Permintaan Emas di Indonesia Meroket, Bagaimana Prospek hingga Akhir Tahun?



KONTAN.CO.ID - Pasar investasi emas di Indonesia mencatatkan kinerja terkuat secara global pada kuartal kedua 2026 di tengah fase konsolidasi harga emas dunia.

Berdasarkan laporan Gold Demand Trends Q2 2026 dari World Gold Council (WGC) yang dirilis pada Jumat (31/7/2026), permintaan emas batangan dan koin di Indonesia melonjak 40% secara year on year (YoY) menjadi 15 ton.

Menurut Trading Economics per 31 Juli, harga emas (Gold USD/t.oz) berada di level US$ 4.042,97 per ons troi, melemah 1,47% secara harian dan mencatatkan koreksi year to date (YtD) sebesar 6,41%.


Di tengah pelandaian harga setelah sempat mencetak rekor pada awal tahun, lonjakan permintaan domestik tersebut mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen pelindung nilai (safe haven).

Baca Juga: Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing di Pekan Terakhir Bulan Juli 2026

Kinerja Pasar Emas Indonesia dan Tren Permintaan Global Q2 2026

Berapa besar kenaikan permintaan emas di Indonesia pada kuartal kedua 2026?

  • Lonjakan Domestik: Permintaan emas batangan dan koin di Indonesia naik 40% YoY mencapai 15 ton pada kuartal kedua 2026.

  • Stabilitas Global: Total permintaan emas global relatif stabil di level 1.269 ton, sementara kumulatif semester pertama (H1) 2026 meningkat 2% YoY menjadi 2.522 ton senilai US$ 380 miliar.

  • Sektor Perhiasan: Permintaan perhiasan global turun 17% YoY menjadi 278 ton, sejalan dengan penurunan permintaan perhiasan di Indonesia sebesar 10% YoY yang mencatatkan koreksi selama 13 kuartal berturut-turut.

Secara global, total permintaan emas pada kuartal kedua 2026 relatif stabil di level 1.269 ton. Hal ini terjadi seiring penurunan tipis permintaan emas batangan dan koin dunia sebesar 3% YoY menjadi 307 ton.

Meski demikian, secara kumulatif pada semester pertama (H1) 2026, permintaan emas global masih meningkat 2% YoY menjadi 2.522 ton dengan nilai mencapai US$ 380 miliar.

Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks di World Gold Council, Shaokai Fan, menilai ketahanan pasar Indonesia didorong oleh perubahan perilaku investor yang semakin matang.

"Alih-alih sekadar merespons fluktuasi harga jangka pendek, semakin banyak investor di Indonesia yang memandang emas sebagai aset strategis untuk jangka panjang, terutama di tengah berlanjutnya pelemahan rupiah dan ketidakpastian prospek ekonomi domestik," jelas Shaokai, Jumat (31/7/2026).

Baca Juga: Asing Net Buy Rp 5,99 Triliun, Cek Saham yang Banyak Diborong Sepekan Terakhir

Faktor Pendorong Pasar Emas Global dan Prospek Investasi ke Depan

Apa saja faktor utama yang memengaruhi tren pasar emas global dan domestik?

  • Aksi Bank Sentral: Pembelian emas oleh bank sentral dunia meningkat 62% YoY pada kuartal kedua menjadi 289 ton, dipimpin oleh Polandia dan Tiongkok.

  • Sektor Teknologi: Permintaan emas dari sektor teknologi naik 2% YoY menjadi 80 ton, didorong kebutuhan semikonduktor berteknologi tinggi dan infrastruktur Artificial Intelligence (AI).

  • Pasokan Stabil: Total suplai emas global pada kuartal kedua stabil di level 1.269 ton, ditopang kenaikan produksi tambang 2% YoY menjadi 966 ton.

Kinerja pasar emas global saat ini dipengaruhi oleh dinamika ekonomi makro, kebijakan moneter, serta aksi akumulasi cadangan resmi.

Pembelian emas oleh bank sentral dunia kembali meningkat 62% YoY pada kuartal kedua menjadi 289 ton. Polandia dan Tiongkok menjadi dua negara yang memimpin pembelian tersebut sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.

Di sisi lain, sektor perhiasan global masih menghadapi tekanan akibat tingginya harga emas, sementara sektor teknologi meningkat berkat kebutuhan semikonduktor dan infrastruktur AI.

Di tengah volatilitas pasar dan pelemahan nilai tukar rupiah, investor disarankan memperkuat porsi aset lindung nilai dalam portofolio investasi jangka panjang.

Pembelian emas batangan dan koin secara disiplin dinilai menjadi strategi yang realistis untuk menjaga daya beli aset.  Selain itu, langkah Pemerintah Indonesia meluncurkan Roadmap Ekosistem Bulion diyakini akan memberikan kepastian hukum sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap produk investasi emas.

Baca Juga: Didukung Historis Positif, Ruang Penguatan IHSG dan Kompas 100 Masih Terbuka

Senior Markets Analyst World Gold Council, Louise Street, mengingatkan bahwa investor perlu mencermati sejumlah faktor yang akan memengaruhi pasar pada paruh kedua tahun ini.

"Sementara itu, ETF emas di pasar Barat akan lebih dipengaruhi oleh imbal hasil riil, ekspektasi kebijakan moneter AS, serta pergerakan dolar AS," terang Louise.

Memasuki paruh kedua 2026, aktivitas perdagangan investasi di luar bursa resmi (over-the-counter atau OtC) serta tingginya minat investor di kawasan Asia diproyeksikan menjadi pendorong utama pasar emas.

Dari sisi pasokan, total suplai emas pada kuartal kedua relatif stabil di level 1.269 ton. Kenaikan produksi tambang sebesar 2% YoY menjadi 966 ton mampu mengimbangi penurunan pasokan emas daur ulang sebesar 6% YoY.

Dengan ketidakpastian geopolitik global yang masih berlanjut, prospek penguatan harga emas dalam jangka menengah dinilai tetap terbuka, menjadikan logam mulia ini sebagai salah satu aset pelindung nilai yang menarik bagi investor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News