Permintaan AS & Jepang mengerek harga batubara



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga batubara terus memanas. Rabu (1/11), harga batubara Newcastle untuk kontrak pengiriman December 2017 di Bursa ICE berada di posisi tertinggi US$ 98,60 per ton.

Komoditas ini terakhir mencapai level tersebut pada Juni 2013. Rencana Amerika Serikat (AS) yang ingin meningkatkan produktivitas pembangkit listrik dari batubara dan tenaga nuklir menjadi sentimen besar.

Mengutip Bloomberg, regulator energi AS menyatakan lebih memilih menggunakan batubara ketimbang gas alam. Menteri Energi AS Rick Perry berencana untuk meningkatkan pembangkit listrik tenaga batubara dan nuklir. Langkah ini disambut oleh ketua Komisi Pengaturan Energi Federal (FERC) AS.


Batubara dan nuklir "Adalah sumber bahan bakar non-interruptible yang kuat, lebih tahan terhadap cuaca ekstrem daripada gas alam," kata Neil Chatterjee, Chairman FERC kepada Bloomberg.

Namun, banyak operator jaringan listrik AS yang kurang setuju dengan rencana tersebut. Bahkan beberapa perusahaan listrik tenaga batubara mendesak komisi energi untuk mengambil pendekatan yang lebih netral dalam memilih sumber bahan bakar.

Selain AS, permintaan batubara dari Jepang juga berpotensi naik. Jepang harus menambah bahan bakar fosil setelah gempa Fukushima 2011 merusak pembangkit listrik tenaga nuklir Jepang. Bahkan, sebelum gempa pun, seperempat pasokan listrik Jepang berasal dari batubara.

Penggunaan batubara untuk listrik di Jepang selama April-September tahun ini naik 0,4% menjadi 28,99 juta ton year on year. Pertumbuhan ini sangat besar dibandingkan konsumsi minyak mentah dan bahan bakar minyak yang malah turun 48% dan LNG juga turun 8% yoy.

Menurut perkiraan Bloomberg New Energy Finance, permintaan batubara dari Jepang bisa meningkat menjadi 38% pada 2030. Angka ini lebih tinggi ketimbang prediksi pemerintah Jepang dengan kenaikan 26% pada periode yang sama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati