Permintaan Emas Perhiasan Tertekan, Hartadinata (HRTA) Andalkan Ekspor ke UEA



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingginya harga emas masih menjadi tantangan bagi industri perhiasan emas di Indonesia. Kondisi tersebut membuat konsumen lebih selektif dalam berbelanja, termasuk memilih produk dengan gramasi yang lebih ringan dan harga yang lebih terjangkau.

Tekanan permintaan ini tercermin dalam laporan Gold Demand Trends Q3 2026 yang dirilis World Gold Council (WGC). WGC mencatat, permintaan emas untuk perhiasan di Indonesia pada kuartal III-2026 mencapai 3,1 ton, turun 18% secara tahunan dari 3,8 ton pada kuartal III-2025.

Direktur Investor Relations PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) Thendra Crisnanda mengatakan, kondisi tersebut turut memengaruhi daya beli dan pola pembelian konsumen domestik.


"Secara umum, permintaan emas perhiasan domestik mengalami tekanan seiring tingginya harga emas, sebagaimana tercermin dalam data World Gold Council," ujar Thendra kepada Kontan, Rabu (4/11/2026).

Baca Juga: Antam (ANTM) Sambut Bursa Mineral dan Komoditas Strategis

Meski demikian, HRTA berupaya menjaga pertumbuhan penjualan dengan melakukan diversifikasi pasar. Salah satunya melalui ekspor perhiasan emas ke Uni Emirat Arab (UEA) yang kembali dimulai sejak September 2026.

Menurut Thendra, langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pemulihan volume penjualan perhiasan pada kuartal IV-2026. Ekspansi pasar ekspor menjadi salah satu strategi perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap permintaan domestik yang masih menghadapi tekanan.

Konsumen Pilih Gramasi Ringan

Di sisi lain, tingginya harga emas turut mengubah perilaku konsumen. HRTA melihat konsumen semakin selektif dalam menentukan produk yang dibeli.

Thendra mengatakan, konsumen cenderung memilih perhiasan dengan gramasi lebih ringan dan harga yang lebih terjangkau. Meski demikian, preferensi terhadap desain dan kualitas produk tetap menjadi pertimbangan dalam pembelian.

Perubahan pola konsumsi tersebut sejalan dengan temuan WGC. Dalam laporan yang sama, WGC menyebut konsumen di sejumlah negara Asia Tenggara mulai menyesuaikan pembelian perhiasan dengan memilih produk berbobot lebih ringan atau berkadar emas lebih rendah untuk menghadapi tekanan keterjangkauan harga.

Selain fungsi sebagai perhiasan, konsumen juga semakin memperhatikan emas sebagai instrumen investasi. Menurut Thendra, nilai intrinsik dan likuiditas produk turut menjadi pertimbangan dalam keputusan pembelian.

"Di tengah harga emas yang tinggi, konsumen cenderung semakin selektif dalam melakukan pembelian," kata Thendra.

Baca Juga: Harga Batubara Kalori Menengah dan Rendah Menguat, Ini Prospek hingga Akhir 2026

Andalkan Pasar Ekspor

Untuk menjaga pertumbuhan bisnis, HRTA menyiapkan sejumlah strategi hingga 2027. Perusahaan tetap optimistis terhadap prospek bisnis perhiasan emas dalam jangka menengah dan panjang meski permintaan domestik masih dipengaruhi oleh pergerakan harga emas.

Thendra mengatakan, strategi HRTA akan difokuskan pada inovasi produk, optimalisasi jaringan distribusi, peningkatan produktivitas gerai, serta ekspansi pasar ekspor.

Pasar Uni Emirat Arab (UEA) menjadi salah satu fokus perusahaan setelah ekspor perhiasan emas kembali dilakukan sejak September 2026.

Dengan strategi tersebut, HRTA menargetkan pertumbuhan volume penjualan secara berkelanjutan. Pertumbuhan diharapkan berasal dari pemulihan permintaan domestik sekaligus peningkatan kontribusi pasar internasional.

Sementara itu, WGC mencatat tekanan permintaan emas perhiasan juga terjadi di sejumlah negara ASEAN pada kuartal III-2026. Permintaan di Malaysia turun 21% menjadi 1,8 ton, Singapura turun 17% menjadi 1,1 ton, dan Thailand turun 10% menjadi 1,9 ton.

Kondisi tersebut menunjukkan tingginya harga emas menjadi tantangan bagi industri perhiasan di kawasan, meski nilai penjualan masih berpotensi bertahan seiring kenaikan harga emas.

Baca Juga: Penjualan SMSM Naik 6,74% hingga September 2026, Pasar Domestik Jadi Penopang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News