Permintaan CPO menyusut, laju harga bisa tersendat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) kembali bergerak naik mengikuti pergerakan substitusinya, yakni minyak kedelai. Namun, laju harga minyak sawit hingga akhir tahun diprediksi akan tersendat.

Pada Jumat (20/10) harga CPO di Malaysia Derivative Exchange kontrak pengiriman Januari 2018 menguat 0,66% jadi RM 2.741 per metrik ton. Namun jika dibandingkan dengan akhir pekan sebelumnya, harga terpangkas 0,58%. "Kenaikan harga CPO ini dipengaruhi adanya kenaikan harga minyak nabati atau kedelai dan juga meningkatnya ekspor CPO di Malaysia," ujar Research & Analyst Monex Investindo Futures Faisyal, akhir pekan lalu.

Intertek mencatat, ekspor CPO Malaysia yang mereka tangani di periode 1-20 Oktober 2017 meningkat 11,6% menjadi 951.339 ton. Sebelumnya, di periode yang sama pada September lalu, ekspor CPO sebesar 852.206 ton.


Selain itu, pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dollar Amerika Serikat (AS) juga menjadi katalis positif. Dengan melemahnya ringgit, harga CPO pun menjadi cenderung murah dan diburu oleh pelaku pasar.

Di sisi lain, Research & Analyst Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan, data yang disampaikan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan, ekspor CPO Indonesia untuk periode September turun menjadi 2,69 juta ton dibanding bulan sebelumnya sebanyak 2,71 juta ton. "Menyusutnya permintaan CPO masih menjadi sentimen yang negatif bagi harga," kata Deddy.

Menurut Deddy, penyusutan permintaan ini terjadi karena festival Diwali di India telah usai. Selain itu, India juga menaikkan pajak impor CPO menjadi 15%, sehingga menahan laju kenaikan permintaan. Melihat itu, Deddy meramalkan hingga akhir tahun harga CPO masih sulit menembus RM 2.800 per metrik ton.

Faisyal juga punya pendapat serupa. Ia menilai kenaikan harga CPO terbatas karena secara fundamental permintaan di kuartal IV tahun ini akan turun setelah festival Diwali di India selesai. Dus, harga minyak sawit tidak akan menguat terlalu tinggi.

Ia memprediksi harga CPO hanya akan menyentuh area RM 2.800 per metrik ton di akhir tahun ini. "Tapi kalau dollar AS terus menguat, ada kemungkinan harga bisa melaju karena ringgitnya semakin murah," ujar Faisyal.

Sentimen negatif

Secara fundamental,Deddy menyebut, harga CPO masih dibayangi banyak katalis negatif hingga akhir tahun. Selain faktor penurunan permintaan pasca festival Diwali, kenaikan produksi kedelai di AS turut membebani prospek harga CPO. "Adanya proyeksi kenaikan panen kedelai di AS bisa menghambat laju harga CPO," ungkap Deddy.

Perkebunan kedelai di AS bertambah menjadi 8 juta hektare, sehingga hasil produksinya juga akan meningkat. Dengan begitu, harga minyak kedelai akan menjadi murah. Hal ini berpotensi turut menekan harga CPO. Karena harga murah, maka pasar akan cenderung membeli minyak kedelai ketimbang membeli CPO.

Secara teknikal, Deddy melihat harga CPO saat ini bergerak di bawah indikator moving average (MA) 50, tetapi masih di atas MA100 dan MA200. Indikator relative strength index (RSI) berada di area 51 dan cenderung menguat. Sedang, stochastic dan moving average convergence divergence (MACD) masing-masing berada di area overbought di level 80 dan area negatif.

Prediksi Deddy, harga minyak sawit hari ini akan cenderung konsolidasi di level RM 2.700–RM 2.770. Sepekan ke depan, harga akan bergerak di kisaran RM 2.660–RM 2.810 per metrik ton.

Sedang Faisyal memprediksi, harga CPO hari ini berpeluang menguat dan bergerak di level RM 2.700RM 2.750 per metrik ton. Sepekan ke depan, jika dollar AS masih bertenaga, maka harga masih berpeluang menguat dan bergerak antara RM 2.650–RM 2.800 per metrik ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati