Permintaan Global Menguat, Harga Logam Industri Naik pada Awal 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Memasuki awal 2026, pasar komoditas logam industri berada dalam fase yang dinamis seiring menguatnya permintaan global dari sektor strategis, mulai dari kendaraan listrik (electric vehicle/EV), baterai, energi hijau, hingga pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan data center.

Mengutip Trading Economics, pada Selasa (27/1/2026) pukul 15.45 WIB harga aluminium naik 7,66% secara bulanan di level US$ 3.164 per ton. Kemudian harga timah naik 32,70% ke level US$ 56.816 per ton. Ada pun harga nikel juga meningkat 17,27% menjadi US$ 18.495 per ton.

Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai, tren tersebut memberikan dukungan signifikan terhadap harga aluminium, timah, dan nikel. Namun, pergerakan harga tetap dipengaruhi oleh kombinasi faktor permintaan, pasokan, serta sentimen makro global.


“Permintaan dari EV, energi hijau, dan infrastruktur AI saat ini menjadi motor utama pasar logam industri,” ujar Wahyu kepada Kontan, Selasa (27/1/2026).

Baca Juga: Dolar AS Melemah, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.768 per Dolar AS

Untuk aluminium dan nikel, kebutuhan masih solid seiring penggunaan aluminium sebagai material ringan pada body kendaraan listrik serta peran nikel dalam katoda baterai berkapasitas tinggi.

Selain itu, lonjakan pembangunan data center global turut meningkatkan konsumsi aluminium, terutama untuk sistem pendingin dan struktur bangunan.

Sementara itu, timah mendapat dorongan kuat dari sektor teknologi. Perkembangan AI meningkatkan kebutuhan semikonduktor dan papan sirkuit (printed circuit board/PCB) yang menggunakan timah sebagai bahan solder utama. Kondisi ini menempatkan timah dalam posisi strategis di tengah siklus pertumbuhan teknologi.

Di sisi pasokan, kebijakan pembatasan produksi nikel oleh Indonesia untuk menjaga stabilitas harga dengan target di kisaran US$ 19.000 - US$ 20.000 per ton menjadi faktor penyangga utama. Upaya China menekan over-capacity logam industri juga turut menopang keseimbangan pasar.

Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat memberikan dampak ganda bagi pasar komoditas. Wahyu menilai pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor positif bagi harga logam industri, mengingat komoditas diperdagangkan dalam mata uang dolar.

“Ketidakpastian kebijakan moneter AS dan arah kebijakan yang pro pasar cenderung menekan dolar AS. Ini secara otomatis mendorong harga komoditas,” jelasnya.

Baca Juga: BUVA Hingga IRSX Incar Dana Jumbo Lewat Rights Issue, Intip Prospek Sahamnya

Sentimen risk-on juga masih terlihat, didukung ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar serta dukungan terhadap suku bunga rendah.

Meski demikian, risiko koreksi harga tetap membayangi, terutama jika kekhawatiran perang dagang kembali meningkat atau pertumbuhan ekonomi global melambat lebih dalam dari perkiraan.

Selain itu, risiko resesi di sejumlah negara maju serta meningkatnya biaya logistik akibat gangguan jalur perdagangan utama, seperti Laut Merah, berpotensi menjadi sentimen negatif bagi logam industri di awal tahun.

Terkait strategi investasi, Wahyu menekankan bahwa logam industri memiliki volatilitas lebih tinggi dibanding logam mulia. Meski demikian, pergerakannya kerap mengikuti tren kenaikan emas, terutama pada fase bullish komoditas global.

Investor disarankan menerapkan strategi diversifikasi dengan mengombinasikan aset defensif seperti emas dan aset yang lebih agresif seperti perak atau tembaga. Selain itu, masuk secara bertahap saat terjadi koreksi teknikal dinilai lebih bijak di tengah potensi volatilitas kuartal pertama.

Tak hanya itu saja, Wahyu juga mengingatkan pentingnya mencermati kebijakan domestik Indonesia, khususnya terkait ekspor dan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), mengingat peran Indonesia yang besar di pasar nikel dan timah global.

Untuk kuartal I-2026, Wahyu memperkirakan harga aluminium bergerak di kisaran US$ 2.450 - US$ 4.000 per ton, timah di rentang US$ 28.000 - US$ 70.000 per ton, dan nikel di kisaran US$ 15.000 - US$ 40.000 per ton.

Selanjutnya: Dolar AS Melemah, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.768 per Dolar AS

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Rabu 28 Januari 2026, Energi Emosional

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News