Permata Bank Cetak Laba Rp 697 Miliar per Februari 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Permata Tbk (BNLI) nampaknya memasang amunisi yang kencang untuk tahun ini, dengan mengalokasikan impairment yang signifikan. Namun pada gilirannya, hal ini menjadi salah satu penghambat pertumbuhan laba bank. 

Berdasarkan laporan keuangan bank, hingga Februari 2026 Permata Bank membukukan laba bersih sebesar Rp 697,03 miliar secara bank only. Posisi ini turun dari laba bersih Rp 820,63 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Jika ditelisik, bank memang tak mampu mencetak pertumbuhan di pos pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) pada periode ini.


NII Bank Permata terkoreksi 3,45% secara tahunan menjadi Rp 1,6 triliun, sejalan dengan koreksi pendapatan bunga sebesar 8,28% secara tahunan menjadi Rp 2,56 triliun. 

Baca Juga: Usai Libur Lebaran, Sejumlah Saham Big Banks Bangkit di Sesi I, Rabu (25/3)

Di sisi lain, sejatinya Permata Bank berhasil mendorong efisiensi dengan penurunan beban bunga sebesar 15,24% secara tahunan menjadi Rp 961,81 miliar. 

Bank juga berhasil menjaga kinerja pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi, dengan catatan pertumbuhan 2,94% secara tahunan menjadi Rp 280,26 miliar. 

Hanya saja, bank terpantau mengalokasikan impairment yang besar tahun ini, melonjak dari tahun sebelumnya. Yang mana, beban impairment per Februari 2026 tercatat sebesar Rp 197,55 miliar, naik dibanding Rp 24,26 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Dus, beban operasional naik 20,03% secara tahunan menjadi Rp 718,95 miliar dan laba operasional terkoreksi 16,78% secara tahunan menjadi Rp 878,42 miliar. 

Kendati begitu, dari sisi intermediasi, Permata Bank berhasil menjaga pertumbuhan pembiayaan. Yang mana, kredit yang disalurkan tumbuh 8,89% secara tahunan menjadi Rp 136,67 triliun. Ini mendorong aset bank tumbuh 2,06% secara tahunan menjadi Rp 261,05 triliun.

 
BNLI Chart by TradingView

Dana pihak ketiga bank juga berhasil tumbuh tipis 1,54% secara tahunan menjadi Rp 183,72 triliun. 

Dana murah memainkan peran penting dalam kinerja ini, yang mana giro tumbuh 17,64% secara tahunan menjadi Rp 71,5 triliun dan tabungan tumbuh 8,77% secara tahunan menjadi Rp 46,86 triliun. Sementara itu, deposito yang tergolong dana mahal justru berkurang 15,2% secara tahunan menjadi RP 65,36 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News