KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan kebutuhan energi India berpotensi menjadi angin segar bagi kinerja emiten batu bara Indonesia. Pertumbuhan permintaan impor dari salah satu pasar utama tersebut dapat membuka peluang peningkatan volume penjualan sekaligus menopang harga batu bara di pasar global. India menjadi salah satu tujuan penting bagi ekspor batu bara Indonesia. Meningkatnya kebutuhan listrik dan aktivitas pembangkit di negara tersebut berpotensi mendorong impor batu bara, sehingga memberikan peluang tambahan bagi produsen batu bara nasional untuk meningkatkan penjualan.
Analis menilai, kenaikan permintaan dari India dapat menjadi katalis positif, terutama bagi emiten yang memiliki eksposur ekspor cukup besar ke negara tersebut. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, mengatakan kenaikan permintaan impor batu bara India berpotensi memberikan dampak positif bagi emiten batu bara Indonesia. Selain mendorong volume ekspor, peningkatan permintaan juga dapat menopang harga jual apabila pasokan batu bara di pasar seaborne tidak mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan. "Dampaknya bisa terlihat dari kenaikan volume, selling price, dan margin apabila terjadi pengetatan pasokan seaborne," ujar Sukarno.
Baca Juga: Permintaan India dan Gangguan Pasokan Menopang Harga Batubara Berdasarkan data yang disampaikan Sukarno, sejumlah emiten batu bara Indonesia memiliki eksposur terhadap pasar India. Eksposur AADI tercatat sekitar 18% dari pendapatan, HRUM sekitar 17%, BYAN sekitar 11%, PTBA sekitar 7%, GEMS sekitar 6%, DSSA sekitar 5%, dan ITMG sekitar 4%. Namun, angka tersebut perlu dicermati dengan melihat cakupan pasar masing-masing emiten. Pada HRUM dan BYAN, misalnya, angka eksposur tersebut juga mencakup penjualan ke negara lain sehingga tidak seluruhnya berasal dari pasar India. Di antara emiten tersebut, AADI tercatat memiliki eksposur terbesar terhadap India. Sukarno menyebut penjualan AADI ke India pada kuartal II-2026 telah pulih sekitar 28% secara kuartalan. Besarnya eksposur terhadap India membuat kenaikan permintaan berpotensi memberikan dampak lebih cepat bagi emiten yang memiliki porsi penjualan spot lebih besar. Apabila peningkatan permintaan diikuti kenaikan harga batu bara, average selling price (ASP) berpotensi meningkat dan memberikan tambahan ruang terhadap margin perusahaan. Senior Technical Analyst, M. Nafan Aji Gusta, juga melihat kenaikan permintaan India sebagai katalis positif bagi emiten batu bara Indonesia. Menurut Nafan, dampak positif tersebut akan lebih terasa bagi produsen yang memiliki eksposur ekspor besar, volume produksi tinggi, biaya produksi kompetitif, serta fleksibilitas dalam mengalihkan penjualan ke pasar India. Nafan menilai PTBA dan ITMG menjadi dua emiten yang menarik untuk dicermati dari sisi tersebut. PTBA berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan volume ekspor, sementara ITMG memiliki fleksibilitas untuk mengoptimalkan pasar dan bauran penjualannya. Sementara itu, AADI juga memiliki keunggulan dari sisi skala produksi dan diversifikasi pasar. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk menyesuaikan tujuan ekspor apabila permintaan batu bara dari India meningkat.
ADMR Punya Eksposur Batu Bara Metalurgi ke India
Dari sisi emiten, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) juga mencatat kontribusi pasar India yang cukup signifikan. Head of Corporate Communication PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, Karina Novianti, menyebut penjualan ekspor batu bara metalurgi ke India mencapai 17% hingga semester I-2026. Karina menyatakan terus memantau kondisi pasar batu bara metalurgi, termasuk permintaan India yang diperkirakan meningkat seiring rencana peningkatan kapasitas industri baja di negara tersebut. Kondisi tersebut menjadi penting bagi ADMR karena perseroan bergerak di bisnis batu bara metalurgi yang memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan industri baja. Dengan demikian, peningkatan kapasitas produksi baja India berpotensi membuka ruang pertumbuhan permintaan batu bara metalurgi dari Indonesia.
Baca Juga: Harga Minyak WTI Berpotensi Volatil di Tengah Risiko Gangguan Hormuz Produksi Domestik India Jadi Risiko
Meski berpotensi menjadi katalis positif, peningkatan permintaan impor India bukan tanpa risiko. Nafan memperkirakan permintaan dari India masih berpotensi berlanjut hingga 2027, tetapi pertumbuhannya tidak selalu bergerak secara linear. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah peningkatan produksi batu bara domestik India. Apabila produksi dalam negeri mampu memenuhi porsi kebutuhan pembangkit yang lebih besar, ketergantungan India terhadap impor batu bara berpotensi kembali menurun. Selain produksi domestik India, pergerakan harga batu bara juga tetap menjadi faktor utama yang menentukan kinerja emiten. Kebijakan produksi Indonesia, perkembangan permintaan China, biaya produksi, serta kondisi pasokan global akan turut menentukan apakah peningkatan permintaan India dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.
Dengan demikian, kenaikan impor batu bara India memberikan katalis tambahan bagi emiten batu bara Indonesia. Namun, besarnya manfaat yang diterima masing-masing emiten akan berbeda, tergantung pada eksposur India, volume produksi, struktur biaya, serta fleksibilitas pasar. Emiten dengan eksposur India yang besar, volume produksi tinggi, biaya produksi kompetitif, dan diversifikasi pasar yang baik berpeluang menjadi pihak yang paling diuntungkan apabila tren peningkatan permintaan impor India terus berlanjut. Di sisi lain, investor tetap perlu mencermati perkembangan produksi batu bara domestik India dan dinamika harga batu bara global. Kedua faktor tersebut akan menjadi penentu penting bagi keberlanjutan permintaan impor India hingga tahun depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News