KONTAN.CO.ID - Permintaan ekspor minyak sawit untuk pengiriman baru mulai melambat setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran mendorong kenaikan biaya logistik dan asuransi, menurut asosiasi produsen sawit Indonesia, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Rabu (11/3/2026). Indonesia merupakan eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Komoditas ini digunakan secara luas dalam produk makanan, kosmetik, hingga produk pembersih, dan menyumbang lebih dari setengah perdagangan minyak nabati global. Permintaan juga banyak datang dari negara berkembang seperti India. Baca Juga: Permintaan Diproyeksikan Tumbuh, PGN Targetkan Volume Niaga Gas 877 BBTUD pada 2026
Permintaan Ekspor Sawit Melambat akibat Konflik Timur Tengah, Biaya Logistik Melonjak
KONTAN.CO.ID - Permintaan ekspor minyak sawit untuk pengiriman baru mulai melambat setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran mendorong kenaikan biaya logistik dan asuransi, menurut asosiasi produsen sawit Indonesia, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Rabu (11/3/2026). Indonesia merupakan eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Komoditas ini digunakan secara luas dalam produk makanan, kosmetik, hingga produk pembersih, dan menyumbang lebih dari setengah perdagangan minyak nabati global. Permintaan juga banyak datang dari negara berkembang seperti India. Baca Juga: Permintaan Diproyeksikan Tumbuh, PGN Targetkan Volume Niaga Gas 877 BBTUD pada 2026