KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Batubara Acuan (HBA) berkalori tinggi terkoreksi 0,95% menjadi US$ 125,60 per ton pada periode pertama November 2026. Sebaliknya, HBA untuk batu bara berkalori menengah dan rendah justru mengalami kenaikan hingga 4,81%. Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar menilai, pergerakan tersebut mencerminkan dinamika permintaan batu bara yang berbeda berdasarkan kualitas kalorinya. "Dengan posisi HBA tersebut menunjukkan permintaan terhadap batubara kalori menengah dan rendah relatif lebih kuat," ujar Bisman kepada Kontan, Rabu (4/11).
Baca Juga: Avian Brands (AVIA) Kantongi Pengakuan KPPU, Masa Berlaku hingga Lima Tahun Sebagai informasi, HBA I untuk batu bara berkalori 5.300 kilokalori per kilogram GAR ditetapkan sebesar US$ 97,85 per ton, naik 4,52% dibandingkan periode sebelumnya. Adapun HBA II dengan kalori 4.100 kilokalori per kilogram GAR naik 4,81% menjadi US$ 69,28 per ton. Sementara itu, HBA III untuk batu bara berkalori 3.400 kilokalori per kilogram GAR meningkat 2,44% menjadi US$ 46,64 per ton. Bisman menjelaskan, kenaikan harga batu bara berkalori menengah dan rendah tidak terlepas dari pergeseran permintaan ke jenis batu bara yang lebih ekonomis untuk kebutuhan pembangkit listrik, terutama di pasar Asia. Di samping itu, penguatan harga juga dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan batu bara Indonesia seiring kebijakan pengendalian produksi. Menurut Bisman, kondisi tersebut berpotensi menguntungkan produsen batu bara domestik. Pasalnya, sebagian besar produksi batu bara Indonesia berada pada kategori kalori menengah dan rendah yang masih dibutuhkan oleh sejumlah negara di Asia. "Kenaikan HBA berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata dan margin keuntungan perusahaan, sepanjang kenaikan harga tersebut dapat diteruskan dalam kontrak penjualan dan tidak diimbangi lonjakan biaya produksi," kata Bisman. Dari sisi permintaan, Bisman melihat sudah ada indikasi peningkatan kebutuhan batu bara menjelang musim dingin. Aktivitas impor, khususnya di China, juga mulai menunjukkan peningkatan, meskipun belum terjadi lonjakan permintaan secara merata. "Namun, stok domestik, produksi sendiri, dan kondisi cuaca musim dingin akan sangat menentukan besarnya permintaan tambahan," ujar Bisman. Ke depan, Bisman memperkirakan harga batu bara berkalori menengah dan rendah masih berpeluang menguat secara moderat hingga akhir tahun. Namun, ia menilai kenaikan tersebut belum akan berlangsung secara tajam.
Meski demikian, pelaku usaha tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko yang dapat menekan kinerja perusahaan tambang. Risiko tersebut antara lain perubahan kebijakan produksi dan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), ketidakpastian permintaan dari China dan India, gangguan cuaca dan logistik, hingga kenaikan biaya operasional. Selain itu, volatilitas harga batu bara dan perubahan kebijakan
Domestic Market Obligation (DMO) juga perlu menjadi perhatian perusahaan tambang.
Baca Juga: Impor Melaju 19,67%, Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Tertekan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News