Perluas produk, BEI merilis indeks baru



JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan indeks baru bernama IDX30. Indeks acuan ini berisi 30 saham, hasil seleksi dari 45 saham kelompok indeks LQ45.

Manajemen BEI menyatakan, kehadiran IDX-30 demi menjawab perkembangan dan kebutuhan pasar. Indeks ini kelak bisa menjadi acuan aset dasar (underlying asset) produk-produk pasar, seperti instrumen derivatif, exchange traded fund (ETF), reksadana, dan lainnya. "IDX30 bisa menjadi acuan bagi investor untuk berinvestasi di saham-saham berlikuiditas tinggi dan berkapitalisasi pasar besar," ujar Direktur Utama BEI Ito Warsito, Senin (23/4).

Saham yang masuk kelompok IDX30 harus memenuhi beberapa kriteria, seperti nilai transaksi, frekuensi transaksi, hari transaksi, dan kapitalisasi pasar. Selain kriteria kuantitatif, BEI memperhatikan kondisi keuangan, prospek pertumbuhan, dan faktor lain terkait kelangsungan usaha perusahaan.


BEI akan mengkaji saham-saham di IDX30 setiap enam bulan. Perubahan komposisi, jika ada, dilakukan setiap awal Februari dan Agustus.

Ketimbang LQ45, saham-saham IDX30 dianggap lebih stabil. Pasalnya, ke-30 saham itu merupakan representasi saham-saham unggulan di setiap sektor. "Kalau LQ-45, lima saham terbawah itu, kan, selalu berubah. Nah, yang 30 ini lebih stabil," kata Friderica Widyasari Dewi, Direktur Pengembangan BEI.

Selain IDX30, BEI menyiapkan dua indeks lain, yaitu indeks infrastruktur dan indeks perbankan. "Kemungkinan meluncur Mei 2012," jelas Friderica.

Antony Kristanto, Presiden Direktur HD Capital, menilai, kehadiran indeks baru bisa menambah produk investasi seperti reksadana. "Manajer investasi bisa menjadikan IDX30 sebagai underlying asset produknya," kata dia.

Menyoal kelayakan

Sedangkan, Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengkritisi kehadiran IDX30. Menurut dia, indeks ini tak berbeda jauh dengan LQ45. Satrio menyoroti beberapa saham yang sejatinya tidak layak masuk IDX30, seperti saham BJBR, BORN, dan KRAS. Mengacu data RTI, kemarin, nilai kapitalisasi pasar ketiga emiten saham ini berturut-turut mencapai sekitar Rp 10,47 triliun, Rp 14,69 triliun, dan Rp 13,72 triliun.

Kapitalisasi ketiga emiten masing-masing berada di urutan 73, 57, dan 61 dari total emiten di BEI. "Masih ada yang lebih layak daripada ketiga emiten itu, misalnya HRUM, LSIP, dan SMCB," ungkap Satrio. Sebab, nilai kapitalisasi pasar HRUM, LSIP, dan SMCB masing-masing di atas Rp 20 triliun.

Kepala Riset Henan Putihrai Felix Sindhunata berpendapat, pelaku pasar sebenarnya butuh indeks yang berisi saham emiten yang benar-benar berorientasi domestik. Dia mencontohkan, di bursa Amerika Serikat ada indeks Transportation Average yang merefleksikan emiten-emiten di sektor tersebut. Artinya, indeks ini bisa mengukur secara jelas aktivitas dan kinerja emiten secara sektoral.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News