Perminas Mulai Eksplorasi Logam Tanah Jarang di Lahan Seluas 7.300 Hektare



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas memulai eksplorasi proyek tambang logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE) di Mamuju, Sulawesi Barat, seiring dengan kepemilikan Izin Usaha Pertambangan (IUP) eksplorasi yang telah dimiliki sejak Juli 2026.

Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis Perminas, La Ode Tarfin Jaya menjelaskan, pihaknya telah mendapatkan IUP eksplorasi dan perestujuan Rancangan Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Jadi Mamuju itu kan kita sudah mendapatkan dari pemerintah dalam hal ini dari Kementerian ESDM, Ditjen Minerba, itu IUP Eksplorasi. Nah eksplorasi itu kita sudah terbit di bulan Juli tapi kemudian RKAB-nya itu di bulan Agustus," katanya saat ditemui media di JIExpo Jakarta, Kamis (5/11/2026).


Baca Juga: Pertamina Catat Belanja Produk Dalam Negeri Rp 24 Triliun, TKDN Capai 49%

La Ode menjelaskan, wilayah eksplorasi Perminas di Mamuju mencakup dua blok dengan luas keseluruhan sekitar 7.300 hektare. Pada tahap awal, perusahaan melakukan pengeboran rapat atau in-fill drilling di area seluas 200 hektare, atawa masing-masing 100 hektare di kedua blok.

Hingga saat ini, kegiatan pengeboran tersebut baru mencapai sekitar 10% dengan 72 titik pengeboran. La Ode bilang, pihaknya menggunakan pola pengeboran dengan jarak antartitik sekitar 50 meter x 50 meter.

Menurut dia, pengeboran rapat tersebut dilakukan untuk memperinci hasil eksplorasi sebelumnya oleh Badan Geologi. 

"Sekarang kami lagi melakukan drilling rapat in-fill di 200 hektar itu saat ini baru di 10%, di 72 titik ya yang kami lakukan dengan kerapatan 50 50, 50 x 50. Ini perlu kami lakukan karena untuk mendetailkan apa-apa yang sudah dilakukan oleh Badan Geologi sebelumnya," ujar La Ode.

Melalui kegiatan tersebut, Perminas ingin menghitung kembali potensi sumber daya dan cadangan LTJ di Mamuju.

Perusahaan pun menargetkan pengeboran sebanyak 200 titik dapat diselesaikan pada tahun depan.

"Nah itu pun juga nanti kita menunggu tahun depan selesai eksplorasi kami lakukan. 200 titik kita bor, selesai itu kita lakukan perhitungan estimasi cadangan," jelas La Ode.

Hasil perhitungan tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk mengetahui besaran potensi LTJ di wilayah tersebut.

La Ode menyebut, karakteristik LTJ di Mamuju termasuk tipe ion-adsorption clay, yang juga ditemukan di sejumlah wilayah lain, seperti China, Myanmar, dan Brasil.

"Nah LTJ kalau di Mamuju itu tipikalnya ion-adsorption clay. Jadi dia tipikal yang sama dengan misalnya Bayan Obo di China, atau yang di Myanmar, atau di Caldeira di Brazil, itu adalah tipe logam tanah jarang yang primer," jelasnya.

Di luar Mamuju, Perminas masih menunggu penugasan pemerintah untuk menggarap wilayah potensial LTJ lainnya. Ia mengatakan, perusahaan menjalankan kegiatan eksplorasi berdasarkan penugasan dan prioritas yang diberikan pemerintah.

"Prinsipnya, kami ditugaskan. Kami kan pemberian prioritas, jadi tergantung pemerintah menunjuk, misalnya di wilayah mana. Saat ini baru kami di Mamuju. Untuk wilayah-wilayah selanjutnya, kami masih menunggu penugasan dari pemerintah," jelasnya.

Selain itu, Perminas juga menjalin kerja sama dengan PT Timah Tbk (TINS) untuk riset dan pemanfaatan produk samping pengolahan timah, yakni tin slag dan sisa hasil produksi (SHP). Menurutnya, koordinasi kedua perusahaan berlangsung intensif lantaran sama-sama merupakan badan usaha di bawah Danantara.

"Jadi riset bersama kemudian untuk pemanfaatan SHP. SHP dan tin slag-nya. Kami sudah menandatanganinya kan beberapa bulan yang lalu mungkin kalau diingat ya dengan Timah. Sekarang lagi ongoing, bersama tim kami kemudian dari PT Timah," tandasnya.

Baca Juga: Catat Keuntungan Investasi, Multi Garam Utama (FOLK) Berbalik Cetak Laba

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News