnis dana tunai memang sudah naik dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga, mereka bisa menawarkan bisnis dana tunai di saat kondisi sekarang

Hanya saja, Suwandi menegaskan bahwa saat ini industri multifinance tetap harus berhati-hati untuk menyalurkan pinjaman. “Tidak hanya pembiayaan tumbuh, tapi kualitas sehat,” imbuhnya.

Sementara itu, Peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef, Nailul Huda melihat tujuan mereka untuk meluaskan pangsa pasar dan menguatkan ekosistem yang sudah dimiliki.

“Apa mungkin mereka ekspansi dengan akuisisi untuk tetap bertahan,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi